RADARTUBAN - Senin (25/5) dini hari ini yang bertepatan dengan 8 Zulhijah, seluruh jemaah haji menuju Arafah. Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) bukan sekadar titik persinggahan dalam rangkaian ibadah haji.
Tiga tempat itu menyimpan jejak sejarah para nabi, ruang pengampunan dosa, sekaligus gambaran utuh tentang hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia.
Berikut makna Armuzna yang dipaparkan Rois Idaroh Wustho Jatman Jatim, KH Fathul Huda yang sekarang tengah menjalankan ibadah haji dan disarikan Jawa Pos Radar Tuban.
Armuzna bukan hanya perjalanan fisik yang melelahkan. Lebih dari itu, Armuzna adalah perjalanan ruhani untuk kembali menjadi manusia yang bersih.
Baca Juga: Jemaah Haji Tuban Bersiap Menuju Arafah Bersiap Jalani Rangkaian Armuzna
Di Padang Arafah, jutaan manusia berdiri dengan pakaian yang sama. Tidak ada perbedaan jabatan, kekayaan, maupun status sosial. Semua larut dalam doa dan pengharapan.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan, di tempat itulah Nabi Adam AS dipertemukan kembali dengan istrinya, Siti Hawa, setelah sekian ratusan tahun terpisah sejak diturunkan ke bumi. Pertemuan itu memiliki makna bahwa Allah selalu menyediakan jalan pulang bagi hamba-Nya yang mau bertobat.
Karena itu, Arafah dikenal sebagai tempat terbaik untuk memohon ampun. Rasulullah SAW menyebut tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka selain hari Arafah. Pada momentum itu pula, para malaikat menyaksikan manusia datang dengan penuh kerendahan hati.
Di Arafah, manusia seperti dikembalikan pada hakikat dirinya: lemah, penuh dosa, dan membutuhkan pertolongan Tuhan. Karena itu, istighfar menjadi amalan yang sangat dianjurkan selama di Armuzna. Istighfar bukan sekadar ucapan meminta maaf kepada Allah. Dalam Alquran, istighfar berkaitan erat dengan terbukanya jalan keluar dari kesulitan hidup.
Istighfar juga memiliki dimensi yang luas. Bukan hanya membersihkan dosa, namun juga membuka pintu kemudahan, rezeki, dan ketenangan hidup. Karena itu, banyak ulama menyebut istighfar sebagai “kunci langit”. Ketika manusia merasa jalan hidupnya buntu, Islam mengajarkan untuk kembali mengetuk pintu Allah melalui taubat dan istighfar.
Setelah wukuf di Arafah, jamaah bergerak ke Muzdalifah. Tempat ini menjadi ruang jeda setelah kerja berat spiritual di Arafah. Jamaah bermalam di tanah terbuka, mengumpulkan batu kerikil untuk melontar jumrah di Mina. Muzdalifah mengajarkan kesederhanaan dan kepasrahan. Tidak ada kemewahan. Yang ada hanyalah langit terbuka, hamparan tanah, dan manusia yang sedang belajar tunduk sepenuhnya kepada Allah.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Mina. Di tempat inilah jamaah kembali “bekerja”. Mereka melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan. Ritual ini merefleksikan perjuangan manusia melawan hawa nafsu, kesombongan, kerakusan, dan sifat-sifat buruk dalam dirinya.
Karena itu, Armuzna sesungguhnya menggambarkan perjalanan hidup manusia. Ada fase berjuang keras di Arafah, ada fase beristirahat dan merenung di Muzdalifah. Selanjutnya, fase kembali menghadapi tantangan hidup di Mina.
Keistimewaan Arafah semakin lengkap karena pada momentum haji wada’, Rasulullah SAW menerima salah satu ayat terakhir Alquran. Arti dari ayat terakhir tersebut: Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. (QS Al-Maidah: 3)
Ayat itu turun di Padang Arafah pada 9 Zulhijah. Para ulama memaknai turunnya ayat tersebut sebagai penegasan bahwa Islam telah sempurna. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, namun juga hubungan dengan sesama manusia, ekonomi, hukum, pendidikan, hingga akhlak.
Baca Juga: Seluruh Jemaah Haji Indonesia Telah Tiba di Tanah Suci, Kemenhaj Fokus pada Persiapan Armuzna
Hanya ta'wil atau mengalihkan makna segala sesuatu yang sudah sempurna tampak kekurangannya setelah wafatnya Rasulullah.
Dalam kaidah usul fikih dikenal ungkapan bahwa sesuatu yang telah sempurna tidak lagi tampak kekurangannya. Kesempurnaan Islam terletak pada kemampuannya menjawab persoalan manusia sepanjang zaman. Nilai-nilainya tetap relevan, meski dunia berubah.
Karena itu, ukuran kemajuan manusia bukan hanya harta dan kecerdasan. Sejarah mencatat sahabat seperti Abdurrahman bin Auf memiliki kekayaan luar biasa, namun tetap hidup sederhana dan dermawan. Peradaban Islam klasik juga melahirkan ilmuwan yang menguasai banyak disiplin ilmu sekaligus, mulai astronomi, kedokteran, filsafat, hingga tasawuf.
Armuzna akhirnya mengajarkan satu hal penting: manusia tidak cukup hanya cerdas atau kaya. Manusia harus memiliki arah hidup. Dan, arah itu ditemukan ketika seseorang dekat dengan Allah.
Di Arafah manusia menangis meminta ampun. Di Muzdalifah manusia belajar tenang dan berserah.
Di Mina manusia kembali berjuang melawan dirinya sendiri.(ds)
Editor : Yudha Satria Aditama