RADARTUBAN - Di balik jubah akademik dan gelar profesor yang kini disandangnya, tersimpan jejak panjang perjuangan yang ditempuh dengan kerja keras dan doa yang tak pernah putus.
Bagi Prof. Dr. Dra. Imas Cintamulya, M.Si., pendidikan bukan sekadar deretan gelar, melainkan jalan untuk mengubah nasib.
Momentum peringatan Hari Kartini menjadi refleksi atas perjalanan hidupnya. Dosen Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban itu membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang bagi perempuan untuk mencapai puncak intelektualitas.
“Berasal dari keluarga kurang mampu bukan menjadi alasan untuk menyerah. Justru itu menjadi bahan bakar untuk memiliki keinginan kuat mengubah hidup,” ujar Prof. Imas saat ditemui, Sabtu (18/4).
Baca Juga: Ratusan Anak TK Soko dan Montong Unjuk Kreativitas di Festival Coding Kartini
Perjalanan menuju gelar akademik tertinggi tidak dilaluinya dengan mudah. Tumbuh dalam keterbatasan membuatnya menyadari bahwa satu-satunya cara untuk melampaui kondisi keluarga adalah dengan berlari lebih cepat melalui pendidikan.
Perempuan kelahiran Bandung itu mengenang masa-masa sulit saat menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral. Namun, tekadnya tidak pernah goyah.
“Saya selalu melihat orang tua. Itu yang mendorong saya untuk terus belajar dan memperbaiki hidup,” tuturnya.
Baginya, biaya pendidikan bukan hambatan utama selama ada kemauan kuat. Dia meyakini keberhasilan merupakan perpaduan antara kerja keras, ketekunan, dan doa orang tua.
“Berkat doa ibu dan dukungan ayah, alhamdulillah sepanjang pendidikan selalu ada kemudahan,” katanya.
Lulusan IKIP Bandung di bidang Pendidikan Biologi itu menilai dirinya bukan sosok paling pintar. Namun, dia memastikan tidak pernah tertinggal dalam setiap tahap pendidikan yang dijalani.
Di sisi lain, perannya sebagai guru besar di Unirow sekaligus ibu rumah tangga menghadirkan tantangan tersendiri. Menurut dia, menjalani dua peran tersebut membutuhkan keseimbangan yang tidak mudah.
“Ada dilema ketika kita mendidik mahasiswa, sementara anak sendiri diasuh orang lain. Di situlah tanggung jawab kita untuk tetap memantau,” ujarnya.
Di rumah, Prof. Imas tetap menjalankan peran sebagai ibu secara utuh. Mulai dari mengurus rumah tangga hingga mendampingi anak-anak, semua dijalani dengan manajemen waktu yang disiplin serta suami yang mendukung sehingga dirinya bisa di posisi saat ini.
Ketangguhannya juga terlihat saat menempuh pendidikan magister dalam kondisi hamil. Pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa perempuan tidak memiliki alasan untuk berhenti berkembang.
“Perempuan tidak ada alasan berhenti berkarier hanya karena kodratnya. Kemampuan itu bisa terus diasah,” tegasnya.
Dalam dunia akademik, Prof. Imas tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga motivator. Di ruang kuliah, khususnya program studi Biologi Unirow, dia mendorong mahasiswa untuk berani keluar dari zona nyaman.
Dia membiasakan mahasiswa pendidikan Biologi Unirow menulis artikel ilmiah dan mengikuti seminar nasional, bahkan sebelum kewajiban publikasi menjadi tren.
“Saya ingin mahasiswa memiliki kelebihan dan tidak minder dengan kampus lain,” ujarnya.
Metode pembelajaran yang diterapkan berbasis produk. Mahasiswa dituntut menghasilkan karya nyata, seperti artikel ilmiah, modul ajar, hingga petunjuk praktikum. Pendekatan ini bertujuan membangun karakter disiplin dan tanggung jawab di universitas terbesar di Tuban.
Meski memiliki berbagai capaian akademik, dia menempatkan tanggung jawab moral sebagai fondasi utama. Menurut dia, kecerdasan tanpa integritas hanya akan menjadi sia-sia.
“Setinggi apa pun pendidikan seseorang, tanpa tanggung jawab moral akan terlihat bodoh. Itu adalah pondasi,” kata Prof. Imas.
Menutup perbincangan, pengampu mata kuliah Konservasi dan Pengetahuan Lingkungan di Unirow ini menitipkan pesan kepada perempuan agar menempuh pendidikan tinggi bukan sekadar demi jabatan atau gengsi, melainkan sebagai bekal mendidik generasi penerus.
Dia juga mengingatkan agar pendidikan tidak membuat seseorang kehilangan kerendahan hati.
“Sebagai perempuan berpendidikan, tidak boleh merasa lebih hebat. Harus tetap rendah hati. Ilmu tidak akan pernah mubazir,” ujarnya.
Perjalanan hidup Prof. Imas menjadi cerminan semangat Kartini masa kini—bahwa perubahan dapat diraih melalui kerja keras, kejujuran, dan pengabdian kepada keluarga serta bangsa. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama