Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bukan Sekadar Magang, Favehotel Tuban Buktikan Disabilitas Juga Bisa Berkarya

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 27 Maret 2026 | 08:11 WIB
Adelia, HRD Favehotel (kanan) mengajari Salsa anak magang difabel (kiri) di bagian food and baverage untuk membuat pesanan tamu hotel. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)
Adelia, HRD Favehotel (kanan) mengajari Salsa anak magang difabel (kiri) di bagian food and baverage untuk membuat pesanan tamu hotel. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)

RADARTUBAN – Isu kesetaraan dalam dunia kerja terus digalakkan, namun keterlibatan penyandang disabilitas di sektor tenaga kerja masih tergolong minim. Di tengah kondisi tersebut, Favehotel Tuban muncul sebagai pionir.

Sejauh ini, hotel di Jalan Basuki Rachmad ini menjadi satu-satunya akomodasi di Bumi Ronggolawe yang konsisten memberi kesempatan magang kepada siswa berkebutuhan khusus selama dua tahun terakhir.

Baca Juga: Diikuti Puluhan Peserta, Fave Hotel Tuban Gelar Lomba Mewarnai Penuh Antusiasme

HRD Favehotel Tuban, Adelia Yunita Asnaka mengungkapkan, langkah ini diambil untuk menghapus pandangan sebelah mata terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK). Menurut dia, anak-anak tersebut memiliki potensi yang seringkali tidak terlihat jika tanpa diberi kesempatan.

‘’Kami ingin menyetarakan mereka,” ujar Adelia kepada Jawa Pos Radar Tuban, Selasa (17/3).

Meski berkebutuhan khusus, terang dia, mereka punya skill yang luar biasa. Dia juga melihat kepercayaan diri anak-anak berkebutuhan khusus tersebut sangat bagus dan cepat beradaptasi. Setiap diajari pun cepat tanggap.

Bekerja sama dengan Sekolah Luar Biasa ABD (SLB ABD) Tuban, hotel ini rutin menerima dua siswa setiap bulan untuk ditempatkan di bagian houskeeping, food and baverage, dan service. Penempatan di bagian ini bertujuan agar siswa ABK dapat berinteraksi langsung dengan tamu, sehingga kemampuan komunikasi mereka semakin terasah.

Meski menghadapi tantangan komunikasi, Adelia menyampaikan, pihak manajemen hotel tidak menemui kendala yang berarti.

Bahkan, sebagian besar karyawan harus belajar bahasa isyarat demi menjalin komunikasi yang lebih lancar dan akrab dengan para pemagang yang mayoritas adalah tuna rungu dan tuna wicara tersebut. 

‘’Kami memberikan name tag khusus untuk mereka agar tamu bisa memahami kondisi peserta magang kami agar interaksi berjalan lancar,” imbuhnya.

Perempuan asal Tambakboyo ini mengungkapkan, manfaat program ini tidak hanya dirasakan di lingkungan hotel. Berdasarkan laporan orang tua peserta magang, terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih positif.

‘’Dari penyampaian orang tua, jika sebelumnya adik-adik magang ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game saat pulang sekolah, sekarang mereka lebih mandiri dan membantu pekerjaan rumah seperti cuci piring dan menyapu,” ucap Adel.

Meski saat ini statusnya masih sebatas pemagangan sebagai sarana pengembangan diri, Adelia menyatakan tidak tertutup kemungkinan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas sebagai pegawai tetap di lingkup pekerjaannya di masa mendatang.

Baca Juga: Perlukah Merapikan Kamar Hotel Sebelum Check Out? Ini Etika yang Perlu Dipahami Tamu

‘’Harapannya kami bisa menjadi contoh untuk hotel lain. Kami tidak memandang perbedaan, hanya saja mereka membutuhkan treatment yang berbeda,’’ tuturnya. Dengan memberi kesempatan magang atau bekerja, lanjut Adel, paling tidak dunia usaha tidak memperlakukan diskriminasi kepada ABK.(saf/ds)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Fave Hotel #tenaga kerja #disabilitas