Dari Seniman Musik ke Perajin Kriya, Putra Hadi Mulyo Sulap Limbah Alam Jadi Karya Bernilai khas Tuban

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 17 Februari 2026 | 17:05 WIB

 

Putra Hadi Mulyo berfoto bersama karya miniatur pohon siwalan di bengkel kerajinan rumahnya, Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding.
Putra Hadi Mulyo berfoto bersama karya miniatur pohon siwalan di bengkel kerajinan rumahnya, Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding.

RADARTUBAN - Putra Hadi Mulyo tak pernah menyangka bahwa sepinya pertunjukan musik selama pandemi pada 2019 membawanya pada kreasi kerajinan kriya.

Dengan tangan kreatifnya, dia menyulap limbah pohon bogor menjadi sebuah mahakarya estetik yang melambungkan identitas budaya Bumi Ronggolawe.

Suara gesekan daun lontar dengan batang bambu yang telah dihaluskan terdengar ritmis di sebuah bengkel kerajinan di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding.

Aroma kayu menyeruak di ruang sederhana tempat Putra Hadi Mulyo menekuni sebagai perajin sekaligus seniman.

Di sela mengerjakan pesanan ongkek batik, Mul—sapaan Putra Hadi Mulyo—menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Tuban dengan senyum ramah.

Tangannya tak berhenti bekerja, menata bahan-bahan alam yang akan diolah menjadi karya seni.

Mul bukan nama asing di dunia seni. Lulusan seni rupa ini juga dikenal sebagai seniman musik.

Namun, pandemi Covid-19 pada 2019 menjadi titik balik. Pembatasan keramaian membuat panggung musiknya senyap. Di tengah situasi itu, dia dihadapkan pada pilihan bertahan atau menyerah.

“Jujur, saat itu saya benar-benar blank. Bagaimana caranya tetap menghasilkan uang di tengah pandemi,” ujarnya. Dari kebuntuan itulah muncul gagasan memanfaatkan limbah alam sebagai bahan kerajinan.

Tentu hal itu tak mudah. Kesehariannya yang lekat dengan musik tiba-tiba berubah total. Mul sempat ragu, siapa yang akan membeli kerajinan di saat orang-orang berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Namun, dia memilih mencoba. Karya pertamanya berupa lumpang kayu berukir.

Dia mengunggah karya itu ke media sosial. Respons publik datang di luar dugaan. Ukiran tangannya menuai pujian, bahkan dijuluki memiliki “tangan dewa” karena detailnya yang rapi.

Karya tersebut kemudian terjual dengan nilai puluhan juta rupiah dalam sebuah pameran seni di Jakarta. Pengakuan itu memupus keraguannya.

Sejak saat itu, Mul menekuni seni kriya berbasis limbah alam, khususnya pohon siwalan, salah satu tanaman khas Tuban. Dia memanfaatkan hampir seluruh bagian pohon, mulai dari bunga, daun lontar, keling, hingga kelopak siwalan.

Bahan-bahan yang kerap dipandang tak bernilai itu diolah menjadi karya bernilai ekonomi sekaligus estetika.

“Prinsip saya memaksimalkan limbah alam. Ini contoh bahwa usaha tanpa modal besar pun bisa berjalan,” katanya. Bahan baku dia dapatkan dari tegalan. Bagi sebagian orang dianggap tak berguna, namun baginya justru menyimpan potensi.

Dari bengkel kerajinannya yang diberi nama Oyot Craft, lahir salah satu karya andalannya: miniatur pohon siwalan.

Ide itu, menurut Mul, tidak datang dari perencanaan matang. Inspirasi muncul dengan sendirinya ketika seorang seniman membuka ruang bagi gagasan. “Ide itu hadir saat senimannya siap menerima,” ujarnya singkat.

Proses kreatifnya kerap memakan waktu panjang. Dia terbiasa bekerja hingga larut malam, memastikan setiap detail terpenuhi.

Tujuannya satu, menghadirkan buah tangan khas Bumi Ronggolawe yang tak dijumpai di daerah lain.

Perjalanan itu penuh coba-coba. Masalah utama justru datang dari bagian daun. Penggunaan daun kering membuat karya rapuh.

Dia lalu bereksperimen menggunakan daun segar yang dikeringkan dengan teknik khusus. Hasilnya, miniatur daun siwalan menjadi lebih kokoh dan tahan lama.

“Bagian daun paling rumit. Pewarnaannya juga perlu eksperimen agar warna awet dan tidak mengelupas,” kata mantan guru seni rupa ini.

Selain miniatur siwalan, lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini juga memproduksi ongkek batik, miniatur patung sembilan kuda, hingga ukiran berukuran besar.

Seluruh proses dikerjakan sendiri dan hanya dibantu sang istri pada bagian-bagian sederhana. Ketiadaan pekerja tambahan justru menjaga eksklusivitas karya. Setiap produk berbeda, tak ada yang benar-benar sama.

Kini, karya-karya Mul telah menjangkau berbagai kota, mulai dari Gresik, Malang, Bandung, hingga Jakarta. Pelanggannya datang dari instansi pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, hingga kolektor perorangan.

Sejumlah penghargaan pun diraih, di antaranya juara Lomba Cipta Karya Suvenir Khas Tuban, penghargaan kategori kearifan lokal, serta prestasi dalam pameran seni di Ngawi.

Beberapa waktu lalu, Mul bahkan mengirim contoh miniatur pohon siwalan ke Amerika Serikat. Dia berharap langkah itu menjadi pintu masuk ke pasar ekspor.

Dengan harga mulai Rp 35 ribu  untuk karya kecil hingga jutaan rupiah untuk karya rumit, Mul membuktikan bahwa limbah alam dapat menjelma menjadi produk bernilai tinggi.

Ke depan, dia berambisi menghadirkan lebih banyak miniatur khas Tuban sebagai representasi kekayaan budaya daerah.

“Kuncinya tekun. Ketekunan itu memang tidak mudah, tapi harus diperjuangkan,” katanya.(*/ds)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
Tuban Perajin kayu limbah