RADARTUBAN - Lebaran adalah momen untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi Tomi Anggana Wibowo, personel pemadam kebakaran (damkar) Tuban, Hari Suci tersebut sering kali menghadirkan cerita berbeda. Terhitung sudah belasan tahun, pria asal Desa Ngrayung, Kecamatan Plumpang itu melewatkan momen hari pertama Idul Fitri bersama keluarga.
Bagi Tomi, bunyi sirine kerap lebih nyaring daripada panggilan pulang saat Lebaran. Sejak bergabung dengan Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Tuban pada 2014, pria berusia 33 tahun itu lebih sering merayakan hari raya di tengah tugas, bukan di ruang keluarga.
Baca Juga: Dugaan KDRT dalam Kasus Pembunuhan Cucu Mpok Nori Terungkap, Keluarga Korban Buka Suara
Kariernya dimulai sebagai personel Satpol PP pada 2014 hingga 2023. Setelah itu, dia beralih menjadi petugas pemadam kebakaran. Dari dua peran tersebut, Tomi mengaku pengalaman paling menegangkan justru datang saat bertugas sebagai damkar.
Dia masih mengingat rangkaian peristiwa pada 2023, ketika belum genap setahun bertugas sebagai pemadam kebakaran. Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, sejak malam takbiran hingga hari pertama Lebaran, dia harus merespons sejumlah kejadian secara beruntun.
Laporan pertama datang pada malam takbiran, terkait serangan tawon di Kecamatan Semanding. Belum genap enam jam, dini hari menjelang pagi, dia kembali menerima laporan kebakaran di Kecamatan Widang. Selanjutnya, pada hari pertama Idul Fitri, laporan lain masuk terkait penemuan ular di dalam septic tank warga di Kecamatan Palang.
Dari rangkaian kejadian tersebut, kebakaran di Widang menjadi momen paling krusial. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri.
Bagi Tomi, sirine adalah panggilan tugas yang tidak dapat ditunda. Namun, saat itu, dia juga berpacu dengan waktu agar tetap dapat menunaikan salat Id.
“Kami berupaya keras bisa memadamkan api secepat mungkin. Alhamdulillah pada waktu itu masih bisa melaksanakan salat ied meskipun sudah mepet waktunya,” ujarnya saat ditemui, Senin (17/3).
Pria asal Kecamatan Plumpang itu menuturkan, ketika mendapat panggilan tugas pada hari pertama Lebaran, dia biasanya baru bisa merasakan suasana hari raya pada hari-hari berikutnya.
Bahkan, ketika memiliki kesempatan pulang dan berkumpul bersama keluarga pada hari Lebaran berikutnya, panggilan tugas tetap menjadi prioritas.
“Panggilan tugas tidak bisa saya tinggalkan, bagaimana pun keadaannya, saya pasti berangkat,” katanya.
Meski kerap harus bertugas di luar jadwal, termasuk pada momen Lebaran, Tomi mengaku mendapat dukungan penuh dari keluarga.
Baca Juga: Kronologi Kebakaran Hebat Ruko Tekstil di Cipadu Tangsel, 13 Damkar Dikerahkan
“Awalnya keluarga sempat kaget, belum terbiasa, tapi lama-lama sudah terbiasa. Saya pun sekarang juga sudah terbiasa dengan setiap kali momen Lebaran tetap menjalankan tugas,” ujarnya.(*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama