RADARTUBAN - Sepuluh tahun mengabdi di pelosok desa dengan fasilitas terbatas, semangat dedikasi Ike Novia Ulva tak pernah surut.
Berangkat dari keprihatinan melihat anak-anak yang kesulitan membaca, dia melampaui perannya sebagai guru taman kanak-kanak (TK) dan menempuh jalan panjang demi memastikan setiap anak memperoleh cahaya literasi sejak dini.
Melalui sebuah gagasan bertajuk Pelita—akronim dari Pengembangan Literasi Numerasi dan Pendampingan Anak Disleksia—Ike, sapaan akrabnya, mengubah kepedulian menjadi gerakan nyata.
Baca Juga: 125 Duta Literasi Pelajar SMP Resmi Diwisuda PWI Tuban
Bukan di ruang kelas berfasilitas lengkap, melainkan di desa pegunungan dengan keterbatasan sarana.
Dia merintis pendekatan pendampingan yang menempatkan anak sebagai pusat perhatian.
Suara Ike di seberang telepon terdengar tenang saat dihubungi melalui WhatsApp, Kamis (12/2) malam. Tuturnya lembut, mencerminkan sosok pendidik yang hangat sekaligus tangguh.
Perempuan asal Desa Ngandong, Kecamatan Grabagan itu baru saja menorehkan prestasi nasional dengan meraih juara III Guru TK Dedikatif dalam ajang Apresiasi GTK 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta, akhir November lalu.
“Awalnya saya ragu ikut karena waktu pengumpulan materi sangat singkat. Saya juga harus mempertimbangkan anak-anak saya yang masih kecil,” ujar Ike.
Keraguan itu perlahan sirna berkat dukungan rekan sejawat dan kepala sekolah tempatnya mengajar.
Dia pun memberanikan diri melangkah, meski harus memikul peran ganda sebagai pendidik sekaligus ibu dari tiga anak.
Karya Pelita yang mengantarkannya ke tingkat nasional lahir dari kegelisahan melihat anak-anak yang masih kesulitan membaca, bahkan hingga usia sekolah menengah. Ike menyadari dirinya bukan spesialis tumbuh kembang anak.
Namun, keterbatasan itu justru mendorongnya untuk terus belajar secara mandiri.
Selama setahun, ia mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari teknik penyaringan awal anak dengan dugaan disleksia, pendampingan ke fasilitas kesehatan, hingga intervensi pembelajaran yang sesuai.
Semua dilakukan dengan biaya, tenaga, dan waktu yang ia tanggung sendiri.
“Walau saya mengajar di desa pelosok, anak-anak di sini tidak boleh tertinggal dari mereka yang belajar dengan fasilitas lengkap di kota,” katanya.
Perjalanan tersebut dijalani di tengah tantangan pribadi. Hidup jauh dari orang tua yang tinggal di Lamongan serta suami yang bekerja di Surabaya, Ike kerap membawa anak-anaknya ke sekolah saat mengajar. Anak sulungnya bahkan bersekolah di lokasi yang sama dengan tempat ia mengabdi.
“Ada saat-saat saya lelah, tetapi profesionalisme sebagai pendidik harus tetap dijaga,” ujarnya.
Dedikasi itu membawanya melewati tahapan seleksi berjenjang. Ia meraih Terbaik I Guru TK Dedikatif tingkat Kabupaten Tuban, berlanjut sebagai Terbaik I tingkat Jawa Timur, hingga akhirnya bersaing dengan perwakilan dari 38 provinsi di tingkat nasional.
“Saya tidak menyangka bisa meraih juara tiga nasional. Di sana kami tidak sekadar bersaing, tetapi berbagi cerita dan pengalaman. Ruang presentasi penuh keheningan dan air mata,” tuturnya.
Bagi Ike, penghargaan tersebut bukan tujuan akhir. Sekembalinya ke Tuban, ia kembali ke ruang kelas dengan semangat yang sama.
Baginya, melihat seorang anak mampu mengeja huruf dengan benar adalah bentuk penghargaan tertinggi.
“Pengorbanan guru mungkin tidak selalu terlihat. Namun, ketulusan akan selalu menemukan jalannya. Teruslah menyalakan lilin, sekecil apa pun, karena kegelapan hanya bisa dikalahkan oleh cahaya,” kata Ike menutup kisahnya. (*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama