Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Nisrina, Dokter Jaga IGD RSUD dr. Koesma Tuban, Siaga selama Lebaran Menunda Rindu untuk Menjaga Nyawa

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 25 Maret 2026 | 15:05 WIB

Dokter Nisrina siap menjalankan tugasnya di IGD RSUD dr. Koesma Tuban.
Dokter Nisrina siap menjalankan tugasnya di IGD RSUD dr. Koesma Tuban.

RADARTUBAN- Kala suara takbir mulai sahut-menyahut dari pengeras suara di masjid-masjid sekitar Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo, Nisrina, apaan dekat dokter Nisrina Salsabila, harus berpacu dengan denting monitor dan riuh rendah suara di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menyelamatkan sesama.

Di saa jutaan orang bersimpuh memohon maaf di pangkuan orang tua, dia justru harus bersiap dengan jas putih dan stetoskop yang selalu tergantung di lehernya setiap kali menangani pasien.

Nisrina menjadi salah satu dari sekian banyak tenaga kesehatan (nakes) yang harus merelakan tradisi mudik demi panggilan kemanusiaan. Sebagai dokter yang ditugaskan berjaga di IGD, momen idul fitri baginya bukan tentang ketupat dan opor ayam, melainkan tentang kesiapsiagaan penuh selama 12 jam.

Tahun ini, menandai ketiga kalinya dokter asal Kabupaten Badung, Bali ini melewatkan hari raya jauh dari keluarga. Walau merasa sedih, baginya hal tersebut adalah perasaan yang manusiawi.

"Kalau dibilang sedih, ya pasti sedih. Rasa kangen keluarga itu juga pasti ada. Tapi, sejak saya memutuskan menjadi nakes, saya tahu konsekuensinya akan mengorbankan waktu,” ujarnya dengan nada tegar kala ditemui Jawa Pos Radar Tuban di sela waktu jaganya, Sabtu (14/3).

Di IGD, waktu seolah berjalan berbeda. Saat banyak keluarga di kampung halaman sedang asyik bercengkrama, Nisrina mungkin sedang berjibaku menangani pasien dengan berbagai kondisi yang tak kenal waktu.

Selama 12 jam, dia harus siap sedia di garis paling depan untuk mengobati kondisi setiap pasiennya.

Walau jauh dari keluarga, rasa tanggung jawab sebagai seorang dokter yang harus menyelamatkan nyawa pasien menjadi ‘’bahan bakarnya’’ untuk tetap tegar di momen-momen mengharukan seperti saat ini.

Terlepas dari tanggung jawab yang diembannya, rasa sepenanggungan dengan rekan-rekan sejawat juga menjadi fondasi kekuatannya. Tenaga kesehatan di IGD seolah telah menjadi keluarga kedua baginya.

"Kami di sini bekerja sebagai tim. Saling mendukung dan menguatkan. Kami sama-sama merasakan kerinduan kampung halaman yang sama, jadi rasanya lebih ringan,” tambahnya lega.

Meski terpisah jarak ratusan kilometer, teknologi menjadi jembatan penghubung silaturahmi. Video call menjadi ritual wajib setelah salat Idul Fitri.

Melalui layar ponsel, dia memohon maaf kepada orang tua dan sanak saudara sembari melihat riuhnya suasana rumah yang begitu dia rindukan.

Suasana keriwehan persiapan salat Idul Fitri dan masakan rumah hasil tangan ibu atau neneknya menjadi hal yang paling dia rindukan.

Aroma masakan khas dapur rumah yang tidak bisa ditemukan di warung manapun seringkali membuatnya ingin segera pulang ke kampung halaman.

Namun, dukungan penuh dari keluarga di Pulau Dewata menjadi penguatnya. Alih-alih menuntut kepulangannya, orang tua Nisrina justru menanamkan nilai-nilai tanggung jawab yang tinggi sebagai seorang tenaga medis.

"Orang tua saya justru akan marah kalau saya melalaikan tanggung jawab sebagai dokter hanya demi mudik beberapa hari,’’ ujar dokter jebolan Universitas Jember itu.

Justru keluarga, kata Nisrina, yang mengajari untuk mendahulukan tanggung jawab. Terlebih, profesinya menyangkut nyawa pasien yang memang tidak bisa diabaikan.

Dia baru bisa merasakan hangatnya rumah setelah satu atau dua minggu Lebaran. Menunggu situasi perjalanan lebih kondusif dan jadwal jaga di IGD RSUD lebih stabil.

Meski nantinya hanya bisa melihat wajah-wajah orang terkasih selama empat hingga lima hari di kampung halaman, baginya durasi tersebut tidak masalah.

"Waktu tersebut termasuk cukup, yang terpenting kualitas berkumpulnya,” pungkasnya.

Di balik masker dan jubah dokternya, Nisrina menyimpan keyakinan bahwa menjaga nyawa sesama adalah bentuk ibadah.

Rindu pada masakan ibu mungkin tetap ada, namun kesembuhan pasien yang tertolong menjadi pelipur yang tak ternilai harganya.(*/ds) 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kemanusiaan #dokter #Nisrina Salsabila #igd