RADARTUBAN- Sempat dicibir hanya sekadar mengikuti tren, Renita Ardiyanti membuktikan dedikasinya dalam menggerakkan generasi muda untuk melestarikan alam dan budaya desa. Lewat konsistensi dan pendekatan yang tulus, dia berhasil mematahkan skeptisisme dan mengubah nyinyiran masyarakat menjadi kesadaran kolektif dalam menjaga alam dan budaya desa setempat.
Bagi Renita, hidup adalah pengabdian. Berakhirnya masa jabatan sebagai Direktur BUMDes Mandiri Sejahtera Rengel di bulan Mei lalu justru menjadi babak baru baginya. Alih-alih berhenti bergerak setelah purnatugas dari lembaga desa, dia justru semakin mantap kembali ke akar rumput untuk fokus membangun desanya.
Sehari-hari, ritme hidupnya berputar pada poros domestik sebagai ibu rumah tangga sembari mengelola bisnis ekspedisi lokal JDOR Delivery di Kecamatan Rengel. Di tengah melelahkannya aktivitas itu, Renita tetap menaruh perhatian pada masa depan tanah kelahirannya melalui cara yang luar biasa. Dia memilih membersamai sekumpulan anak muda dalam sebuah wadah komunitas bernama Jejak Lestari Rengel.
‘’Komunitas ini sebenarnya bukan saya yang mendirikan dari nol. Melainkan murni lahir dari kegelisahan pemuda lokal akan isu lingkungan di sekitar,” cerita perempuan 31 tahun itu kepada Jawa Pos Radar Tuban melalui sambungan telepon, Selasa (9/6) lalu.
Baca Juga: Sendi Dwi Renita, Suarakan Isu Perempuan Lewat Organisasi
Melalui algoritma media sosial yang sempat viral, ibu anak satu ini menangkap ada potensi besar yang menyala di dalam diri anak-anak muda di desanya. Energi itulah yang kemudian dia arahkan sebagai jalan modern untuk memajukan daerah asalnya.
Saat masih memegang tongkat komando BUMDes, perempuan visioner ini mengetuk pintu ruang diskusi mereka. Pertemuan yang cair dan hangat membuka fakta bahwa anak-anak muda Rengel ternyata memiliki kecintaan yang teramat dalam pada tanah kelahirannya. Kolaborasi pun terjadi.
Konsep pelestarian yang awalnya hanya menyentuh aspek keindahan alam seperti bentang karst dan sumber air di Rengel mulai bertransformasi ke arah yang lebih luas.
‘’Kami sadar jika Rengel tidak hanya kaya secara lanskap alam, tetapi juga menyimpan budaya yang sangat beragam dan penting untuk dilestarikan,” jelas dara kelahiran Desa Rengel itu.
Di bawah asuhannya sebagai pembina, komunitas ini mengembangkan manifesto Lestari Rengel. Sebuah kegiatan yang memadukan konservasi alam dengan denyut kebudayaan lokal. Sebab, bagi wanita Aquarius itu, merawat alam tanpa menjaga budaya adalah tindakan yang timpang karena keduanya merupakan detak jantung identitas desa.
Namun, jalan pergerakan dengan anak-anak asuhannya tidak semata-mata dihampari karpet merah.
Pada awal langkahnya setahun lalu, cibiran demi cibiran datang menghujam. Jejak Lestari Rengel sempat dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat setempat yang skeptis.
Mereka dituding hanya mencari panggung, sekadar ikut-ikutan tren musiman alias FOMO (Fear of Missing Out), dan diprediksi bakal layu sebelum berkembang. Bisik-bisik miring yang menyebut komunitas yang diembannya itu hanya sekumpulan pemuda kemarin sore seolah sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Selain menghadapi hantaman dari luar, ternyata Renita juga masih harus berjibaku meredam gejolak dari dalam gerbongnya sendiri. Sebagai sekumpulan anak muda, ego para anggota seringkali belum sepenuhnya stabil dan tidak seragam. Gesekan antar kepala tidak jarang melahirkan banyak perbedaan pendapat.
‘’Ditambah lagi dengan sulitnya membagi waktu di tengah kesibukan personal yang berbeda-beda, mulai dari yang masih kuliah hingga yang harus bekerja paruh waktu cukup menjadi tantangan kami,” ucapnya.
Ada momen-momen melelahkan ketika rapat menyisakan keheningan karena ego yang meninggi. Di sinilah peran keibuan lulusan SMAN 1 Rengel ini diuji, menjadi penengah yang mendinginkan suasana, menengahi setiap emosi mereka, dan meyakinkan bahwa badai internal ini merupakan proses pendewasaan yang mahal harganya.
Konsistensi akhirnya menjadi jawaban paling telak atas segala keraguannya. Perlahan namun pasti, lewat aksi nyata yang konsisten selama hampir satu tahun lamanya, tatapan sinis masyarakat mulai mencair menjadi rasa bangga yang mendalam.
Dia menyaksikan sendiri bagaimana dinding pembatas bernama ketidakpedulian itu runtuh satu per satu, digantikan oleh jabat tangan hangat dan senyuman warga yang dahulu mencibir.
Aksi nyata berupa open trip edukatif, camp budaya, olahraga ekstrem rappelling, trail run, bicycle tour, hingga aksi turun ke bumi melalui reboisasi dan perawatan tanaman semakin membuka mata publik. Terlebih, dengan partisipasinya dalam gelaran Lestari Rengel Spesial Hari Jadi Desa Rengel ke-120 baru-baru ini.
Warga yang dulunya cuek kini berbalik menjadi pendukung paling lantang komunitas mereka. Masyarakat bahkan bangga membagikan dokumentasi aksi Jejak Lestari di media sosial masing-masing, seolah memamerkan bahwa pemuda desa mereka adalah penggerak perubahan yang membanggakan.
Daya pikat komunitas ini bahkan telah melampaui batas geografis Kabupaten Tuban. Saat ini, gerbong Jejak Lestari telah diperkuat oleh 19 anggota aktif dan 8 relawan. Uniknya, para relawan tersebut tidak hanya berasal dari lingkar pertemanan lokal, melainkan lintas batas kabupaten
‘’Anggota kami bukan hanya pemuda sekitar saja, tapi juga termasuk anak-anak muda dari Bojonegoro dan Lamongan,” ungkapnya.
Di akhir perbincangan, perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di SMPN 1 Rengel ini menitipkan pesan mendalam bagi generasi penerus di Kota Siwalan
. ‘’Jangan pernah meremehkan langkah kecil. Sebab, perubahan besar bisa lahir dari sekumpulan anak muda yang peduli dan mau bergerak,” tegasnya.
Baginya, kemajuan sebuah desa bukanlah hasil kerja tunggal pemerintah desa, melainkan juga dari ruang kolaborasi yang dirawat bersama dengan memberi kepercayaan penuh pada pundak anak muda. (*/tok)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni