Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dona Melianda Fitri, Berbagi Pengalaman Menjadi Penulis: Dipandang Sebelah Mata dan Dijustifikasi Tidak Bikin Kaya, Itu Hal Biasa

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 24 Mei 2026 | 16:28 WIB
Penulis muda asal Tuban, Dona Melianda, mengajak generasi muda berani berkarya tanpa takut penilaian orang lain. (DONA MELIANDA FITRI UNTUK RADAR TUBAN)
Penulis muda asal Tuban, Dona Melianda, mengajak generasi muda berani berkarya tanpa takut penilaian orang lain. (DONA MELIANDA FITRI UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Dianggap hobi yang tak menjanjikan masa depan, Dona Melianda Fitri justru memilih menekuni hobi menulis. Enam karya buku berlabel ISBN telah dilahirkan oleh mahasiswa S1 Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini.

Dara yang karib disapa Dona ini menyadari bahwa masa depan anak muda sering kali diukur dengan parameter yang serba nyata.

Misalnya, mengenakan seragam dinas, menjadi pekerja kantoran, atau upah bulanan dari pabrik-pabrik besar. Di luar pakem status dan materi tersebut, anak muda sering kali dipandang sebelah mata.

Setidaknya, itulah yang dirasakan Dona saat sebagian orang mengetahui hobinya menulis. Aktivitas menulis yang kerap menghabiskan waktu berjam-jam menghadap kertas atau layar gawai sering dianggap sebagai pekerjaan sia-sia.

Baca Juga: Ghefira Az-Zahra, Siswi SMKN 1 Tuban yang Pilih Menulis Cerpen daripada Scroll Media Sosial

‘’Menulis itu sering kali dicap bukan pekerjaan yang menjanjikan. Ada beberapa orang yang menganggapnya sekadar hobi pengisi waktu luang, atau bahkan aktivitas yang tidak punya masa depan jelas," kenang Dona mengawali obrolan dengan Jawa Pos Radar Tuban.

Alih-alih mendapatkan suntikan moral, dara cantik asal Desa Dahor, Kecamatan Grabagan ini justru harus kenyang menerima skeptisisme sosial dan riak-riak rasa iri yang samar-samar berembus di sekitarnya.

Namun, di sinilah letak titik balik kedewasaan berpikirnya. Daripada tenggelam dalam amarah atau memilih mundur dan mengubur mimpinya, dia justru membalikkan energi negatif tersebut menjadi sumber motivasi.

“Saya ingin membuktikan bahwa karya tulis juga bisa memberikan dampak positif bagi banyak orang, bukan sekadar coretan tanpa arti,” tegas gadis yang lahir pada rasi bintang Libra itu dengan nada suara yang mantap tanpa gurat dendam. 

Bakat Dona menulis sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Hal yang rutin dilakukan adalah menulis puisi dan merajut aktivitas hariannya ke buku diary.

Lambat laun, bakat alaminya itu tercium oleh guru bahasa Indonesia. Di sanalah dia digembleng hingga salah satu karyanya berhasil lolos masuk buku terbitan bersama kala itu.

Pengalaman manis di masa kecil itulah yang memicu kesadaran mendalam di kepalanya. Gadis 20 tahun ini mulai mengerti bahwa menulis bukan lagi sekadar pelarian emosional, melainkan sebuah jembatan untuk menyampaikan gagasan, pengalaman hidup, dan perasaan batin kepada khalayak luas.

Demi mematangkan kemampuannya dan mendobrak keterbatasan diri, Dona terus memperkaya kosakata dan imajinasi dengan membaca banyak novel. 

Pembuktian demi pembuktian pun terbayar. Satu per satu, naskah utuh lahir dari kreativitasnya. Bukan sekadar tulisan lepas, melainkan karya-karya utuh berupa novel yang secara resmi mengantongi International Standard Book Number (ISBN).

Judul-judul buku seperti Kembali untuk Pulang, Sembuh Dari Luka, dan Kamu Berhak Bahagia menjadi pembuktian berkelas atas pandangan miring dari orang-orang.

Baca Juga: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Hidupkan Kembali Kebiasaan Menulis Tangan di Sekolah

Kini, Dona sedang berada dalam proses merampungkan penerbitan bukunya yang keenam. Di samping sibuk kuliah, Dona juga membuktikan kemandirian finansialnya dengan bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang literasi dan teknologi. Sebuah tamparan realitas bagi mereka yang dulu menganggap aktivitasnya tidak menjanjikan masa depan.

Meski demikian, lulusan SMKN Rengel ini mengakui bahwa menjaga konsistensi di tengah sudut pandang miring bukanlah perkara gampang. Musuh terbesarnya terkadang hadir dalam bentuk kejenuhan batin dan rasa malas dari dalam diri sendiri. 

‘’Tantangan terbesar biasanya menjaga konsistensi dan melawan rasa malas terhadap diri sendiri. Kadang ada fase ketika ide terasa stag atau merasa tulisan belum cukup bagus,” tuturnya jujur.

Beruntung, dia memiliki fondasi kepenulisan yang kuat dari sosok yang menginspirasinya. Penyair dan sastrawan multitalenta asal Bandung, Anton De Sumartana.

Dari beliau, Dona belajar bahwa kekuatan sebuah tulisan tidak terletak pada seberapa megah dia dipuji, melainkan pada seberapa dalam dirinya mampu menggerakkan hati dan memotivasi pembacanya.

Berangkat dari pengalaman hidupnya yang kenyang akan skeptisisme dari lingkungan sekitar, Dona menyelipkan pesan mendalam untuk generasi muda di Tuban yang ingin mulai menulis namun kerap didera ketakutan akan penilaian orang lain. Dia meminta para pemula untuk menutup mata dan telinga dari komentar-komentar yang mematahkan semangat di awal proses kreatif.

‘’Jangan terlalu takut memikirkan apakah tulisan kalian bagus atau tidak, mulailah dulu dari hal-hal sederhana seperti pengalaman pribadi atau cerita sehari-hari. Kemudian, jangan terlalu sering mengedit tulisan di awal atau di tengah proses menulis, karena itu justru bisa membuat kita kehilangan alur dan semangat. Fokus dulu menyelesaikan tulisan sampai akhir, baru kemudian lakukan revisi. Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai,” pungkasnya dengan nada memotivasi. (saf/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #unesa #penulis #surabaya