RADARTUBAN - Bagi Kiai Haji Ahmad Mustofa, panggung politik bukanlah tujuan, melainkan alat. Dia menempatkan jabatan dan struktur organisasi sebagai benteng untuk menjaga marwah pendidikan pesantren—agar tetap punya ruang di tengah arus kebijakan publik yang terus berubah.
Keyakinan itu tidak lahir dari ruang hampa. Jauh sebelum dikenal sebagai anggota dewan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Musthofawiyah, perjalanan dakwahnya justru dimulai dari ketidakpercayaan diri.
Muhammad Zaki Aminudin, putra beliau, mengisahkan momen itu.
Sepulang dari menimba ilmu di Lasem, Kiai Mustofa diminta menyampaikan khutbah Jumat di kampung halamannya di Palang. Namun, alih-alih tampil percaya diri, dia justru diliputi haru.
“Ada satu cerita yang dulu beliau sampaikan. Ketika baru kembali ke Palang setelah menimba ilmu di Lasem, abah diminta untuk melakukan khutbah Jumat, namun saat itu abah menangis. Karena saat itu orang-orang tua yang meminta beliau berkhutbah, sehingga rasa gugup itu pasti ada,’” jelas Gus Zaki.
Rasa gentar itu tak menghentikan langkahnya. Kiai Mustofa muda tetap berdiri, menyampaikan ilmu yang dia bawa dari pesantren, meski dengan hati bergetar. Dari titik itu, jalan panjang pengabdian dimulai.
Bagi keluarga besar Al-Musthofawiyah, ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan amanah. Ada satu pesan yang terus dipegang, diwariskan lintas generasi santri dan keluarga.
“Pesan abah seperti ini, piye wae kudu manfaat nang nggone wong. Opo isomu kudu manfaat nang nggone wong. Seng penting apik. Dan, jangan menolak ketika kamu bisa dimintai tolong,’” kenang Gus Zaki.
Kalimat itu sederhana, namun menjadi inti ajaran. Bagi Kiai Mustofa, kecerdasan—baik akademik maupun agama—tak berarti tanpa kemanfaatan bagi sesama.
Prinsip tersebut membentuk karakter santri. Mereka didorong untuk tidak abai terhadap persoalan di sekitarnya.
Di wilayah Palang, jejak itu tampak nyata. Banyak mudin dan tokoh masyarakat lahir dari rahim pesantren ini, menjadi representasi hidup dari ajaran “bermanfaat bagi orang lain”.
Di sisi lain, disiplin ditegakkan tanpa kompromi. Kiai Mustofa dikenal teguh, bahkan keras dalam hal prinsip. Kesalahan mendasar—baik dalam ibadah, pendidikan, maupun sikap—tidak diberi ruang.
Santri dituntut rapi, tertib, dan menjaga harga diri sebagai penuntut ilmu.
Namun, di balik ketegasan itu, tersimpan sisi lain yang lembut.
Gus Zaki menyebut sang ayah sebagai pribadi ora mentolo—tidak tega. Disiplin, bagi Kiai Mustofa, adalah bentuk kasih sayang tertinggi: cara menyiapkan santri agar tidak rapuh saat terjun ke masyarakat.
Prinsip kemanfaatan itu diuji ketika banjir melanda wilayah sekitar tempat tinggalnya. Saat membantu warga membersihkan sisa material, sebuah balok kayu menghantam kakinya.
Sejak itu, dia kehilangan kemampuan berjalan dan harus menggunakan kursi roda.
Keterbatasan fisik tak menghentikan perannya sebagai pendidik. Dari atas kursi roda, dia tetap mengontrol pendidikan, hadir di tengah santri, bahkan memenuhi undangan dakwah ke luar kota.
Seolah menegaskan bahwa dakwah tidak bergantung pada langkah kaki, namun pada ketulusan hati.
Hingga wafat pada 2014, pesan tentang kemanfaatan tetap hidup. Warisan utamanya bukan bangunan pesantren, melainkan prinsip yang menancap dalam jiwa para santrinya.
“Sesuai pesannya opo isomu kudu manfaat nang nggone wong, beliau mewariskan sebuah keyakinan sederhana, namun mendalam,’” pungkas Gus Zaki.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama