Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dwi Anggraeni, Remaja Tuban yang Setia Menjaga Tari Tradisional

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 27 Februari 2026 | 16:30 WIB

Dwi Anggraeni.
Dwi Anggraeni.

RADARTUBAN - Di saat sebagian besar remaja seusianya lebih fasih mengikuti koreografi trending di media sosial, Dwi Anggraeni Putri Cahyaning Tyas justru lebih luwes meliuk dalam pola-pola rumit tari tradisional.

Dara yang akrab disapa Putri ini sudah mengenal irama seni tari tradisional sejak kecil berkat arahan dari sang ibu yang kala itu sudah melihat bakatnya.

Dari sekadar joget masa kecil, dia bertransformasi menjadi penari muda yang mampu membawakan gambyong pareanom hingga remo bolet dengan penuh penjiwaan.

‘’Ibu yang melihat potensi itu sejak aku belum sekolah. Dimulai dari tari lilin dan rampak saat perpisahan PAUD, hingga akhirnya aku merasa seni tradisional ini adalah bagian dari diriku sampai sekarang,” ujarnya.

Bagi remaja asal Kelurahan Karang Kecamatan Semanding ini, panggung bukan sekadar tempat pamer gerak, melainkan ruang untuk merawat identitas bangsa yang mulai terkikis zaman.

Putri mengakui bahwa tari modern memang memiliki daya tarik sendiri dan sangat diminati remaja seusianya. Namun, hatinya tetap tertambat pada pakem-pakem klasik.

Menurutnya, tari tradisional menawarkan kehalusan gerak yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan tingkat tinggi, hal yang jarang ditemukan pada tarian instan masa kini.

Prestasi yang ditorehkannya pun membuktikan dedikasinya dalam dunia kesenian tradisional. Dia pernah meraih Juara 3 FLS2N tingkat Kabupaten Tuban dan aktif dalam berbagai ajang seperti Putra Putri Tari Cilik Jatim hingga lomba IFORTE.

Sebagai remaja generasi Z berusia 16 tahun, Putri menyadari tantangan terbesarnya adalah kurangnya minat generasi muda di tari tradisional karena mereka lebih tertarik pada tarian modern yang dianggap lebih praktis dan mengikuti tren.

Banyak generasi muda yang enggan belajar karena prosesnya yang dianggap lebih membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan yang tidak sedikit.

‘’Sangat penting bagi generasi muda untuk minimal tahu dasar-dasar tari tradisional. Cara paling gampang adalah dengan menonton ludruk, dimana Tari Remo selalu menjadi pembukanya dan yang menarikan pun anak-anak muda,” ujar gadis Libra ini.

Bagi siswi SMAN 4 Tuban ini, menekuni kesenian tari tradisional ini bukan lagi sekadar hobi, melainkan bentuk cinta yang tulus terhadap budaya sendiri.

‘’Pesanku, kenali dulu tari tradisional sebelum menilai dan tetap bangga dengan budaya sendiri meskipun mengikuti zaman yang semakin modern ini,” tandas alumni SMPN 2 Tuban ini.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#tari #SMAN 4 #tradisional #Nduk Radar Tuban