Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Perjalanan Anto, Chef Asal Tuban di Hotel Berbintang Lima di Madinah: Anak Pesisir yang Menaklukkan Dapur Mewah Para Sultan 

Dwi Setiyawan • Minggu, 3 Mei 2026 | 14:04 WIB
Suprianto Panjio Sujono mengenakan seragam chef ber-pin merah putih di restoran Hilton Agate Madinah. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)
Suprianto Panjio Sujono mengenakan seragam chef ber-pin merah putih di restoran Hilton Agate Madinah. (DWI SETIYAWAN/RADAR TUBAN)

RADARTBUAN - Di Madinah, nama chef Anto cukup dikenal. Siapa sangka, nama head chef di restoran fine dining Hilton Agate Madinah ini berasal dari Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Berikut laporan Dwi Setiyawan dari Madinah-Makkah.

Tak semua chef berangkat dari dapur mewah. Sebagian justru ditempa dari dapur yang panasnya tak kenal ampun. Salah satunya Suprianto Panjio Sujono, nama lengkap Anto.

Kamis (30/4), wartawan Jawa Pos Radar Tuban menyaksikannya berdiri di dapur restoran fine dining Hilton Agate Madinah.

Fine dining adalah jamuan mewah yang menawarkan pengalaman kuliner berkualitas tinggi dengan pelayanan eksklusif dan suasana elegan. Jamuan ini banyak dinikmati kalangan elit, termasuk para sultan.

Baca Juga: Menhaj Peringatan Masyarakat Tawaran Haji Tanpa Antre Berujung Penipuan

Mengenakan seragam koki hitam dengan pin merah putih di kerah kanannya, siang itu, dia memimpin timnya. Mulai mengatur ritme kerja hingga menentukan rasa yang akan disajikan ke tamu-tamu penting.

‘’Ada kebanggaan kalau mengenakan pin merah putih ini,’’ tutur Anto menunjukkan pin-nya sebagai bentuk nasionalisme, ketika memulai wawancara. 

Head chef adalah sebuah posisi yang bagi banyak orang terdengar prestisius. Namun, sedikit yang tahu, jalan menuju titik tersebut tak selalu mulus.

‘’Semua ini saya jalani dengan perjuangan yang berat dan penuh liku. Belum tentu semua orang kuat menghadapinya,’’ kata dia. 

Di hotel yang berlokasi di King Fahd RD, Badaah, Madinah 42311, persisnya seberang Masjid Nabawi dan memiliki akses mudah ke pintu 25, Anto bukan satu-satunya pekerja dari Indonesia.

Satu pekerja lain dari Bandung bertugas sebagai waiter. Tentu saja, nama Anto lebih difamiliar, karena skill-nya yang luar biasa. 

Anto lahir di Kingking, Tuban pada 24 Agustus 1986. Sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa. Jauh dari hiruk-pikuk industri kuliner global. Jauh dari bayangan restoran bintang lima.

Namun, justru dari keterbatasan itu, tekadnya tumbuh. Lulus dari Diploma Hotel and Tourism Academy Surabaya pada 2006, Anto memutuskan berangkat ke Timur Tengah. Tujuannya hanya satu: mencari peluang dan menguji diri.

Dubai menjadi gerbang pertamanya. Di Jumeirah Beach Hotel, bapak dua anak ini memulai dari posisi paling bawah: commis atau juru masak tingkat pemula.

Bukan jabatan yang bisa dibanggakan. Lebih banyak kerja fisik. Datang paling pagi. Pulang paling akhir. Aktivitas rutinnya membantu chef senior memotong, membersihkan, dan menyiapkan bahan.

Dari Jumeirah Hotel, Anto pindah ke Mina Asalam Hotel dan Jumeirah Beach Hotel. Ketiga hotel di Dubai tersebut masih satu perusahaan. 

Baca Juga: Setelah Terbang Sembilan Jam ke Tanah Suci, Jemaah Haji Tuban Jaga Kebugaran dengan Senam Peregangan

Dari posisi yang sering dianggap biasa, justru lahir ketahanan yang luar biasa. Enam tahun Anto mampu bertahan. Pada tahun ketujuh dan setelah naik satu tingkat, dia pindah ke Shangri-La Hotel Dubai.

Di hotel ini, dia menjadi demi chef de partie atau wakil dari chef senior. Dengan jabatan tersebut, dia mulai dipercaya memegang spesialisasi dan masuk ke sushi bar untuk mengelola makanan Asia.

‘’Saya merasa passion saya pas setelah masuk sushi bar,’’ ujar pria yang mahir berbahasa Arab dan bahasa Inggris itu. 

Dari Dubai, Anto melangkah ke Arab Saudi dan bergabung dengan Hilton Hotels and Resorts dan Waldorf Astoria di Jeddah. Di sini, dia benar-benar ditempa selama tujuh tahun. Bukan waktu yang sebentar.

Di tempat barunya, dia menangani restoran Al Safina. Mengolah sushi, sashimi, hingga menu internasional. Melayani banquet atau jamuan makan besar. Dia menyebut menyiapkan jamuan ini penuh tekanan tinggi.

Terlebih, standarnya internasional. ‘’Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat besar,’’ tuturnya.

Namun, dia mampu bertahan. Tahun 2018, dia Kembali hijrah ke Qatar dan bergabung dengan Movenpick Hotel Doha. Jabatannya chef de cuisine sushi. Di Hotel Doha, untuk pertama kalinya dia memimpin dapur.

Bukan lagi sekadar pelaksana, tapi pengarah. Tugasnya mengatur tim. Menjaga kualitas dan mengontrol biaya.

‘’Semua harus presisi. Semua harus konsisten,’’ ujarnya menggambarkan tekanan berat dan penuh tantangan yang diterima kala itu. 

Setelah dua tahun berlalu, datang titik balik. Suami Nur Diana Irmawanti ini sekarang dipercaya sebagai head chef di restoran fine dining Hilton Agate Madinah sejak November 2020 hingga sekarang. (*/bersambung)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #madinah #makkah #chef