RADARTUBAN - Ketika Nasrudin, 45, bersama istrinya, Hariyati, menyetorkan 13 kaleng biskuit berisi uang logam ke kantor Bank Syariah Indonesia (BSI) Tuban, Rabu (4/2) pagi, total tabungan yang terkumpul mencapai Rp 56 juta.
Namun, tidak semua koin dapat diterima. Sejumlah uang logam senilai sekitar Rp 500.000 terpaksa dikembalikan karena sudah berkarat dan sulit dikenali nominalnya.
Koin-koin yang dikembalikan itu tampak kusam. Sebagian menghitam. Selebihnya, nyaris tak lagi memperlihatkan angkanya. Alih-alih kecewa, Nasrudin justru memaknainya sebagai awal baru dalam perjalanan panjang menabung yang telah dia jalani lebih dari satu dekade.
“Saya bawa pulang. Saya cuci bersih, lalu saya masukkan lagi ke kaleng. Saya lanjutkan lagi,” ujar Nasrudin saat ditemui di kediamannya, RT 04 RW 17 Dusun Morosemo, Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang itu.
Bagi pria yang bekerja sebagai satpam itu, koin yang ditolak bank bukanlah kegagalan. Dia justru melihatnya sebagai pengingat bahwa perjuangannya belum selesai.
Keinginan menunaikan ibadah haji telah lama dia tanamkan, bukan melalui simpanan besar atau setoran bulanan bernilai jutaan rupiah, melainkan dari keping demi keping uang logam pecahan Rp 1.000.
Setelah setoran awal tersebut, Nasrudin menyadari biaya haji yang harus dia kumpulkan masih jauh dari cukup.
Selain kekurangan sekitar Rp 50 juta untuk pendaftaran, dia juga harus menyiapkan dana pelunasan sekitar Rp 35 juta.
Angka yang bagi sebagian orang terasa berat. Namun, Nasrudin memilih kembali pada cara yang selama ini dia yakini: menabung perlahan.
Koin-koin sisa pengembalian bank menjadi “modal” pertama untuk putaran tabungan berikutnya.
Dia mencucinya satu per satu, menjemurnya, lalu memasukkannya kembali ke kaleng biskuit yang sama. “Biar sedikit, yang penting jalan,” katanya.
Pilihan menabung menggunakan uang logam bukan tanpa alasan. Bagi Nasrudin, cara itu sekaligus menjadi tantangan bagi dirinya sendiri.
Dia ingin membuktikan bahwa dari sesuatu yang dianggap receh, mimpi besar bisa diwujudkan. “Sekarang malah semakin bersemangat melanjutkan menabung,” ujarnya.
Kisah Nasrudin tak hanya tentang kegigihan menabung selama sebelas tahun.
Di tengah ikhtiarnya mengumpulkan dana haji, dia tetap rutin menyantuni sekitar 350 duafa dan anak yatim di desanya, setidaknya sekali dalam setahun.
Baginya, berbagi bukan soal menunggu berkecukupan. Berbagi adalah bagian dari perjalanan hidup. “Setiap rezeki yang saya dapatkan, ada hak orang lain di dalamnya,” ucapnya.
Hariyati mengaku salut dengan keteguhan hati suaminya. Dia mendukung penuh niat yang telah dirintis lebih dari satu dekade tersebut.
“Saya kira beliau sedih karena banyak koin yang dikembalikan bank. Ternyata malah semakin semangat menabung lagi,” katanya.
Kini, di sudut rumah sederhana mereka, kaleng biskuit itu kembali terisi. Isinya memang belum seberapa.
Namun, di dalamnya tersimpan harapan yang terus tumbuh—dari koin-koin yang sempat ditolak, lalu dibersihkan, disimpan kembali, dan diyakini akan mengantarkan Nasrudin menuju Tanah Suci. (*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama