Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kisah Chef Anto, Perantau Tuban yang Raih Penghargaan Bergengsi di Madinah

Dwi Setiyawan • Senin, 4 Mei 2026 | 17:05 WIB
Suprianto Panjio Sujono bersama wartawan Jawa Pos Radar Tuban Dwi Setiyawan di Madinah. (DOKUMENTASI RADAR TUBAN)
Suprianto Panjio Sujono bersama wartawan Jawa Pos Radar Tuban Dwi Setiyawan di Madinah. (DOKUMENTASI RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Kemampuan Anto memimpin restoran Hilton Agate Madinah tertaraf internasional tersebut berbuah penghargaan The Best in Madinah dari pemerintah Arab Saudi. Berikut laporan lanjutan Dwi Setiyawan dari Madinah-Makkah.

Dari layar ponselnya, Anto menunjukkan sebuah plakat kayu bertuliskan huruf Arab. Terjemahannya kurang lebih; pemenang penghargaan medali keunggulan untuk restoran dan kafe. 

Di balik plakat tersebut, tersimpan capaian panjang seorang perantau dari Kelurahan Tuban, Kecamatan Tuban, Jawa Timur.

Baca Juga: Perjalanan Anto, Chef Asal Tuban di Hotel Berbintang Lima di Madinah: Anak Pesisir yang Menaklukkan Dapur Mewah Para Sultan 

Ya, berkat pengalamannya berkiprah di hotel-hotel berbintang di Timur Tengah, Anto mampu memberikan sensasi kuliner bagi tamu-tamu penting restoran di salah satu kota paling sakral di dunia tersebut. 

Kepada wartawan koran ini, dia membanggakan kemampuannya menyanyikan beragam menu jamuan kelas atas yang diolahnya dengan hati. Mulai Western Steak, Asian Japanese, Thai, Chinese Korean, Mediterean Italian, hingga Arabic.

‘’Japanese Korean Italian itu fashion saya, jadi suka banget,’’ ujarnya. 

Bagi Chef Anto, mengolah dengan sentuhan hati tidak sekadar mencampur bahan dan mengikuti resep. Menurut dia, memasak adalah seni menuangkan rasa lewat tangan dan menyatukan perasaan lewat aroma yang mengepul.

‘’Saat kita memasak dengan hati, setiap irisan, setiap adukan bumbu, dan setiap takaran terasa lebih bermakna. Kita tidak hanya memikirkan rasa yang enak, namun juga senyum bahagia orang yang akan menyantapnya,’’ tutur dia berfilosofi.

Lulusan SDN Kingking 1 Tuban ini mengungkapkan, under pressure bekerja fine dining Hilton Agate Madinah tak kalah beratnya. ‘’Tekanan itu karena saya harus kontak langsung dengan customer,’’ ujarnya. 

Meski kariernya sekarang berada di puncak, Anto mengaku tak berpuas diri. Dia berobsesi mencari peluang baru. Ingin berkembang dan menambah pengalaman.

Bulan lalu, Anto mengaku diterima bergabung dengan Fairmont Clock Tower Hotel Makkah. Posisinya sebagai head chef. 

Bergabung dengan hotel yang terletak di dalam kompleks Abraj Al-Bait, tepat di depan Masjidilharam yang dikenal dengan jam raksasanya di atas menara merupakan impian bagi sebagian besar chef.

‘’Keputusan terakhir, saya nggak jadi join, karena perusahaan lama nggak kasih release dan tidak diperbolehkan,’’ ujar penggemar urap-urap nasi jagung dan becek mentok itu.

Meski sekarang menjadi chef ternama, namun satu hal tak berubah dari pria kelahiran Kingking dan sekarang membangun rumah di Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu ini; ritme kerja, disiplin, haus belajar, dan tidak mengeluh dengan tantangan.

Poin terakhir inilah yang kerap dia tularkan kepada chef junior agar memiliki mental yang kuat dan termotivasi mengikuti jejaknya. ‘’Karier ini tidak semulus yang dibayangkan orang. Perjalanan panjang ini cukup berliku dan melelahkan,’’ ujarnya.

