RADARTUBAN - Nama Ali Manshur kerap disebut dengan satu julukan kitab mlaku. Sebuah predikat yang lahir dari ketekunannya menekuni kitab-kitab agama.
Namun, jalan hidup yang ditempuhnya jauh dari kata mudah. Di balik ketekunan itu, ada keringat, ada air mata.
Kyai Syakir Ali, salah satu putranya, menuturkan perjalanan sang ayah menuntut ilmu sarat ujian.
“Sekitar tahun 1950-an, abah pindah dari Sumba ke Bali menggunakan kapal. Tiba-tiba kapal yang ditumpanginya dihantam gelombang yang dahsyat sampai semua barang penumpang hanyut,” ujarnya.
Di atas dek, suasana kacau. Penumpang diperintahkan mengenakan pelampung. Maut terasa dekat. Dalam situasi genting itu, kapten kapal memerintahkan Ali Manshur membuang kopernya demi mengurangi beban kapal.
Koper tersebut bukan barang biasa. Di dalamnya tersimpan kitab-kitab yang dibeli dengan susah payah.
Bukan dari kiriman orang tua, melainkan hasil jerih payahnya menjadi ojek sepeda di pondok-pondok yang disinggahi. Sepeda onthel itu pemberian Kyai Ahmad Husairi.
“Jadi bukan disangoni orang tuanya. Beliau berangkat mondok dari Makam Agung ke Tremas, Pacitan naik sepeda itu dan hanya berbekal sego karon,” kata Kyai Syakir.
Dengan berat hati, kitab-kitab itu akhirnya dilepas ke lautan. Dari peristiwa itu, Ali Manshur bernazar.
“Abah kemudian bernazar kalau diberikan kesempatan untuk pergi haji, beliau ingin membeli kitab dan belajar ngaji lagi,” ujarnya.
Nazar tersebut terwujud pada 1959. Dia menunaikan ibadah haji selama sembilan bulan menggunakan kapal laut dan kembali ke tanah air pada 1960.
Hasrat belajarnya tak surut. Dia bahkan sempat ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri sipil agar bisa fokus mengaji.
Namun, pemerintah saat itu tidak mengabulkan permintaannya karena tenaganya masih dibutuhkan.
Pada 1960, di usia 33 tahun, Ali Manshur menulis Salawat Badar. Saat itu, dia menjabat sebagai kepala Kantor Departemen Agama di Banyuwangi, pascadekrit presiden dan pembubaran Konstituante.
Di Banyuwangi, dia memiliki dua rumah, masing-masing di Lateng dan Karangharjo. Dari sanalah Salawat Badar ditulis dan disebarkan.
Pada 1962, gurunya, Habib Ali Al-Habsyi, datang berkunjung. Menurut Kyai Syakir, sang guru sebelumnya bermimpi bertemu Rasulullah dan diminta mendoakan kedamaian Indonesia. Saat itu, situasi politik nasional mulai bergejolak.
Dalam pertemuan tersebut, keduanya membaca dan mendiskusikan Salawat Badar yang telah ditulis. Habib Ali kemudian mendeklarasikan bahwa salawat itu “siap menggulung genjer-genjer”, merujuk pada simbol yang lekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pada kurun 1962–1963, suasana politik di tanah air memang memanas. Pemberontakan PKI pasca1948 kembali mencuat. Rakyat hidup dalam tekanan ekonomi dan ketidakpastian.
“Saat itu untuk mendapatkan beras saja harus berkumpul dan dijemur di lapangan, dapatnya pun hanya satu kaleng susu ukuran kecil. Gejolak itu sudah mulai nampak sebelum puncaknya di tahun 1965,” tutur Kyai Syakir.
Sebagai mantan anggota Konstituante, Ali Manshur memilih jalur sastra sebagai bentuk perlawanan.
Bait-bait Salawat Badar, jika ditelaah, memotret kondisi Indonesia kala itu: kepemimpinan yang otoriter, kesenjangan sosial, hingga ancaman pemberontakan.
Kyai Syakir bahkan menyebut, kecerdasan ayahnya membuat PKI kala itu banyak belajar darinya. Kritik yang disampaikan melalui syair justru diterima dengan baik.
Ketegangan memuncak dalam peristiwa Gerakan 30 September pada 1965. Saat itu, Ali Manshur sedang berada di Jakarta. Ibu kota lumpuh.
Akses keluar ditutup. Pemilik KTP luar Jakarta terancam ditangkap.
Beruntung, rekannya sesama anggota Konstituante, Idham Chalid, diam-diam mengantarnya ke bandara untuk terbang ke Surabaya, lalu kembali ke Banyuwangi.
Setibanya di Banyuwangi, Ali Manshur bergerak cepat. Dia berupaya mencegah gejolak meluas.
“Dalam pikiran abah saat itu Ojo Sampe PKI meledak. Karena di Banyuwangi kala itu sempat ada perlawanan yang seimbang. Bahkan sempat terjadi sebuah tragedi yang membuat monumen lubang buaya juga ada di kota tersebut,” ujarnya.
Melalui Salawat Badar, Ali Manshur tidak sekadar menulis pujian kepada Allah, Rasulullah, dan para Ahli Badar.
Dia menitipkan pesan spiritual yang lahir dari pergulatan zaman—sebuah ikhtiar menjaga bangsa lewat doa dan sastra.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama