Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jejak KH Mahbub Ihsan: Hafiz, Fasih Bahasa Inggris, hingga Mahir Bermain Biola

M. Mahfudz Muntaha • Jumat, 6 Maret 2026 | 18:57 WIB

Nama KH Mahbub Ihsan diabadikan menjadi nama bangunan di Panti Asuhan Tunas Melati di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, yang dulu merupakan lokasi pesantren Ma’had Al- Islam.
Nama KH Mahbub Ihsan diabadikan menjadi nama bangunan di Panti Asuhan Tunas Melati di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, yang dulu merupakan lokasi pesantren Ma’had Al- Islam.

RADARTUBAN - Jejak perjuangan KH Mahbub Ihsan dalam mengembangkan Muhammadiyah di Tuban kerap mengingatkan putranya, Fahmi Djaya Putra, pada sosok KH Ahmad Dahlan.

Gambaran itu serupa dengan tokoh pendiri Muhammadiyah yang ditampilkan dalam film Sang Pencerah, karya sutradara Hanung Bramantyo.

Dalam film tersebut, KH Ahmad Dahlan digambarkan tidak hanya menguasai ilmu agama, namun juga terbuka pada berbagai disiplin ilmu lain. Salah satu adegan yang paling diingat publik adalah ketika dia memainkan biola.

Bagi Fahmi—yang akrab disapa Cak Mi—semangat serupa juga tampak pada diri ayahnya. Kiai Mahbub dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan Muhammadiyah di Tuban sekaligus ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) pertama di daerah tersebut.

“Abah itu mengidolakan KH Ahmad Dahlan, sehingga gerakan yang dilakukan oleh beliau itu sangat mirip dengan pendiri Muhammadiyah. Salah satunya memiliki perhatian di dunia pendidikan,” ujar Cak Mi.

Dia menuturkan, minat sang ayah pada pendidikan berangkat dari kecintaan yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Kiai Mahbub dikenal mendalami berbagai bidang, terutama fikih, bahasa Arab, dan Alquran.

Selain mengasuh Pesantren Ma’had Al Islam di Jalan Pemuda—yang kini menjadi Panti Asuhan Tunas Melati, salah satu amal usaha Muhammadiyah—Kiai Mahbub juga memiliki keinginan mendirikan pesantren tahfiz Alquran.

Keinginan itu muncul karena dia merupakan seorang hafiz. Namun, rencana tersebut belum sempat terwujud hingga akhir hayatnya.

“Selama masa hidupnya para santrinya di pesantren selalu diajarkan bagaimana membaca Alquran yang baik,” kata Cak Mi.

Semasa hidupnya, Kiai Mahbub juga dikenal produktif menulis. Dia menghasilkan berbagai karya yang digunakan sebagai rujukan di kalangan warga Muhammadiyah.

Mulai dari panduan bahasa Arab, tulisan tentang fikih dan Alquran, hingga teks khotbah Jumat.

Keilmuannya tidak hanya diakui di lingkungan Muhammadiyah. Pada 1999, dia pernah dipercaya menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tuban, serta menjadi anggota MUI Jawa Timur.

Sebagai seorang hafiz, Kiai Mahbub juga kerap dipercaya menjadi juri Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Jawa Timur hingga nasional. “Di rumah itu banyak piagam-piagam abah saat menjadi juri MTQ,” ujar Cak Mi.

Meski dikenal mendalam dalam ilmu agama, Kiai Mahbub tidak membatasi pendidikan santrinya pada bidang tersebut. Di pesantren yang diasuhnya, para santri juga mendapatkan pelajaran umum.

Selain pengajian dan pembelajaran Alquran, terdapat pula pelajaran tambahan seperti bahasa Inggris dan matematika. Bahkan, kegiatan ekstrakurikuler teater juga pernah digelar di lingkungan pesantren.

“Abah meyakini ilmu itu harus seimbang, antara ilmu agama untuk akhirat dan ilmu umum untuk kehidupan di dunia,” kata Cak Mi, yang kini menekuni usaha percetakan.
Ketertarikan KH Mahbub pada dunia seni juga terlihat dari salah satu peninggalannya di rumah, yakni sebuah biola. “Abah itu dulu juga bisa bermain biola,” ujarnya.

Namun, perjalanan dakwah Kiai Mahbub di Tuban tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal memperkenalkan Muhammadiyah, dia menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat yang menganggap organisasi tersebut sebagai ajaran baru.

Bahkan, dia pernah ditahan di Mojokerto dan Surabaya selama sekitar sepuluh bulan. “Tuduhannya sebenarnya tidak berdasar. Abah dituduh terlibat dalam komando jihad yang akan mendirikan negara Islam. Kami pun tidak tahu dasar tuduhan itu dari mana,” kenang Cak Mi.

Setelah bebas dari tahanan, Kiai Mahbub kembali melanjutkan aktivitas dakwahnya.

Kemampuannya berkomunikasi dengan berbagai kalangan membuatnya perlahan diterima oleh masyarakat luas. Termasuk tokoh-tokoh dari Nahdlatul Ulama dan organisasi lainnya.
Sejumlah santri yang pernah belajar kepadanya kemudian menempati berbagai posisi penting.

“Santri yang pernah ngaji sama abah kini banyak menjadi tokoh penting, seperti Bupati Lamongan Yuhronur Efendi dulu alumni, termasuk Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky juga pernah ngaji sama abah,” ujar Cak Mi. (fud/ds)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #islam #biola #jejak #ramadan