Di luar dapur, kehidupan Anto sebagai pekerja migran menyisakan tantangan tersendiri. Waktu bersama keluarga menjadi terbatas.

Dalam setahun, dia memperoleh jatah libur public holiday atau hari libur resmi sembilan hari per tahun. Sedangkan libur vacation atau libur istirahat 21 hari. Jadi setahun, dia mendapat jatah 30 hari. 

Baca Juga: Kisah Haru Chef Renatta Bersama Vidi Saat Masa Kecil yang Dilalui Hingga Jadi Kelinci Percobaan

Jatah libur tersebut belum termasuk jatah mingguan. Karena posisinya selevel supervisor, Anto mendapat jatah 10-12 jam per minggu. Jatah inilah yang jarang diambilnya. Terlebih, kalau restorannya ramai dan tidak bisa ditinggal.

‘’Jatah inilah yang saya kumpulkan untuk pulang ke Tuban,’’ tutur pria 40 tahun itu. Kalau seluruh jatah libur itu diambil semuanya, total libur Anto selama setahun 45 hari.

Ditanya hal terberat selama bekerja di Jazirah Arab, Anto menyebut rindu dengan anak, istri, dan keluarga.

Untuk melepas rindu sekaligus mengetahui kabar orang-orang tercintanya, sebelum berangkat kerja, Anto menyempatkan video call (VC) dengan mereka. Terkadang, sebelum anak-anaknya tidur malam pun, sekitar pukul 21.00 (WIB), dia juga VC. 

Beratnya perantauan Anto ke Jazirah Arab yang harus jauh dari keluarga terbayar dengan bebunga. Sebulan, dia mengaku digaji sekitar Rp 25 juta. Pendapatan tersebut belum termasuk tunjangan asuransi kesehatan, tiket gratis penerbangan ke tanah air selama cuti, dan fasilitas tempat tinggal.

Setelah melalang buana di sejumlah hotel berbintang di Timur Tengah, kehidupan Anto dan keluarganya berubah 180 derajat. Kepada wartawan koran ini, dia menceritakan masa mudanya yang serbakekurangan.

Anto masih mengingat jelas ketika dirinya belum lulus kuliah diploma, dia mencoba melamar kerja di sebuah hotel di Bali. 

Untuk memenuhi persyaratan mahir berbahasa Inggris, kedua orang tuanya tidak kuat membiayai dirinya untuk ikut kursus bahasa Inggris di Surabaya yang biayanya cukup mahal. Bahkan, kursus bahasa Inggris di kampungnya, yang biayanya jauh lebih murah pun tak mampu dijangkaunya. 

Dalam kondisi tersebut, anak pasangan almarhum Sudjono dan almarhumah Saerah ini tak menyerah. Dia belajar sendiri di rumah. Kalau di luar rumah, dia menjadikan teman-teman sepermainannya di kampung sebagai lawan komunikasinya.

‘’Karena teman-teman tidak memahami bahasa Inggris yang saya ucapkan, mereka selalu menertawakan,’’ ujar lulusan Sekolah Pelayaran Umum (SPU) Muhammadiyah Tuban itu terkekeh, mengingat masa lalunya. 

Bukan hanya itu. Untuk mencukupi kebutuhan selama kuliah, anak kedua dari empat bersaudara itu juga sempat nyambi kerja part time di Hotel Majapahit Surabaya sebagai waiter atau pelayan dengan gaji yang hanya ratusan ribu.

Kini, setelah melalui perjalanan panjang, Anto mulai memikirkan masa depan. Dia ingin kembali ke Tuban dan membangun usaha kafe serta katering. Usaha itu direncanakan untuk memberdayakan anak-anak yatim.

Sebuah keinginan yang berangkat dari pengalaman hidupnya sendiri. ‘’Saya dari kecil sudah yatim. Makanya, saya ingin membahagiakan mereka. Mudah-mudahan terkabul,’’ ujarnya. (*) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #madinah #chef #Arab Saudi