Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

KH Nur Salim, Perintis NU Selatan Tuban yang Berdakwah dari Warung Kopi hingga DPRD

M. Mahfudz Muntaha • Jumat, 20 Maret 2026 | 18:45 WIB

Kisah KH Nur Salim, tokoh NU Tuban yang membangun pendidikan, menolak suap, dan berdakwah hingga ke warung kopi.
Kisah KH Nur Salim, tokoh NU Tuban yang membangun pendidikan, menolak suap, dan berdakwah hingga ke warung kopi.

RADARTUBAN - Jejak perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah selatan Kabupaten Tuban tidak dapat dilepaskan dari sosok KH Nur Salim.

Ulama asal Kecamatan Senori itu dikenal sebagai perintis sekaligus penguat fondasi organisasi keagamaan dan sosial di kawasan tersebut.

Pada masa awal pertumbuhannya, struktur kepengurusan NU di Tuban belum terpusat seperti saat ini. Terdapat dua kepengurusan cabang, yakni PCNU Tuban dan PCNU Senori–Bangilan.

Di wilayah selatan, Kiai Nur Salim dipercaya menjadi ketua pertama PCNU Senori–Bangilan.
Ulil Arham, cucu Kiai Nur Salim menuturkan, kiprah sang kakek tidak lepas dari pengaruh gurunya, KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Amanah untuk mengembangkan NU di daerah menjadi titik awal berdirinya PCNU Senori–Bangilan pada 1952.

“Dari situlah kemudian berdiri PCNU Senori–Bangilan pada 1952 dan Mbah Nur dipercaya memimpin,” ujarnya.

Kedekatan Kiai Nur Salim dengan KH Hasyim Asy’ari terjalin sejak masa nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng. Selama sekitar delapan tahun menimba ilmu, dia dikenal sebagai santri kepercayaan, bahkan sempat menjadi lurah pondok.

Saat kembali ke kampung halamannya di Desa Weden, Kecamatan Bangilan pada 1936, dia membawa pesan untuk membesarkan NU.

Namun, kiprahnya tidak langsung berfokus pada organisasi. Dia lebih dahulu mengabdikan diri di bidang pendidikan dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Setelah menikah dengan muslimah, putri KH Abdurrahman, tokoh terkemuka di Senori, perannya di dunia pendidikan semakin kuat.

Meski berlatar pendidikan pesantren tradisional, Kiai Nur Salim dikenal memiliki pandangan yang progresif. Dia mengembangkan lembaga pendidikan nonformal menjadi formal, termasuk mendirikan madrasah dan MI Banin Banat. Lembaga-lembaga tersebut kemudian menjadi cikal bakal Yayasan Sunnatunnur di Kecamatan Senori.

Seiring waktu, aktivitasnya meluas ke berbagai bidang, termasuk keagamaan lintas komunitas hingga politik. Momentum itu menguat ketika NU keluar dari Partai Masyumi dan menjadi partai politik mandiri pada 5 April 1952.

Berdirinya PCNU Senori–Bangilan turut mengantarkan KH Nur Salim terlibat dalam politik melalui Partai NU.

Pada Pemilu 1955, dia terpilih sebagai anggota legislatif dan menjabat Ketua Fraksi Partai NU. Kiprahnya berlanjut pada 1971 ketika kembali terpilih dan menjabat sebagai wakil ketua DPRD Tuban hingga masa tugasnya berakhir pada 1977.

Di dunia politik, Kiai Nur Salim tetap memegang teguh nilai-nilai keulamaan. Dia dikenal berpihak pada kepentingan masyarakat dan menolak praktik yang merugikan publik.

Salah satu kisah yang dikenang adalah penolakannya terhadap upaya suap dari seorang pengusaha yang ingin melancarkan bisnisnya.

“Tapi, karena itu menyangkut kepentingan masyarakat sekitar dan dampaknya merugikan Masyarakat, Kiai Nur Salim dengan tegas menolaknya,” kenang Ulil Arham.

Sikap tegas juga ditunjukkan saat dia membubarkan perjudian di Alun-alun Tuban yang saat itu dikaitkan dengan pembiayaan kegiatan olahraga. Bagi Kiai Nur Salim, tujuan tidak dapat membenarkan cara.

Di luar itu, dia dikenal dekat dengan masyarakat akar rumput. Setiap pagi, Kiai Nur Salim kerap menyambangi warung kopi, berinteraksi dengan tukang becak dan pekerja kecil.

Dari ruang sederhana itu pula, dia menyampaikan dakwah secara langsung dan membumi.

“Kalau dakwah ya di warung kopi itu, selain traktir kopi dan makan saat bertemu banyak orang itu juga memberikan dakwah keagamaan,” pungkasnya.(fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#DPRD #Tuban #Politik #rakyat #dakwah #jejak