Profil Prof. Dr. Marita Ika Joesidawati, ST, M.Si, M.Pd: Perempuan Tetap Harus Rendah Hati dan Injak Bumi

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 21 April 2026 | 15:22 WIB
Prof. Marita Ika Joesidawati membuktikan bahwa karir cemerlang dan peran domestik bisa berjalan selaras.
Prof. Marita Ika Joesidawati membuktikan bahwa karir cemerlang dan peran domestik bisa berjalan selaras.

RADARTUBAN - Di ruang kerjanya di Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban, Prof. Dr. Marita Ika Joesidawati, ST., M.Si., M.Pd. duduk dengan tenang.

Di balik gelar akademik yang panjang, dia tetap menempatkan diri sebagai sosok yang sederhana: seorang ibu, istri, sekaligus pendidik.

Baginya, capaian akademik tidak serta-merta mengubah peran dasar dalam keluarga.

Prinsip itu dia pegang sejak kecil, diwariskan dari ibunya. Sak pinter-pintere wong wedok iku kudu melbu pawon—sepintar apa pun perempuan, tetap harus masuk dapur.

Baca Juga: Ratusan Anak TK Soko dan Montong Unjuk Kreativitas di Festival Coding Kartini

“Saya sudah dididik seperti itu sejak kecil oleh umi saya. Pe¬rempuan tidak boleh me¬ninggalkan tanggung jawab¬nya sebagai seorang ibu dan istri, meski sedang ber¬karier,” ujarnya, Sabtu (18/4).

Sebagai guru besar, Prof. Marita mengem¬ban tang¬gung jawab akad¬emik yang tidak ringan.

Namun, di tengah kesibukan tersebut, dia tetap menjaga keseimbangan antara peran di kampus dan di rumah. Wakil Rektor I Unirow Tuban 2007-2015 itu menempatkan prioritas sebagai kunci.

Urusan yang mendesak, menurutnya, harus didahulukan—baik keluarga maupun pekerjaan. Dengan cara itu, dia mampu menjalani dua peran tanpa saling berbenturan.

Lahir di Surabaya sekitar 55 tahun lalu, Prof. Marita tumbuh dalam ling¬kungan keluarga yang agamis sekaligus nasionalis. Nilai itu membentuk cara pandangnya tentang peran perempuan, termasuk dalam menjalani karier.

RADAR TUBAN
RADAR TUBAN

“Itu sebabnya saya bisa berada di posisi ini. Tapi tetap dengan izin suami. Jika beliau tidak mengizinkan saya sebagai wanita karier, maka pastinya saya tidak bekerja,” katanya.

Dia menegaskan, perempuan harus memiliki kecakapan menyeluruh. Tidak hanya dalam pendidikan formal, namun juga dalam mengelola ke¬luarga.

Bagi guru besar bidang Ilmu Perikanan dan Kelautan Unirow ini, pendidikan tinggi tetap memiliki makna, meski tidak selalu berujung pada pekerjaan di ruang publik. 

“Ilmu itu bisa diterapkan untuk mengelola rumah dan mendidik anak, jadi tidak percuma,” tutur aka¬demisi yang menempuh S-3 di Institut Se¬puluh November Surabaya (ITS) itu.

Sebagai lulusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang, Prof. Marita juga dikenal aktif meneliti isu pesisir, khususnya di wilayah Tuban.

Dia melibatkan mahasiswa universitas swasta terakreditasi di Tuban dalam berbagai riset, mulai dari analisis penggunaan lahan tambak hingga studi intrusi air laut.

Baca Juga: Gebyar Hari Kartini dan Prestasi SMAN Grabagan, Bertumbuh Bersama Mewujudkan Generasi Unggul Masa Depan

Penelitian terbarunya pada 2025 menyoroti pengaruh probiotik terhadap pertumbuhan Rhizophora mucronata dalam kondisi salinitas tinggi.

Selain itu, dia juga mengem¬bangkan inovasi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif, meski masih dalam tahap uji laboratorium.

Dalam proses belajar-mengajar, dia menekankan partisipasi aktif mahasiswa. Prof. Marita tidak mengajar dengan pendekatan satu arah. Mahasiswa dituntut membaca, memahami, dan terlibat dalam diskusi sebelum memasuki kelas. “Saya tidak eman ilmu, asalkan mahasiswa itu bertanya,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski telah mencapai jabatan akademik tertinggi civitas akademika Unirow, Prof. Marita mengaku tidak ingin berhenti belajar. Dia menghindari zona nyaman dan terus mencari ruang untuk berkembang. “Belajar itu sepanjang hayat,” katanya dosen yang melakukan 30 penelitian sejak 2010 sampai sekarang itu.

Di tengah berbagai peran yang dijalani, dia melihat perempuan sebagai sosok yang tangguh. Mampu berdiri di ruang publik, sekaligus tetap menjaga peran dalam keluarga.

“Sak sundul langite wong wedok, tidak boleh merasa tinggi hati. Terlebih kepada suami,” ujarnya me¬nutup per¬bincangan. (saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban Unirow rektor Akademis