Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

14 Tahun Menabung dari Recehan, Mukarromah, Penjual Mainan di Jenu Akhirnya Berangkat Haji

Dwi Setiyawan • Sabtu, 9 Mei 2026 | 16:16 WIB
Mukarromah Basyar menabung selama 14 tahun dari jualan mainan di Jenu untuk berangkat haji. (Dok. Radar Tuban)
Mukarromah Basyar menabung selama 14 tahun dari jualan mainan di Jenu untuk berangkat haji. (Dok. Radar Tuban)

RADARTUBAN- Di depan MI Mambaul Futuh Jenu, sebuah bedak kecil berukuran sekitar 3x4 meter berdiri sederhana di tepi jalan. Dari tempat itulah Mukarromah Basyar merawat mimpi yang dia simpan rapat selama belasan tahun: berangkat ke Tanah Suci.

Perempuan asal Desa Beji, Kecamatan Jenu, itu akhirnya menunaikan ibadah haji setelah menunggu selama 14 tahun. Jalan menuju Baitullah yang dia tempuh bukan jalan mudah. Tidak ada penghasilan tetap, tidak pula usaha besar dengan keuntungan melimpah. Semua bermula dari uang receh hasil berjualan mainan anak-anak dan jajanan.

Mukarromah membuktikan bahwa mimpi besar tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, harapan justru tumbuh dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan tekun dan sabar.

Baca Juga: Usai Arbain di Madinah, Jemaah Haji Tuban Menuju Makkah: Mulai Memasuki Rangkaian Umrah Wajib

Tak banyak orang memperhatikan perempuan 57 tahun itu saat menunggu pembeli di pinggir jalan. Namun diam-diam, dari penghasilan harian yang tak menentu, dia menyisihkan sebagian uangnya untuk tabungan haji.

“Kadang Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu, tergantung hasil dagangan hari itu,” ujarnya lirih saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya.

Tabungan itu dia kumpulkan tanpa banyak cerita. Bahkan, keluarga dan orang-orang terdekatnya tidak mengetahui bahwa dia sedang mempersiapkan diri untuk berhaji. Mukarromah memilih menyimpan mimpinya sendiri, tanpa ingin merepotkan siapa pun.

Selain menabung, dia memiliki kebiasaan lain yang terus dilakukan selama bertahun-tahun: mengantar keberangkatan jemaah haji dari Kecamatan Jenu.

Setiap kali ada pelepasan jemaah di Masjid Astana Jenu, Mukarromah selalu datang. Dia berdiri di antara keluarga yang melepas sanak saudaranya ke Tanah Suci.

Di tengah doa-doa yang dipanjatkan untuk orang lain, dia diam-diam menyelipkan harapannya sendiri. ‘’Dalam hati, selalu muncul pertanyaan, kapan gilirannya saya tiba?’’ ungkapnya.

Mukarromah percaya, tidak ada usaha yang sia-sia. Dia meyakini Allah mendengar setiap doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh, sekalipun lewat langkah kecil yang nyaris tak terlihat.

Karena itu, ketika panggilan berhaji akhirnya datang, banyak kerabat dan tetangga merasa terkejut. “Banyak yang kaget. Saya memang tidak pernah cerita. Mereka baru tahu saat pelepasan,” katanya.

Di usianya yang tidak lagi muda, Mukarromah juga berusaha mempersiapkan kondisi fisiknya. Dia rutin berjalan kaki setiap pagi, menjaga pola makan, dan membawa obat untuk tekanan darah serta kolesterol.

Kini, di hadapan perjalanan panjang menuju Tanah Suci, Mukarromah hanya menyimpan harapan sederhana.

“Kulo nyuwun sehat biar bisa menuntaskan ibadah, serta kebaikan bagi anak-anak dan cucu,” ujarnya.(*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Mukarromah Basyar #menabung #jenu #Haji