Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Keterbatasan Bukan Penghalang, Cerita Salsa Magang di Favehotel Tuban

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 1 April 2026 | 07:10 WIB
Senyum cerah Salsa di loby Favehotel Tuban kala ditemui saat jam kerja magangnya, Selasa (17/3). (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)
Senyum cerah Salsa di loby Favehotel Tuban kala ditemui saat jam kerja magangnya, Selasa (17/3). (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Dunia Salsa Alfikriya Firsta mungkin hening dari suara, namun tidak dari semangat.

Di balik keterbatasan bicara, dia justru menghadirkan harmoni baru di lingkungan kerjanya dengan menginspirasi orang-orang di sekitarnya untuk belajar memahami cara berkomunikasi yang berbeda.

Di tengah riuh tamu yang datang dan pergi di lobi Favehotel Tuban, remaja 17 tahun itu tampak cekatan merapikan peralatan makan di area restoran.

Senyumnya tersungging ramah, menyapa siapa saja yang melintas. Sekilas, tak ada yang berbeda. Hingga jemarinya mulai bergerak, menyusun kata dalam bahasa isyarat.

Baca Juga: Bukan Sekadar Magang, Favehotel Tuban Buktikan Disabilitas Juga Bisa Berkarya

Salsa adalah penyandang tunawicara. Namun, dia tidak memilih bersembunyi di balik keterbatasan. Sebaliknya, dia melangkah percaya diri sebagai siswa magang di bagian Food and Beverage (F and B) Service.

Awal perjalanannya tidak mudah. Pada hari-hari pertama, kecemasan sempat menguasai. Dia mengaku bingung menghadapi ritme kerja hotel yang cepat. Terlebih, dalam berkomunikasi dengan tamu maupun rekan kerja.

“Awalnya sedih, bahkan sempat menangis karena bingung bagaimana harus bekerja dan berkomunikasi,” tuturnya dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh rekan Ayun, staf Favehotel Tuban.

Namun, perlahan situasi berubah. Bukan hanya Salsa yang belajar beradaptasi, namun juga lingkungan kerjanya.

Para staf hotel mulai mempelajari dasar-dasar bahasa isyarat. Upaya sederhana itu membuka ruang komunikasi yang lebih hangat dan setara.

“Aku senang di sini. Stafnya sangat baik. Aku juga belajar banyak hal baru,” ujarnya, diiringi senyum.

Lingkungan yang inklusif membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Dia tak lagi merasa berbeda. Di sela kesibukan, dia bahkan bisa bercengkerama dengan rekan-rekan kerja, menggunakan bahasa yang mereka pelajari bersama.

Rutinitas magang yang dimulai sejak pukul 06.00 hingga 14.00 dijalani tanpa keluhan. Ilmu yang diperoleh di tempat kerja dia bawa pulang, diterapkan saat membantu ibunya di dapur.

Meski kini akrab dengan dunia perhotelan, Salsa tetap memegang teguh cita-citanya. Siswi kelas XI SLB ABD Tuban itu ingin menjadi penjahit, mengikuti jejak ibunya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Magang, Favehotel Tuban Buktikan Disabilitas Juga Bisa Berkarya

Di waktu luang, dia mengasah keterampilan menjahit—jemarinya yang lincah tak hanya piawai berbahasa isyarat, namun juga terampil memainkan jarum dan benang. “Aku ingin jadi penjahit seperti Ibu. Sejak kecil sudah diajari,” ungkapnya.

Kehadiran Salsa di hotel tempatnya magang membawa dampak di lingkungan barunya. Itu karena dia bukan hanya belajar tentang dunia kerja, namun juga mengajarkan arti empati kepada orang-orang di sekitarnya.

Pihak manajemen hotel pun mengakui hal itu. Mereka melihat Salsa sebagai sosok yang memberi warna baru sekaligus pelajaran berharga tentang ketekunan dan semangat.

Di tengah dunia yang kerap mengandalkan suara, Salsa membuktikan bahwa komunikasi tidak selalu harus terdengar. Terkadang, cukup dirasakan melalui gerak, usaha, dan ketulusan.(*)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Fave Hotel #magang #siswa #disabilitas