RADARTUBAN - Lahir pada 24 Mei 1908, Kiai Hisyam kecil tumbuh di lingkungan dengan nilai-nilai keislaman yang mengakar. Yakni, di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban. Tepatnya di sisi barat Masjid Astana Sunan Bonang.
Sebagai anak ke 10 dari 12 bersaudara, Hisyam kecil membawa harapan besar dari sang ayah, Ismail bin Ahmad, yang merupakan penghulu atau pegawai KUA pada masanya.
Sang cucu, Abidi Basith Hafaz mengisahkan, saat remaja, Kiai Hisyam mengawali pendidikan formalnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar bergengsi pada zaman pendudukan Belanda yang diperuntukkan bagi kalangan bumiputera.
Di sini, dia menyerap sistem pendidikan modern. Namun, Hisyam kecil tidak membiarkan malamnya berlalu tanpa makna. Dia membagi waktunya dengan sekolah diniyah bernama Hidayat ketika malam. Juga mengaji di kompleks pondok Ashomadiyah Makam Agung dan Madrasah Ulum di kompleks Masjid Agung.
‘’Meski menempuh pendidikan di sekolah elit, Mbah Hisyam tidak menamatkan pendidikan di HIS. Beliau hanya sampai di kelas 5,” tutur Basith kepada wartawan koran ini.
Kala itu, terang Basith, Hisyam kecil melalui masa yang sulit. Dia terpaksa dipindahkan oleh sang kakak, Syamsul Hadi dari HIS ke Kauman Babat, Lamongan setelah ayahnya wafat.
‘’Di sana (Babat, Red), beliau hanya mengaji di pesantren dan dipasrahkan pada Kiai Hamid untuk mendalami kitab hingga beranjak remaja,’’ ujarnya.
Basith menuturkan, selain menjadi rujukan ilmu agama, Mbah Hisyam juga memiliki jiwa patriotisme yang tinggi.
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantrennya di Babat, gejolak masa remajanya sempat membuat Hisyam muda nekat mendaftar tentara di usia 17 tahun tanpa sepengetahuan ibu dan kakaknya.
‘’Surat penerimaan bahkan langsung diantar ke rumah oleh pihak terkait. Saat itu, seisi rumah terkejut karena beliau sama sekali tidak meminta izin. Keluarga jelas melarang keras, bahkan beliau dimarahi habis-habisan,” lanjut Basith.
Keinginan memegang senapan itu akhirnya dipatahkan oleh mandat keluarga yang menginginkan Hisyam muda memegang kitab. Dia pun dikirim lagi untuk semakin memperdalam ilmu agama di bawah asuhan Kiai Fatchurrahman.
Selama di bawah didikan Kiai Fatchur, Hisyam mulai memperlihatkan kepandaiannya.
Sang guru yang melihat kemampuan menyerap ilmu agama Hisyam begitu kuat kemudian menyarankannya pindah ke Pondok Sarang.
Di sinilah titik balik intelektualnya terjadi. Berada di bawah pengasuhan Kiai Zubair Dahlan, potensi terpendamnya perlahan muncul ke permukaan.
Hanya dalam waktu singkat menimba ilmu di Pondok Sarang, Hisyam justru dipercaya mengajar di Pondok Kawis yang sekarang bernama Madrasah Ghozaliah.
Walau sempat heran karena niatnya belajar justru diminta untuk ikut mengajar, Hisyam tetap patuh. Masa itu menjadi pondasi awal bagi kemampuan kependidikannya.
Sejak saat itu, dahaga ilmunya semakin menggebu dan tidak pernah padam. Setelah menimba ilmu di Pondok Sarang selama kurang lebih empat tahun lamanya, Kiai Hisyam meminta izin untuk pulang dan berhijrah ke Pondok Salafiyah Tebuireng, Jombang.
Di sini pula Hisyam muda menunjukan sisi dedikasinya yang nyaris ekstrem. Dia menjadi sosok yang sangat kutu buku. Waktunya habis hanya untuk membaca dan memperdalam ilmunya melalui kitab-kitab yang dibaca.
Di luar makan dan salat, Hisyam muda hampir tidak beranjak dari tumpukan buku-bukunya.
Namun, kegigihannya dalam menimba ilmu harus dibayar mahal.
Basith mengisahkan, akibat kurangnya aktivitas fisik karena waktunya selalu habis hanya untuk berkutat dengan kitab-kitabnya, Hisyam muda sempat terserang penyakit lumpuh sesaat setelah menyelesaikan pendidikannya. Dia terpaksa dibawa pulang ke Tuban dalam kondisi tak berdaya.
‘’Beliau dibawa pulang oleh kakaknya dan dilakukan terapi tradisional dengan dimandikan memakai air dari sumur air tawar di pinggir pantai boom setiap pagi setelah subuh. Alhamdulillah bisa sembuh total,” ungkap cucu dari putra ke-5 Kiai Hisyam itu.
Bahkan, rencana Kiai Hisyam untuk kembali berkelana mencari dan menyebarkan ilmu di pesantren sempat membuncah kembali setelah raganya pulih dari kelumpuhan. Namun, langkah tersebut harus tertahan oleh titah sang kakak yang menghendaki beliau menetap di tanah kelahiran.
Bukan tanpa alasan, restu keluarga rupanya telah berlabuh pada rencana besar untuk mempersatukan Kiai Hisyam dengan Chamnah, putri dari Kiai Fatchurrahman, sosok yang sejak awal telah melihat potensi intelektual dan spiritual dalam diri Hisyam.
‘’Meski semangatnya menimba ilmu di pesantren masih menyala kuat pascasembuh dari sakitnya, beliau akhirnya patuh pada garis takdir keluarga yang kemudian menikahkannya dengan Nyai Chamnah,” tandas Basith sekaligus menjadi awal kisah sejarah Kiai Hisyam mendirikan Pondok Pesantren Manbail Futuh di Desa Beji, Kecamatan Jenu. (saf/tok/bersambung)
Editor : Yudha Satria Aditama