RADARTUBAN - Kebakaran yang kembali melanda Pasar Baru Tuban menjadi pukulan telak bagi para pedagang.
Di tengah upaya bertahan dari penurunan jumlah pembeli sejak lima terakhir, musibah itu justru datang memperparah kondisi yang sudah rapuh.
Dering telepon memecah sunyi dini hari. Di rumahnya, Hanto terbangun ketika jam dinding baru saja menunjukkan pukul 03.01 WIB. Panggilan itu datang bertubi-tubi, seolah membawa kabar yang tak bisa ditunda.
Dengan mata masih berat, Dia mengangkat telepon. Suara di seberang terdengar panik.
Baca Juga: Kebakaran Pasar Baru Tuban: 41 Kios Hangus, Penyebab Masih Diselidiki
‘’Kebakaran-kebakaran pasar kebakaran. Pak, lapakmu kebakar," teriakan itu terdengar kencang.
Kalimat itu seketika mengusir sisa kantuk. Tanpa banyak berpikir, Hanto bergegas menuju Pasar Baru Tuban. Namun, harapannya pupus bahkan sebelum sampai di depan kios. Dari kejauhan, api sudah membumbung tinggi.
Saat tiba, kobaran telah melahap habis lapaknya. Gerabah dan sesek yang baru sepekan lalu dia datangkan dalam jumlah besar tak tersisa. Semua lenyap, ditelan api yang sulit dijinakkan.
Dia hanya bisa berdiri, menyaksikan si jago merah melahap tanpa ampun, hingga akhirnya padam setelah petugas pemadam kebakaran datang. Yang tersisa hanyalah puing dan arang.
“Ini baru seminggu saya kulakan, sekarang malah seperti ini (terbakar, Red),” ujarnya lirih.
Dia menaksir kerugian lebih dari Rp 25 juta. Bagi Hanto, angka itu bukan sekadar hitungan rupiah. Itu adalah modal untuk bangkit—yang baru saja dia kumpulkan kembali setelah kebakaran sebelumnya pada 2020.
Peristiwa dini hari itu, menurutnya, diduga dipicu korsleting listrik di salah satu kios yang menjual barang mudah terbakar.
Api kemudian cepat membesar, menjalar di antara bangunan yang berdempetan. Saat dia tiba, segalanya sudah terlambat. “Karena waktu sampai di sini api sudah besar, sehingga tidak ada yang bisa diselamatkan,” katanya.
Ada hal lain yang masih mengganjal di benaknya. Sejak magrib hingga tengah malam, dia mengaku sulit memejamkan mata. Perasaan gelisah datang tanpa sebab yang jelas. Seolah memberi tanda akan sesuatu.
“Saya pun bertanya-tanya ada alamat apa ini, dan ternyata ada kejadian ini,” ungkapnya.
Kini, yang tersisa bukan hanya kerugian materi. Trauma kembali menyeruak. Sejak mulai berdagang di pasar itu pada akhir 1980-an, Hanto sudah tiga kali mengalami kebakaran pada 1999, 2020, dan sekarang.
Baca Juga: Dari Dapur Rumahan ke Pasar Global, Wan Alan Tembus Ekspor Berkat LinkUMKM BRI
Dia masih mengingat betul peristiwa pertama. “Paling parah itu pada 1999 lalu semua habis, dan saya masih ingat kejadiannya hari kedua Ramadan,” kenangnya.
Nasib serupa dialami Rifai, pedagang lain yang turut menjadi korban. Dia tiba di lokasi sekitar pukul 03.30 WIB dan hanya bisa terpaku melihat kiosnya—yang selama ini digunakan sebagai gudang penyimpanan—sudah rata dengan tanah.
Perabotan rumah tangga dan plastik yang dia simpan, sebagian besar merupakan barang baru, hangus tanpa sisa. Dia mengaku terlambat mengetahui kejadian karena data internet di ponselnya sempat dimatikan.
Begitu kembali aktif, pesan tentang kebakaran langsung masuk. Dia pun bergegas ke pasar. “Sampai lokasi semua sudah terbakar,” katanya.
Kerugian yang dia alami bahkan jauh lebih besar. Dia memerkirakan nilainya mendekati Rp 300 juta.
Beruntung, satu kios yang dia gunakan untuk berjualan masih tersisa. Meski stok barang tinggal sedikit, tempat itu kini menjadi satu-satunya harapan agar roda usahanya tetap berputar.
Di antara puing-puing yang masih hangat, para pedagang seperti Hanto dan Rifai kini dihadapkan pada pilihan yang sama: bertahan, atau kembali memulai dari nol untuk kesekian kalinya.
Dalam situasi sepinya pasar, kebakaran menjadi tamparan keras bagi pedagang.
Bukan hanya menghanguskan kios dan barang dagangan, namun juga mengikis harapan pedagang yang selama ini bertahan di tengah perubahan zaman akibat perubahan perilaku konsumen ke belanja daring, beralih ke minimarket modern, dan penurunan daya beli. (*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama