RADARTUBAN - Berangkat dari keprihatinan melihat kondisi jalan yang berbatu dan licin, sejumlah petani di Dusun Bogor dan Secang, Desa Bektiharjo, serta petani dari Dusun Tlogopule, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding berinisiatif membangun jalan secara swadaya.
Di saat proyek fisik pembangunan jalan yang dicanangkan pemerintah daerah tak kunjung dimulai. Di nun selatan kota Tuban, tepatnya di wilayah perbukitan Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding.
Siang itu, di bawah terik matahari yang menyengat, puluhan warga tampak sibuk berbagi tugas—memperbaiki jalan di sebuah lahan persil.
Baca Juga: Banyak Jalan di Desa Ini Mendadak di Perbaiki, Imbas Dari Pemeriksaan Ratusan Kades oleh Polda
Sepintas, aktivitas bapak-bapak desa itu seperti orang-orang proyek yang sedang mengerjakan proyek pemerintah. Bedanya, tidak ada yang menjadi mandor, tidak ada alat berat, dan tidak ada papan proyek APBD yang terpancang di sisi jalan.
Satu sama lain tampak guyub—berbagi tugas secara gotong royong. Meratakan jalan yang terjal, lalu dicor menggunakan semen.
Lik Minto, petani yang menginisiasi kegiatan tersebut, pun tampak sibuk memanggul semen. ‘’Sebentar ya, Mas. Tak nyampur semen dulu,’’ ujarnya sembari memasukan semen ke dalam molen.
Setelah tugasnya beres, Lik Minto baru menepi dan menemui wartawan koran ini.
‘’Kok tahu, Mas, kalau ada kegiatan di sini,’’ ujarnya setelah mengetahui kehadiran Jawa Pos Radar Tuban. Usai bercakap ringan dan saling memperkenalkan diri, Lik Minto menceritakan kegiatan tersebut.
‘’Idenya memang dari saya, tapi ini (perbaikan jalan, red) merupakan kegiatan gotong royong warga,’’ katanya.
Perbaikan jalan secara swadaya ini berangkat dari keprihatinan bersama melihat kondisi jalan yang semakin sulit dilintasi. Terlebih saat hujan, tidak sedikit warga yang terjatuh akibat kondisi jalan licin dan berbatu.
‘’Dari situ (melihat banyak warga yang terjatuh, red), akhirnya kami berinisiatif memperbaikinya setelah bertahun-tahun dengan kondisi jalan yang apa adanya,’’ ujar dia.
Lebih lanjut, Lik Minto menyampaikan, setelah dirembuk bersama, para petani pesanggem yang saban hari melintas di jalan tersebut akhirnya bersedia untuk iuran. Kurang lebih ada 300 orang dari tiga dusun.
‘’Sebenarnya tidak dipatok harus iuran berapa. Tapi akhirnya disepakati, setiap satu kilogram bibit yang ditanam minimal Rp 15 ribu. Jadi, kalau sekali tanam lebih dari satu kilo, maka tinggal dikalikan,’’ bebernya.
Lantaran lahan perhutani yang melintas di jalan tersebut ada tiga dusun, sehingga dibagi dibagi koordinator di masing-masing dusun. Kurang lebih selama satu bulan, akhirnya terkumpul dana yang cukup besar.
Baca Juga: Anggaran Rp 58,6 Miliar Disiapkan untuk Taman, DPRD Tuban Minta Prioritaskan Jalan Rusak
Totalnya Rp 27 juta. ‘’Dana yang terkumpul ini kami gunakan untuk ngecor jalan sepanjang 1,4 kilometer,’’ jelasnya.
Marto, petani lain yang juga sesepuh desa setempat, mengaku sangat senang dengan antusiasme warganya saat diajak membangun jalan. Tanpa bantuan dari pihak mana pun mereka berani memperbaiki jalan sendiri. Meski sebenarnya uang yang terkumpul itu belum cukup untuk menyelesaikan perbaikan jalan.
Namun, dengan semangat gotong royong masyarakat, proses perbaikan akan terus dilakukan seiring rezeki yang didapat para petani.
‘’Alhamdulillah, ini menjadi awal yang baik,’’ ujarnya setelah puluhan tahun bertahan dengan kondisi jalan yang apa adanya.
Lebih lanjut, Mbah Marto mengatakan, pihaknya tidak berharap ada perbaikan dari pemerintah daerah.
Sebab, jalan yang kini diperbaiki adalah jalan persil. Karena itu, yang bisa dilakukan hanya gotong royong bersama warga. ‘’Yang penting bisa bermanfaat untuk orang banyak,’’ tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama