RADARTUBAN - Berangkat dari niat sederhana untuk melatih kepercayaan diri dan kemampuan berbicara di depan umum, Fulvian Dante Firja justru melangkah lebih jauh.
Remaja asal Tuban itu berhasil menembus persaingan ketat tingkat provinsi dan dinobatkan sebagai Duta Kesehatan Jawa Timur 2026.
Bagi Dante, sapaan akrabnya, kegelisahan terhadap minimnya edukasi kesehatan di kalangan remaja menjadi alasan utama untuk melangkah.
Dia melihat isu kesehatan kerap dianggap membosankan, padahal sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.
Motivasinya mengikuti ajang Duta Kesehatan pun terbilang sederhana. Bukan semata mengejar gelar atau selempang, melainkan sebagai ruang belajar untuk melawan rasa tidak percaya diri yang kerap muncul setiap kali harus berbicara di depan umum.
Awalnya, dia hanya ingin menambah pengalaman dan melatih mental agar lebih berani bicara di depan umum.
‘’Saya juga ingin punya wadah untuk menyuarakan bahwa kesehatan itu bukan hanya soal tidak sakit, namun tentang gaya hidup yang direncanakan sejak remaja,” ujar siswa SMAN 1 Tuban itu.
Perjalanan menuju gelar tersebut tidaklah ringan. Pemuda asal Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, ini harus melewati tahapan seleksi ketat di tingkat provinsi dengan pesaing dari sekolah-sekolah unggulan di berbagai kota besar.
Sejak mengirimkan berkas pendaftaran pada 4 Desember 2025, rutinitasnya berubah drastis. Waktu luang sebagai remaja nyaris habis tersita oleh persiapan seleksi. Hingga pengumuman tahap pertama pada 11 Januari 2026, Dante mengaku hampir tak memiliki waktu untuk beristirahat.
Tantangan kian terasa saat dia dinyatakan lolos ke tahap kedua dan harus mengikuti seleksi lanjutan secara luring di Surabaya pada 18 Januari 2026.
Di Kota Pahlawan, dia dituntut menampilkan performa terbaik di hadapan dewan juri. “Jujur, tantangan terbesarnya bukan pada materi, tetapi pada manajemen waktu dan mental,” kenangnya.
Di satu sisi, kewajiban akademik sebagai siswa kelas XI tetap menumpuk.
Di sisi lain, dia harus menyiapkan program kerja serta mendalami materi kesehatan untuk dipresentasikan. Dante bertahan dengan satu prinsip yang dia pegang teguh.
“Kalau sudah nyebur, sekalian basah. Jangan setengah-setengah,” katanya.
Tekanan meningkat saat memasuki masa prakarantina dan karantina akhir Januari.
Dante harus mendalami beragam isu kesehatan, mulai dari pencegahan penyakit menular, kesehatan reproduksi, hingga kesehatan mental.
Dia juga dilatih soal postur tubuh, cara berjalan, dan etika berkomunikasi.
Melihat kesiapan para finalis lain sempat membuatnya cemas. Namun, dia memilih menjadikannya sebagai motivasi.
“Saya tidak melihat mereka sebagai ancaman, tetapi sebagai cermin untuk memperbaiki diri,” ujarnya.
Puncak ketegangan terjadi pada malam grand final di Surabaya, Minggu (1/2). Di bawah sorotan lampu panggung dan ratusan pasang mata penonton, Dante berdiri dengan jantung berdegup kencang. Gugup sempat menyergap saat dia memulai presentasi.
Dukungan orang tua, teman, dan guru menjadi penopang kekuatannya.
“Saya tidak berekspektasi tinggi. Fokus saya hanya memberikan usaha maksimal. Alhamdulillah, hasilnya mengikuti,” tutur alumni SMPN 3 Tuban itu.
Kini, setelah resmi menyandang gelar Duta Kesehatan Jawa Timur, tanggung jawab baru menanti.
Dante telah menyiapkan peta jalan program kerja yang menekankan aksi nyata. Dia berencana terjun langsung ke sekolah dan komunitas remaja untuk mengampanyekan gaya hidup sehat.
“Saya ingin membuat kampanye kesehatan yang seru dan relevan dengan remaja, sekaligus mengajak mereka mencintai diri sendiri dengan menjaga kesehatan sejak dini,” ujarnya.(*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama