RADARTUBAN - Nama Kiai Hisyam Ismail bagi masyarakat Jenu, khususnya di Desa Beji, merupakan simbol keistiqomahan.
Perjuangan melawan lumpuh dan akhirnya diberikan kesembuhan menjadi titik balik pengabdian Kiai Hisyam di dunia pendidikan.
Setelah sembuh, dia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk masyarakat, yang kemudian membawanya aktif mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) di Jenu dan merintis sebuah madrasah yang kini dikenal sebagai Manbail Futuh.
Dulu, embrio madrasah ini bernama madrasah wajib belajar. Perjuangan mendirikan madrasah ini pun tidak instan.
Sempat berpindah-pindah lokasi dari tempat yang sekarang menjadi MTS Al-Hidayah hingga ke Kaliuntu, madrasah ini tidak kunjung berkembang.
Baru setelah dipindahkan ke Beji, di bawah kiprah Kiai Hisyam, sekolah ini akhirnya menemukan akarnya dan tumbuh pesat.
Jangan bayangkan gedung bertingkat dengan beton sebagai temboknya, dulu hanya berupa madrasah sederhana di mana para santrinya belajar dengan lesehan dan hanya mengenakan sarung.
Nama Manbail sendiri dipilih dengan filosofi yang dalam, agar siapa pun yang menimba ilmu di sana tetap memiliki sifat yang rendah hati.
Dalam perjalanannya, Abidi Basith Hafaz, cucu sang kiai menceritakan, selama proses mendirikan madrasah ini, ada satu waktu di mana saat Kiai Hisyam berusia 26 tahun, beliau mendaftarkan diri dalam seleksi camat Jenu tak lama setelah mertuanya wafat.
Dalam proses yang melibatkan pilihan para pegawai negeri dan kepala desa se-Kecamatan Jenu kala itu, Kiai Hisyam terpilih sebagai pemenang. Namun, ketika meminta izin dari kakek pihak istri, Kiai Muchtar, restu tidak didapatkan.
Kiai Hisyam diberi pilihan sulit, jika ingin tetap menjadi camat, maka madrasah yang dia jalankan harus dijual terlebih dahulu.
Meski dihiasi dengan air mata, beliau memilih meninggalkan jabatan camat dan memilih berkonsentrasi penuh di dunia pendidikan hingga akhir hayatnya. ‘’Saya masih ingat, dahulu juga pernah diajar beliau saat masih kecil,” kenang Basith.
Dedikasinya sebagai seorang guru harus diuji pada masa Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948. Kiai Hisyam bahkan hampir ditangkap oleh prajurit kolonial dan terpaksa mengungsi dengan membawa bekal yang diikat di sarung.
Bahkan, beliau nyaris meregang nyawa ketika menjadi sasaran hujaman peluru para tentara belanda.
‘’Cerita yang saya dapat dari abah saya, beliau merangkak saat ditembaki. Lalu ketika jarak cukup aman, beliau kembali berlari lagi,” tutur cucu dari anak ke-5 Kiai Hisyam ini.
Mencekamnya situasi saat itu tidak menyurutkan tekadnya untuk terus mengajar para santri. Begitu situasi dirasa aman, tanpa rasa takut beliau akan kembali mengumpulkan murid-muridnya untuk menimba ilmu lagi seperti tidak terjadi apa pun.
Di sisi ekonomi, hidup sang kiai juga jauh dari kata mewah. Karena mengajar saat itu tidak dipungut biaya, beliau menyambung hidup dengan berjualan kerupuk gendar.
Terkadang juga, beliau menerima seikat hasil panen dari para santri sebagai tanda terima kasih.
Keistiqamahan beliau juga terlihat dalam ibadahnya. Basith menceritakan, setiap jam 10 pagi beliau sudah berangkat ke masjid. Tempat salatnya pun tidak pernah berpindah, selalu di baris paling depan pojok sebelah utara.
Beliau juga dikenal memiliki akhlak yang sangat baik kepada siapa pun. Jika ada undangan dari tetangga, beliau tidak pernah absen untuk hadir. Terkecuali jika berbenturan dengan jam mengajarnya di madrasah.
‘’Tapi beliau akan datang setelah tugas mengajarnya selesai. Setelah amanah sebagai seorang pendidik telah dituntaskannya hari itu,” ungkapnya.
Hingga usia senja dan raga mulai sakit-sakitan, semangat mengajar Kiai Hisyam tak sedikit pun padam. Bahkan, dia berpesan kepada anak cucunya kala itu, untuk tidak melarangnya mengajar meski tubuhnya mulai lemah.
‘’Beliau dulu berkata, aku akan berhenti mengajar ketika sudah meninggal dunia. Aku ingin meninggal dalam keadaan mengajar,” kata Basith menceritakan apa yang didengarnya dari sang abah dahulu.
Kalimat tersebut kemudian menjadi doa yang dikabulkan oleh keluarganya. Bahkan, ketika sedang sakit pun, Kiai Hisyam tetap mengajar para santri, meski kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah.
Sebelum wafatnya, dia meninggalkan wasiat untuk keturunannya agar tetap meneruskan madrasah yang saat ini telah berdiri kokoh sejak puluhan tahun silam.
Tidak lama sejak sakit, Kiai Hisyam Ismail mengembuskan napas terakhirnya pada 19 Oktober 1992 atau bertepatan pada 25 Jumadil Awwal 1413 Hijriah dan meninggalkan sebuah pesan kuat, bahwa ilmu itu lebih penting dari apa pun. Harta benda dan kedudukan bisa diraih karena ilmu.
‘’Hingga akhir hayatnya, beliau tidak pernah berhenti mengajar karena memiliki motivasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tandas Basith mengakhiri perbincangan. (saf)
Editor : Yudha Satria Aditama