RADARTUBAN - Gema takbir menggema di langit Tuban, menandai datangnya Hari Raya Idul Fitri. Bagi sebagian besar orang, momen ini identik dengan kehangatan keluarga.
Namun, tidak demikian bagi Bripda Intan Putri Brilyan. Tiga tahun terakhir, dia justru menghabiskan hari pertama Lebaran di tepi jalan.
Dengan seragam cokelat rapi dan sepatu dinas mengilap, Intan berdiri di persimpangan, mengatur arus kendaraan yang terus mengalir.
Saat masyarakat berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan salat Id, dia menjalankan tugas pengamanan di Pos Pelayanan Alun-Alun Tuban.
Baca Juga: Lebaran Tanpa Pulang: Kisah Damkar Tuban Tonmi Anggala yang Setia pada Sirine Tugas
“Lebaran bukan soal di mana kita berada, tapi bagaimana kita tetap bisa bermanfaat,” ujarnya ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban.
Perempuan 23 tahun itu mengaku telah terbiasa melewatkan momen Lebaran tanpa berkumpul bersama keluarga. Meski rumahnya berada di Kecamatan Semanding dan relatif dekat, tugas membuatnya lebih banyak berada di jalan raya.
“Sudah tiga tahun terakhir selalu dapat jadwal di hari pertama Lebaran. Biasanya hanya mengucapkan lewat telepon,” katanya.
Selama bertugas, Intan menyimpan berbagai pengalaman yang membekas. Dia kerap berinteraksi dengan para pemudik maupun warga yang membutuhkan bantuan di perjalanan.
Salah satu peristiwa yang masih diingatnya terjadi setahun lalu. Saat itu, dia menemukan seorang pemudik lanjut usia yang tampak kesulitan mendorong sepeda motor karena ban bocor.
“Langsung kami bantu menepi ke pos pelayanan agar bisa ditangani,” tuturnya.
Bagi Intan, tugas adalah panggilan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Dia memilih menunda momen berkumpul bersama keluarga demi memastikan masyarakat dapat merayakan Lebaran dengan aman dan nyaman.
Waktu bersama keluarga, menurut dia, tetap bisa dicari di hari-hari berikutnya.
“Keluarga juga sudah memahami. Tidak ada kata terlambat untuk pulang,” ujarnya.
Intan memang merayakan dengan cara berbeda.
Tanpa sajadah di pelataran masjid, dia menjalani hari raya di antara deru kendaraan dan peluit – untuk—menjaga agar perjalanan orang lain tetap aman. (*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama