Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Profil Dr. Sulistyani Eka Lestari, S.H., M.H Perjuangkan Emansipasi sebagai Rektor tanpa Tercerabut dari Nilai-Nilai Keluarga

Dwi Setiyawan • Selasa, 21 April 2026 | 16:22 WIB
Dr. Sulistyani Eka Lestari, S.H., M.H bersama suami, anak, menantu, dan ketiga cucunya. (RADAR TUBAN)
Dr. Sulistyani Eka Lestari, S.H., M.H bersama suami, anak, menantu, dan ketiga cucunya. (RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Tanggal kelahiran Doktor Sulistyani, panggilan Dr. Sulistyani Eka Lestari, S.H., M.H. nyaris berimpit dengan momentum Hari Kartini.

Lahir di Tuban, 22 April 1962, dia tumbuh dalam kultur yang menempatkan pendidikan sebagai jalan utama pengabdian. Pilihan hidupnya pun tak pernah setengah hati.

Perjalanan akademiknya berlangsung konsisten. Dari bangku SD di Rengel hingga menapaki pendidikan tinggi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya hingga jenjang magister.

Setelah itu, gelar doktor diraihnya dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. 

Baca Juga: Menghidupkan Kembali Semangat Kartini Bagi Gen Z, Inilah Sosok Perempuan Indonesia Menginspirasi

Pilihan disiplin ilmu hukum menjadi pijakan yang membentuk arah pengabdian intelektualnya. Kariernya di dunia perguruan tinggi berkembang secara bertahap.

Doktor Sulistyani menapaki jenjang akademik hingga mencapai posisi lektor kepala.

Di lingkungan Universitas Sunan Bonang (USB) Tuban, peran yang diembannya semakin strategis. Mulai dari pengelolaan administrasi akademik, jabatan pembantu rektor dalam beberapa periode, hingga akhirnya dipercaya sebagai rektor.

Dalam kapasitas tersebut, dia tidak hanya berperan sebagai pengelola institusi, namun juga sebagai penggerak penguatan kualitas pendidikan tinggi. Keterlibatannya dalam berbagai forum akademik, pelatihan, serta kegiatan ilmiah menunjukkan konsistensinya dalam menjaga relevansi keilmuan di tengah dinamika zaman.

Produktivitas akademiknya tercermin dari berbagai karya ilmiah yang dipublikasikan, baik dalam jurnal nasional maupun internasional.

RADAR TUBAN
RADAR TUBAN

Sejumlah buku yang ditulisnya juga memperkaya khazanah keilmuan di bidang hukum, khususnya terkait ketatanegaraan, administrasi negara, dan aspek sosial hukum.

Di luar aktivitas akademik, Doktor Sulistyani aktif dalam pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan sosialisasi hukum, pemberdayaan masyarakat desa, hingga edukasi publik menjadi bagian dari kontribusinya dalam menjembatani ilmu dengan kebutuhan riil masyarakat.

Sebagai perempuan, dia menjalankan peran ganda yang tidak sederhana. Di satu sisi, dia memimpin institusi pendidikan tinggi, di sisi lain, ibu dua anak itu tetap menjalankan peran dalam keluarga.

Keseimbangan tersebut mencerminkan semangat emansipasi yang tidak meninggalkan nilai-nilai dasar kehidupan.

Dalam konteks ini, sosok Sulistyani dapat dibaca sebagai representasi Kartini masa kini. Perempuan yang menempatkan pendidikan sebagai alat transformasi sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Di tengah lanskap akademik yang terus bergerak, Doktor Sulistyani berdiri tegak sebagai representasi perempuan tangguh yang tak hanya menembus batas, namun juga membukakan jalan bagi generasi di belakangnya.

Baca Juga: Ratusan Anak TK Soko dan Montong Unjuk Kreativitas di Festival Coding Kartini

Tak berhenti di ruang kelas, Doktor Sulistyani menjelma menjadi penggerak institusi. Dia dipercaya mengisi berbagai posisi strategis—dari kepala biro, pembantu rektor, hingga akhirnya memimpin sebagai Rektor USB Tuban.

Selama menakhodai USB, anak camat yang semasa kecilnya tinggal di desa memberikan torehan besar.

Mulai membuka prodi pascasarjana hukum hingga program rekognisi pembelajaran lampau (RPL). Torehan lainnya, mengantar tiga dosennya lolos hibah Dikti dan sejumlah dosennya lolos serdos.

Seperti Kartini yang memperjuangkan emansipasi tanpa tercerabut dari nilai-nilai keluarga, Doktor Sulistyani tetap berdiri sebagai ibu dan istri.

Di balik kesibukannya sebagai akademisi, selama 1999-2013, dia tetap mendampingi sang suami sebagai PNS di Magetan hingga jabatan terakhir sebagai kepala dinas pertanian selama 14 tahun.

Bahkan, di Magetan, Doktor Sulistyani diberi peran penting sebagai ketua pokja 3 kabupaten setempat. ‘’Di sinilah, saya harus berbagi peran. Menyeimbangkan tugas, karier, dan mengantar anak-anak hingga sukses . Alhamdulillah, tercapai sesuai harapan,’’ tuturnya. 

Capaian tersebut tergambar dari kiprah anak-anak Doktor Sulistyani. Anak pertamanya, dr Yustian merupakan spesialis kulit dan kelamin. Sementara si bungsu Ardian Prabowo, ST. MH adalah PNS di Pemkot Blitar. Sedangkan menantu yang pertama dr. Abdullah Khamdi, MH, kepala Puskesmas di Jatirogo.

Jejak intelektual akademisi ini tak bisa dipandang sebelah mata. Puluhan karya ilmiah, buku ber-ISBN, hingga keterlibatan dalam forum nasional dan internasional menjadi bukti konsistensinya dalam merawat nalar akademik.

Isu yang dia angkat pun tak jauh dari denyut kehidupan: hukum, perempuan, kebangsaan, hingga keadilan sosial.

Lebih dari itu, pengabdiannya menyentuh langsung masyarakat. Dari penyuluhan hukum, pemberdayaan desa, hingga advokasi kesadaran hukum, dia memastikan ilmu tidak berhenti di ruang seminar, namun turun menjadi solusi nyata.

Doktor Sulistyani adalah gambaran Kartini masa kini: perempuan yang tidak hanya menuntut ruang, namun mampu mengisinya dengan kualitas, integritas, dan dedikasi. (ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Universitas Sunan Bonang #hari kartini #Unair #surabaya