RADARTUBAN - Satu lagi siswa dari pinggiran kecamatan berhasil membuktikan diri bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.
Tidak memandang desa maupun kota. Lewat ketekunannya dalam belajar, Anindya Qotrunnada F, siswa SDIT Al-Hikmah di Kecamatan Kerek berhasil meraih Juara 1 Lomba Literasi Numerasi Jawa Pos Radar Tuban jenjang kelas IV.
Datang dari Kecamatan Kerek dengan status siswi sekolah swasta, Anin berhasil membalikkan semua prediksi dalam Lomba Literasi Numerasi tingkat Kabupaten.
Tanpa diunggulkan, gadis kecil ini tampil mengejutkan dengan mengalahkan delegasi sekolah negeri bergengsi dari kota yang selama ini langganan juara. Dia membuktikan bahwa anak pelosok desa kini tidak boleh dipandang sebelah mata.
Keberhasilan bocah yang ceria ini seolah menjadi oase segat di tengah anggapan bahwa anak desa dan dari sekolah swasta sulit bersaing dengan anak kota yang dikelilingi oleh fasilitas serba ada.
Namun, meski berhasil meraih podium tertinggi di jenjang kelas IV, Anin bukanlah sosok yang belajar tanpa henti hingga larut malam. Rahasianya justru terletak pada ritme belajarnya yang sederhana namun dijalani dengan kepatuhan, ketekunan, dan juga konsistensi.
‘’Memang kalau di rumah kebiasaanku belajar, seperti membaca dan mengerjakan contoh-contoh soal untuk latihan,” ujar Anin dengan suaranya yang begitu ceria dan percaya diri ketika dihubungi melalui panggilan telepon oleh Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (10/6).
Meski tergolong murid pandai, perjuangan Anin menuju podium juara bukan hal instan. Dia tanpa jumawa membuka rahasia sederhananya dalam persiapan menjelang pelaksanaan final. Setiap hari, dia meluangkan waktu khusus untuk membaca buku dan mengerjakan soal latihan.
‘’Kalau belajar tidak lama-lama, hanya 10 menit. Tapi belajarnya setiap hari biar tidak lupa materi yang diajarkan di sekolah dan saat lomba bisa mengerjakan,’’ ungkapnya.
Metode belajar yang mandiri namun sangat tersusun ini membentuk karakter kritis dalam diri Anin. Di rumah, jika menemukan soal yang tidak dipahaminya, bocah 11 tahun ini akan bertanya dan berdiskusi dengan orang tuanya. Namun, tidak jarang dia memecahkannya sendiri dengan berselancar di internet.
Bahkan, menjelang pelaksanaan Lomba Literasi Numerasi, demi mematangkan persiapannya, Anin rela memangkas waktu istirahatnya di sekolah untuk kembali berlatih dengan latihan soal.
Dengan persiapannya yang sederhana namun matang, Anin tidak khawatir meski akan bersaing dengan peserta lain dari sekolah bergengsi di perkotaan hingga mampu mengalahkan ratusan pesaingnya dari berbagai kecamatan.
Meski, jarak Kecamatan Kerek hanya menempuh waktu kurang lebih 30 menit menuju kota, Anin datang dengan begitu percaya diri. Bahkan, dia berangkat lebih pagi dari biasanya dan sampai di lokasi lomba pukul 06.30 WIB, menjadi peserta pertama yang datang saat pelaksanaan final Lomba Literasi Numerasi, Sabtu (30/5) lalu.
‘’Aku percaya diri dan tidak minder saat final. Berangkat pagi juga agar tidak terlambat dan gugup, jadi bisa bersiap-siap dulu,” lanjut Anin.
Ketika ditanya perihal tingkat kesulitan soal, Anin menyebut bahwa 30 soal high order thinking skills yang disajikan tidak terlalu membebani dirinya. Walau mengakui beberapa kali merasa kesulitan, Anin berhasil menuntaskan seluruhnya dengan lengkap dan tepat waktu berkat latihannya selama ini.
‘’Soalnya lumayan menantang, tapi aku bisa mengerjakan. Karena saat latihan kurang lebih hampir sama dengan pelajaran di sekolah,” katanya.
Karakter istimewa Anin ini diamini oleh Dimyani, wali kelasnya. Dia mengatakan, muridnya memang sosok pelajar yang pandai dan kritis. Bahkan, sejak menduduki kelas I hingga IV SD, Anin konsisten berada di peringkat satu.
‘’Anaknya memang rajin, punya semangat belajar yang tinggi, dan termasuk kritis dalam pembelajaran. Semisal ada hal yang ingin di mengerti lebih lanjut, biasanya dia suka bertanya saat jam istirahat,” ujar Yani dengan bangga pada saat yang sama.
Yani melanjutkan, keberhasilan Anin tidak datang dalam semalam. Kegagalan di masa lalu saat kelas III dalam Lomba Literasi Numerasi menjadi pelecut semangatnya untuk lebih baik dalam kompetisi ini.
Pembawaan Anin yang pandai dan kritis ini sering membuatnya berpartisipasi dalam berbagai ajang perlombaan, baik yang diselenggarakan oleh swasta maupun Pemkab Tuban.
‘’Literasi numerasi ini tidak lagi menjadi beban khusus, melainkan menjadi kebiasaan berpikir logis yang terbiasa di pakai dalam setiap mata pelajaran. Harapan saya, semoga siswa-siswi di kabupaten, tak terkecuali murid SDIT Al-Hikmah bisa lebih mengambil peluang dan tantangan baru untuk terus mencetak prestasi di masa mendatang,” pungkasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama