RADARTUBAN - Bagi Lyns Annora Aurelia, panggung pertunjukan bukan lagi tempat asing. Di sanalah dia menemukan ruang untuk bercerita lewat gerak.
Dari tari ayam trondol yang jenaka hingga tarian tradisional sarat filosofi, Aurel, sapaan akrabnya menjadikan tubuhnya sebagai medium untuk merawat warisan budaya.
Menari bukan sekadar kegemaran, melainkan bentuk kesadaran bahwa tradisi harus dijaga agar tak lekang oleh zaman.
Di tengah dominasi tarian modern yang lebih digemari remaja, siswi kelas XII SMKN Tambakboyo ini memilih jalur yang berbeda.
Dia jatuh cinta pada tari tradisional karena kekuatan maknanya. Setiap gerakan, menurutnya, bukan sekadar estetika, tetapi bahasa budaya yang hidup.
“Iringan musiknya khas dan setiap gerak punya cerita. Itu yang membuat tari tradisional terasa lebih dalam,” ujarnya.
Pengalaman tampil di berbagai panggung, dari sekolah hingga tingkat kecamatan, membentuk ketangguhan Aurel sebagai penari. Dia belajar menjaga keseimbangan antara teknik dan penghayatan, antara hafalan dan rasa.
Namun, tantangan terbesarnya justru berada di luar panggung. Mengajak teman sebaya untuk mencintai tari tradisional bukan perkara mudah. Modernisasi membuat seni tradisi kerap dipandang kuno dan tertinggal.
“Kita harus bekerja lebih keras supaya tari tradisional tidak dilupakan,” katanya.
Bagi Aurel, generasi muda memegang peran penting dalam menjaga napas budaya.
Melestarikan tradisi bukan berarti menolak modernitas, melainkan merawat identitas di tengah perubahan.
“Tidak semua daerah punya budaya yang sama. Justru itu yang membuatnya berharga,” ucap gadis berzodiak Aries ini.
Lewat setiap langkah tari, Aurel membuktikan bahwa menjadi muda dan keren tak harus meninggalkan akar. Di panggung-panggung kecil yang ia tapaki, tradisi terus bergerak—dan hidup.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama