Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jejak KH Mahbub Ihsan, Ulama Muhammadiyah yang Menggerakkan Pendidikan di Tuban

M. Mahfudz Muntaha • Kamis, 5 Maret 2026 | 18:00 WIB

Fahmi Djaya Putra, KH Mahbub Ihsan menunjukkan potret yang tersimpan rapi di kediamannya, Jalan Patimura, Tuban.
Fahmi Djaya Putra, KH Mahbub Ihsan menunjukkan potret yang tersimpan rapi di kediamannya, Jalan Patimura, Tuban.


RADARTUBAN - Jejak perjuangan KH Mahbub Ihsan tak terpisahkan dari geliat pendidikan di Tuban dan pesisir Lamongan. Dari gagasannya, sejumlah lembaga pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah berdiri dan berkembang.

Tak berlebihan jika kiai kelahiran 5 Mei 1931 itu dikenang sebagai ulama berkemajuan pada masanya. Bagi Mahbub, pendidikan adalah jalan dakwah yang paling strategis.

Ketika menjabat ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban pada 1966, pendirian sekolah berlangsung semakin masif. Satu per satu lembaga pendidikan berdiri, menjadi fondasi amal usaha Muhammadiyah yang hingga kini terus tumbuh.

Fahmi Djaya Putra, putra pertama Mahbub menuturkan, kecintaan sang ayah terhadap dunia pendidikan telah tumbuh sejak muda.

Mahbub menimba ilmu di pesantren Desa Tunggul, Kecamatan Paciran, Lamongan. Setelah bertahun-tahun belajar, dia dipercaya mengajar.

“Karena sekitar 1940-an, saat pengasuh pesantren Kiai Amin ditangkap Belanda, abah dipercaya melanjutkan perjuangan dan konsentrasi mengajar,” ujar Fahmi.

Selain di Tunggul, Mahbub juga menimba ilmu di sejumlah pesantren lain, termasuk di Jombang dan Yogyakarta. Keteladanannya kepada Ahmad Dahlan membentuk karakter sebagai pendidik sekaligus organisator.

Langkah konkret dimulai pada 1950-an. Bersama rekan seperjuangan, dia mendirikan madrasah ibtidaiyah (MI) di Paciran, didorong keprihatinan atas minimnya akses pendidikan di kawasan pesisir. Upaya serupa dilakukan ketika berada di Desa Parengan, Kecamatan Maduran.

Dia kembali merintis MI, lalu melanjutkan perjuangan di Labuhan, Sedayu Lawas, hingga Kalen, Babat. “Kini, sekolah-sekolah tersebut menjadi amal usaha Muhammadiyah,” kata Fahmi.

Perjuangan itu berlanjut ketika Mahbub hijrah ke Tuban pada 1962. Di kota yang dikenal sebagai Bumi Wali itu, dia aktif di Muhammadiyah hingga dipercaya menjadi ketua PDM Tuban pada 1966.

“Saat itu kantor PDM masih di rumah pribadi kami di Jalan Pemuda sana, dan dari tempat sederhana inilah, abah bergerak menata organisasi secara bertahap,” ujarnya.

Salah satu langkah awalnya adalah mewujudkan cita-cita mendirikan pesantren. Pada 1969, dia merintis Ma’had Al Islam di Jalan Pemuda, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban.

Pesantren tersebut menjadi pusat pengajian, ceramah agama, sekaligus pembinaan generasi muda. Santri datang dari berbagai wilayah di Tuban dan sekitarnya. “Dulu, anak-anak yang mondok juga bisa sekolah umum. Letaknya di tengah kota dekat dengan sekolah-sekolah,” kenang Fahmi.

Bagi Mahbub, keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum adalah keniscayaan. Pendidikan tidak boleh timpang. Santri harus memahami agama sekaligus menguasai ilmu pengetahuan umum agar mampu menghadapi perubahan zaman.

Seiring waktu, lembaga pendidikan Muhammadiyah di Tuban terus bertambah, dari tingkat dasar hingga menengah. Identitas Muhammadiyah pun ditegaskan dalam penamaan sekolah, menggantikan label umum sebelumnya.

“Semua tidak lepas dari kecintaan abah pada dunia pendidikan. Lembaga pendidikan Muhammadiyah sekarang ada jejak perjuangan beliau,” pungkas Fahmi.(fud/ds-bersambung)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #ulama #muhammadiyah #PDM