RADARTUBAN - Langkah kecil itu bermula dari Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, sekitar awal 1930-an. Setiap pagi, seorang bocah berjalan kaki menyusuri jalan desa menuju tempat mengaji di kawasan Makam Agung Tuban.
Jaraknya tidak dekat. Sekitar empat kilometer.
Perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki itu kelak menjadi bagian awal dari kisah seorang ulama yang dikenal luas di Kabupaten Tuban.
Bocah tersebut adalah KH Abdurrahman Sholih, pendiri Pondok Pesantren Manba’ul Huda di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang.
Kisah perjalanan hidupnya dituturkan kembali oleh putra ketiganya, KH Imam Muharror, saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban, Sabtu (8/3). Di lingkungan keluarga dan para santri, Kiai Abdurrahman yang akrab disapa Mbah Durrahman.
Dia dikenal sebagai kiai yang sejak muda mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain untuk menuntut ilmu agama.
Mbah Durrahman lahir di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang pada 1930. Ayahnya, Kiai Sholeh, merupakan kiai desa yang hidup sederhana. Dari lingkungan keluarga itulah benih kecintaan terhadap ilmu agama mulai tumbuh.
Semangat itu sudah terlihat sejak usia sangat belia. Ketika anak-anak seusianya masih bermain, Mbah Durrahman kecil justru memulai perjalanan mondok.
Pada usia sembilan tahun, dia mulai belajar di Pondok Pesantren Ash Shomadiyah di kawasan Makam Agung Tuban. Saat itu pesantren tersebut diasuh KH Sholeh, yang dikenal sebagai Mbah Soleh Tuban.
Untuk sampai ke pesantren, Mbah Durrahman kecil menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dari rumah setiap hari. Rutinitas itu dijalaninya selama bertahun-tahun.
“Rutinitas jalan kaki menuju pondok dijalani selama tiga tahun tanpa mengeluh. Di sana beliau mempelajari kitab-kitab dasar ilmu nahwu seperti Jurumiyyah, Imrithi, hingga Maqsud,” ujar Gus Imam, sapaan KH Imam Muharror.
Setelah itu, perjalanan menuntut ilmunya berlanjut ke Kecamatan Bangilan. Di sana, dia memperdalam kitab Alfiyah bersama KH Umar selama sekitar enam bulan.
Pengembaraan tersebut belum berhenti. Saat menginjak usia remaja, dia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Tambakberas, Jombang, yang diasuh KH Wahab Hasbullah.
Pesantren besar itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan intelektualnya.
Meski tidak sering mengaji langsung kepada Kiai Wahab yang saat itu juga aktif sebagai anggota DPR RI, Mbah Durrahman banyak belajar kepada ulama lain di lingkungan pesantren tersebut, di antaranya KH Abdul Hamid dan KH Fatah.
Pada masa yang sama, dia juga sempat belajar kepada KH Zainuddin dari Mojosari, Nganjuk, yang dikenal sebagai guru dari KH Wahab Hasbullah.
Perjalanan mencari ilmu kemudian membawanya ke Pesantren Al Wahdah di Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH Baidhowi. Di kota pesisir itu, kehidupan santri yang dijalaninya tidak jauh berbeda dengan masa kecilnya di Tuban.
Mbah Durrahman kembali menjalani kebiasaan berjalan kaki berkilo-kilometer untuk memperdalam pelajaran. Setiap hari, dia berjalan sekitar tiga kilometer menuju Gunung Kajar untuk melakukan mutholaah, yakni mempelajari kembali kitab Dahlan Syarah Alfiyah Ibnu Malik.
Kegiatan tersebut dijalaninya bersama Kiai Huda Jazuli dengan penuh ketekunan. Selama di Lasem, dia juga menimba ilmu kepada KH Ma’shum As-Syaikh Masduki dan KH Mansyur.
“Di pesantren yang sama, beliau juga satu generasi dengan KH Abdullah Faqih dari Pesantren Langitan Widang,” kata Gus Muharror.
Setelah tiga tahun di Lasem, Mbah Durrahman kembali ke Tuban. Namun, perjalanan ilmunya belum berhenti. Dia melanjutkan belajar ke Pesantren Tanggir, Kecamatan Singgahan, yang diasuh KH Muslih.
Di pesantren inilah, kematangan ilmunya mulai terlihat. Dia bahkan diminta mengajar di Madrasah Diniyah Miftahul Huda Tanggir selama tiga tahun. Mata pelajaran yang diajarkan adalah fan Nahwu Shorof, mulai dari Jurumiyyah hingga Alfiyah.
Meski telah dikenal sebagai pengajar, semangatnya untuk terus belajar tidak surut. Dia kemudian melanjutkan mondok ke Pesantren Al Futuhiyyah di Mranggen, Demak, yang diasuh KH Muslih Mranggen selama sekitar satu tahun.
Menariknya, ketika menjalani masa mondok di Demak, Mbah Durrahman sebenarnya telah menikah dengan Hj Musbadi’ah, putri KH Anwar dari Banjararum, Kecamatan Rengel.
Pesantren di Mranggen menjadi pelabuhan terakhir perjalanan mondoknya. Sepulang dari sana, dia memilih mengabdikan diri di tanah kelahirannya di Bumi Wali.
Di Tuban, Mbah Durrahman kemudian mendirikan Pondok Pesantren Manba’ul Huda di Kelurahan Panyuran. Dari pesantren itulah jejak dakwah dan pengajarannya mulai menyebar ke berbagai penjuru.(an/ds-bersambung)
Editor : Yudha Satria Aditama