RADARTUBAN - Panggung Lomba Debat Indonesia (LDI) tingkat Kabupaten Tuban tahun 2025 menjadi saksi lahirnya kejutan dari tim underdog.
Tanpa latar belakang sebagai orator, Tata Nilam Wijayanti, Khairunnisa Aqillah, dan Laysa Naylufaz Zahroh berhasil membuktikan bahwa keberanian mencoba jauh lebih berharga daripada bakat yang terpendam.
SEMUA bermula dari sebuah penunjukan mendadak. Tanpa seleksi panjang, tanpa pengalaman sebelumnya.
Nilam, Khairunnisa, dan Laysa diminta guru pembimbing mewakili SMAN 3 Tuban dalam LDI tingkat kabupaten. Bagi ketiganya, keputusan itu datang terlalu cepat dan terasa terlalu berat.
Debat bukan dunia yang mereka kenal. Bahkan, jauh dari bayangan. Rasa bangga belum sempat tumbuh, yang muncul justru keraguan.
“Awalnya saya benar-benar menolak. Saya sama sekali tidak tahu seperti apa dan bagaimana sistem debat,” kenang Nilam saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Namun, kesempatan tidak datang dua kali. Nilam memilih berhenti sejenak, menimbang antara tetap di zona nyaman atau melangkah dengan penuh tantangan.
“Kemudian saya berpikir, kalau tidak mencoba sekarang, saya tidak akan pernah tahu potensi diri sendiri. Akhirnya saya putuskan untuk memberanikan dini,” tuturnya.
Keputusan itu mempertemukannya dengan Khairunnisa dan Laysa. Tiga siswi dengan perasaan serupa: merasa sebagai pendatang baru di arena yang menuntut keberanian, ketajaman berpikir, dan mental yang kuat.
Di hadapan mereka berdiri 12 tim lain—mayoritas berpengalaman, terbiasa beradu argumen, dan berpikir kritis.
“Jelas ada perasaan minder yang sangat besar saat itu,” ujar Khairunnisa.
Namun, mereka tidak membiarkan rasa minder terlalu lama. Setelah memastikan diri ikut dalam LDI 2025, ketiganya menjalani hari-hari yang padat dengan latihan rutin.
Mereka segera menyadari bahwa debat bukan sekadar berbicara lantang atau menyanggah lawan.
“Berdebat memang sesulit itu, karena mulai dari skill public speaking, pemikiran kritis, sampai dengan kerja sama tim bahkan skill problem solving itu sangat diasah dan dibutuhkan,” kata Laysa.
Proses itu membuat mereka kaget. Tidak jarang muncul keinginan untuk mundur. Tekanan mental, tuntutan materi, dan rasa lelah datang bersamaan.
“Tapi berkat dukungan dari guru pembimbing dan orang tua, akhirnya kami memutuskan untuk terus maju. Kami bertiga memegang prinsip yang sama saat itu, berani mencoba dan berani belajar,” tutur Khairunnisa.
Selama sebulan penuh, mereka bergulat dengan waktu. Nilam harus membagi peran sebagai pengurus OSIS dan kesibukan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Khairunnisa dan Laysa pun bergulat dengan tugas dan kegiatan lain di sekolah.
“Tidak jarang kami harus pulang sekolah lebih sore karena biasanya kami latihan sepulang sekolah agar mendapatkan hasil maksimal,” ujar Nilam.
Saat hari perlombaan tiba di SMAN 1 Tuban, Juli 2025, rasa gugup tak sepenuhnya hilang. Namun, latihan perlahan menjelma menjadi kepercayaan diri.
Di hadapan dewan juri, mereka tampil bukan lagi sebagai siswi ragu-ragu, melainkan tim yang solid, mampu membangun argumen, memahami mosi, dan bekerja sebagai satu kesatuan.
Mereka melaju melewati tiga babak awal, menumbangkan sepuluh tim. Langkah mereka terhenti di semifinal. SMAN 1 dan SMKN 1 melaju ke final. Sementara SMAN 3 Tuban harus puas di posisi ketiga.
“Jujur kami tidak menyangka sama sekali bisa meraih juara tiga saat itu. Mengingat lawan-lawan kami yang luar biasa hebat dan pemikirannya sangat kritis, sedagkan kami cuma tim pemula,” kata Nilam.
Namun, capaian itu bukan sekadar piala perunggu dan piagam. Ada sesuatu yang tumbuh lebih dalam. Pengalaman, ketahanan mental, dan keberanian untuk percaya pada diri sendiri.
Perubahan itu terasa hingga ke keseharian. Kepercayaan diri mereka meningkat. Kemampuan berbicara di depan umum menjadi lebih matang, baik saat presentasi kelas maupun ketika dipercaya memandu acara organisasi.
Di balik teknis debat yang kompleks, Laysa menegaskan satu fondasi utama.
“Tanpa percaya diri, pemaparan argumen secerdas apapun tidak akan tersampaikan secara maksimal kepada juri,” ujarnya, dibenarkan Nilam.
Bagi mereka, debat bukan ajang adu emosi. Justru sebaliknya, latihan berpikir jernih dan mengelola perasaan.
“Banyak yang bilang debater itu emosional. Padahal, itu salah besar. Dalam debat ada aspek penilaian etika dan kesopanan, jadi kami harus bisa mengelola emosi sebaik mungkin,” kata Nilam.
Kini, mereka ingin kembali ke panggung yang sama—lebih siap, lebih matang. Sambil berbagi pesan sederhana untuk teman-teman sebayanya.
Dia kemudian berpesan kepada teman-temannya yang takut untuk mencoba atau memulai hal yang baru. Menurut Nilam, jangan takut untuk memulai hal baru.
‘’Kadang yang bikin kita ragu bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita belum berani mencoba. Padahal, siapa tahu justru di situ kita menemukan potensi terbaik diri kita,” ungkapnya.
Untuk memulainya, dia menyarankan untuk satu langkah kecil. Kalau nantinya gagal, itu bukan akhir.
‘’Gagal itu bagian dari proses. Dari situ kita bisa evaluasi, belajar, dan tumbuh jadi versi diri yang lebih kuat,” sambung Khairunnisa.
“Jangan takut untuk memulai. Try first, grow later. Kamu tidak akan tahu hal apa saja yang kamu bisa sampai kamu mencobanya sendiri. Jadi jangan takut dan ragu untuk mencoba,” tutup Laysa.(*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama