RADARTUBAN - Tetap menekuni tari tradisional, meski dipandang sebelah mata. Itulah prinsip yang masih dipegang teguh Afrillia Geisha Danti.
Di tengah masifnya budaya modern yang mendominasi tren, dia memilih untuk tetap menekuni pakem gerak warisan leluhur.
Geisha, panggilan karibnya telah akrab dengan ketukan kendang dan gemulainya gerakan selendang sejak sepuluh tahun silam.
Sejak kiprah awalnya di usia enam tahun itu, tari tradisional bukan lagi sekadar tontonan, melainkan menjadi hobi yang sampai saat ini dia tekuni.
Walau masih berusia 17 tahun, jam terbang Geisha di dunia tari tidak bisa pandang remeh.
Gadis ini telah malang-melintang di berbagai panggung, mulai dari tampil di acara pernikahan, berbagai kompetisi bergengsi tingkat provinsi, hingga pemilihan duta tari.
‘’Aku lebih menguasai tari gambyong karena gaya tarianku lebih berciri khas yang halusan. Selain itu aku tetap terus mendalami tari-tari tradisional lainnya agar semakin berkembang,” kata dara asal Desa Semanding, Kecamatan Semanding ini.
Siswi SMKN 2 Tuban ini melanjutkan, kiprahnya selama kurang lebih satu dekade dalam tari tradisional ini juga bukan hanya sekadar hobi, namun juga sebagai bentuk menjaga dan melestarikan budaya agar tidak punah seiring berjalannya waktu.
Dia juga menyayangkan kurangnya dukungan masyarakat dan anggapan remeh pada pelestari tari tradisional. Padahal, tari tradisional bukan sekadar gerak. Tari peninggalan budaya leluhur ini juga sebuah identitas yang memuat nilai-nilai budaya dan sejarah bangsa.
Geisha mengungkapkan, tari tradisional itu unik karena konsisten pada pakem. Gerakannya juga punya aturan tersendiri yang tidak bisa asal diubah. Berbeda dengan tari modern yang sifatnya lebih bebas dan beragam.
Menurut pandangannya, stigma kuno sebagian besar generasi muda yang melekat pada tari tradisional karena kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan budaya tradisional.
Karena itu, muda-mudi lebih cenderung terpengaruh dengan budaya luar yang lebih modern, ngetren, dan kekinian.
‘’Pesan saya untuk generasi muda, lebih baik saling menghargai. Jangan memandang sebelah mata tari tradisional, karena ini merupakan budaya tradisional dan merupakan warisan leluhur juga. Jadi harus tetap dijaga dan dilestarikan,” pungkas gadis Taurus ini.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama