RADARTUBAN - Anggapan bahwa panggung juara hanya milik pelajar yang mengenyam pendidikan di pusat kota seketika runtuh di tangan Nanda Galih Prasetyo.
Siswa kelas III SDN Tenggerkulon, Kecamatan Bancar ini sukses menjadi pemantik motivasi dan rasa bangga setelah berhasil menjadi Juara 1 Lomba Literasi Numerasi Jawa Pos Radar Tuban 2026.
Galih—sapaan karib Nanda Galih Prasetyo—membuktikan bahwa kualitas pendidikan di Kabupaten Tuban semakin merata. Siswa di kota dan desa memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk meraih prestasi. Dan Galih adalah bukti.
Secara geografis, jarak SDN Tenggerkulon, Kecamatan Bancar—tempat Galih menimba ilmu—dengan pusat Kota Tuban kurang lebih 36 kilometer ke arah barat. Namun, jarak yang teramat jauh dari pusat pemerintahan tersebut tak lantas mereduksi kualitas pendidikan siswa-siswa di pedesaan.
Terbukti, setelah lolos ke tingkat kabupaten mewakili Kecamatan Bancar, Galih berhasil meraih juara 1 Lomba Literasi-Numerasi Jawa Pos Radar Tuban jenjang kelas III setelah bersaing dengan 86 peserta se-Kabupaten Tuban pada babak final yang berlangsung 30 Mei lalu.
Perjuangan Galih menuju puncak podium tidak diraih secara instan. Untuk dapat berkompetisi di babak final yang digelar di lapangan basket GOR Rangga Jaya Anoraga, Galih bersama guru pembimbingnya ini harus menempuh jarak puluhan kilo dari Desa Tenggerkulon, Kecamatan Bancar.
‘’Saat lomba, berangkatnya jam 06.00 pagi agar tidak terlambat,” katanya dengan suara lantang kepada Jawa Pos Radar Tuban saat ditemui usai menerima piala pada Senin (8/6) lalu di halaman Dinas Pendidikan Tuban.
Datang dari pinggiran kota tidak membuat nyali Galih menciut. Sebaliknya, saat memasuki arena kompetisi, dia tampil tanpa ada rasa minder sedikitpun dengan peserta dari kota. ‘’Aku percaya diri saat ikut final. Tidak minder dengan teman-teman yang dari kota,” lanjutnya sumringah dengan suara yang ceria.
Keberhasilan menjadi juara podium utama ini tidak lepas dari kedisiplinannya dalam belajar. Proses latihan soal bocah 9 tahun ini terbilang sangat terstruktur dan menuntut ketekunan. Sejak babak penyisihan, dia sudah berproses untuk memperdalam materi literasi dan numerasi.
Rahasianya, Galih mengatakan, setiap hari sepulang sekolah dia tidak langsung larut dalam dunia anak seusianya yang gemar bermain. Dia selalu menyisihkan waktu sebentar untuk membuka buku pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan gurunya.
Mulai dari pemahaman teks Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial, Ilmu Pengetahuan Alam, hingga pemahaman nilai kewarganegaraan dia pelajari dengan tekun sebagai persiapan untuk melaju ke final. Tidak hanya literasi, soal-soal numerik juga dia asah secara mandiri bersama dengan orang tuanya dan dengan bimbingan guru di sekolah untuk mematangkan materi.
‘’Di rumah dan di sekolah juga (belajar dan latihan soal, red). Biasanya belajar dulu baru nanti bermain,” ucap Galih.
Prinsip bersenang-senang setelah menuntaskan tugasnya sebagai pelajar itulah yang menjadi kebiasaan Galih hingga mampu menumbangkan puluhan finalis dari 19 kecamatan lainnya.
Ketika ditanya perihal tingkat kesulitan soal dalam lomba ini, Galih dengan tawa polosnya menyebut, 25 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian yang disajikan selama 90 menit saat babak final terbilang mudah.
Hasil akhirnya pun jelas. Dengan kecerdasan, ketelitian, dan ketekunannya, Galih sukses mengumpulkan skor akhir 105. Skor impresif itu mengantarkannya menerima piala dan piagam penghargaan juara satu di jenjang kelasnya.
Keberhasilannya disambut bahagia dan bangga oleh pihak sekolah. Kepala Sekolah SDN Tenggerkulon Leles Misbachuddin mengungkapkan, prestasi yang diperoleh muridnya ini sangat mengesankan dan tidak disangka-sangka.
‘’Setelah beberapa tahun mengikuti ajang ini dan belum berhasil, Galih jadi siswa pertama di SD kami yang membawa pulang juara literasi numerasi. Ini tentunya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri di tahun ini,” tuturnya di kesempatan yang sama.
Leles mengungkapkan, Galih merupakan sosok siswa yang tekun dan pandai dengan jejak akademik cemerlang di sekolah. Bahkan, Galih disebut pernah menjadi juara dalam beberapa kompetisi lainnya.
‘’Galih memang anak yang suka belajar, rajin, dan beberapa kali sudah ikut lomba sebelum akhirnya ikut ajang literasi dan numerasi ini. Jadi, kemampuannya insyaallah sudah terasah,” katanya.
Bagi pihak sekolah, raihan trofi juara 1 ini memiliki arti yang mendalam. Torehan prestasi yang dicatatkan oleh Galih ini seolah memecahkan mitos kegagalan setelah delegasi sebelumnya selalu pulang dengan tangan kosong.
‘’Harapan saya, mudah-mudahan siswa di Tuban, khususnya di SD kami semakin banyak yang semangat mengikuti kegiatan ini. Karena saat ini, literasi dan numerasi memang diperlukan oleh peserta didik,’’ tandasnya sekaligus berharap anak didiknya kembali berprestasi di ajang Lomba Literasi-Numerasi Jawa Pos Radar Tuban tahun depan. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama