RADARTUBAN- Tak seorang pun di rumahnya mengira, kain putih yang dibawa Siti Rokayah dari Tuban adalah kain kafannya sendiri. Dengan tubuh yang mulai melemah seusai puncak haji, perempuan asal Desa Bogorejo, Kecamatan Merakurak itu bahkan mencucinya dengan air Zamzam dan menyimpannya kembali dengan rapi di koper kabin.
Beberapa hari kemudian, cita-cita yang kerap dia ucapkan kepada anak dan tetangga sebelum berangkat; meninggal di Tanah Suci—benar-benar menjadi kenyataan.
Selasa (16/6) dini hari pukul 02.00 WIB, M. Muhlisin belum juga memejamkan mata. Putra kedua Siti Rokayah itu masih bergulat dengan kecemasan. Sudah beberapa hari ibunya dirawat di Makkah. Kondisinya naik-turun.
Baca Juga: Jemaah Haji Asal Tuban Meninggal di Makkah, Sudah Siapkan Kain Kafan di Makkah
Di tengah keheningan dini hari, telepon bergetar. Sebuah pesan WhatsApp (WA) dari petugas kesehatan kloter masuk. Isinya singkat, namun membuat dadanya semakin sesak. Kondisi sang ibu terus memburuk. Dia diminta memperbanyak doa.
Sejak saat itu, Muhlisin tak lagi bisa tidur. Hingga azan subuh berkumandang, dia masih menunggu kabar berikutnya.
Sekitar sepuluh jam kemudian, persisnya pukul 11.30 WIB, pesan berikutnya datang. Kali ini, kabar yang ditunggu justru menjadi kenyataan yang paling berat diterima; Siti Rokayah telah berpulang.
Rumah sederhana di Jalan Sukarno Hatta, Dusun Kuthi, Desa Bogorejo, Kecamatan Merakurak, yang semula dipersiapkan untuk menyambut kepulangan sang ibu, mendadak berubah menjadi tempat pelayat berdatangan. Ucapan belasungkawa mengalir tanpa henti hingga Rabu (17/6).
“Kami keluarga sudah ikhlas atas kepergian ibu, karena memang ini cita-cita beliau untuk meninggal dunia di Makkah dan Madinah,” kata Muhlisin saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban, kemarin siang.
Keinginan itu ternyata bukan sekadar ucapan sesaat. Jauh sebelum berangkat haji bersama Kloter SUB 26, perempuan yang dikenal ramah oleh tetangga sekitar itu sudah berulang kali mengutarakan harapan terakhirnya.
Dia berpamitan kepada anak-anaknya dan para tetangga, seolah menyampaikan bahwa perjalanannya ke Tanah Suci adalah perjalanan yang terakhir.
“Jadi ibu itu sebelum pemberangkatan sudah berpamitan ke tetangga kanan-kiri rumah dan menyampaikan keinginannya meninggal saat haji,” ujar pedagang itu.
Firasat itu semakin terasa ketika keluarga mengetahui satu hal yang selama ini tak pernah diceritakan Siti Rokayah. Diam-diam, dia membawa kain kafannya sendiri dari rumah dan menyimpannya di koper kabin.
Keberadaan kain putih itu baru diketahui saat sudah berada di Makkah. Termasuk Muhlisin dan istri yang mendampingi ibunya untuk menjalankan rukun Islam kelima itu. Muhlisin dan istrinya pulang ke Tanah Air bersama jemaah haji se-kloternya pada Minggu (7/6). Mereka meninggalkan Siti Rokayah yang masih terbaring lemah di Bashrahil Makkah akibat gagal napas.
Muhlisin masih mengingat jelas momen seusai menuntaskan rangkaian puncak haji. Ibunya meminta diambilkan air Zamzam. Bukan untuk diminum, melainkan mencuci kain kafan yang dibawanya dari rumah.
“Dengan tubuh yang sudah lemah, ibu mencuci sendiri kain kafan dan menyampaikan jika itu mau dikenakan kalau kelak meninggal dunia,” tutur pria 43 tahun itu.
Usai dicuci dengan air Zamzam dan dijemur hingga kering, kain itu kembali dilipat rapi dan disimpan di koper kabin. Hingga akhirnya, keinginan Siti Rokayah untuk dikafani dengan kain yang telah dibersihkannya sendiri itu benar-benar terwujud.
Padahal, kondisi kesehatannya sudah tidak prima sejak sebelum berangkat. Dia memiliki riwayat penyakit paru-paru dan jantung yang telah lama diderita. Namun, selama di Madinah, perempuan 66 tahun itu masih mampu mengikuti seluruh rangkaian ritual.
Sesampainya di Makkah, kesehatannya sempat menurun hingga harus menjalani perawatan di Rumah Sakit King Faisal. Setelah empat hari dirawat, kondisinya membaik. Dia bahkan masih sempat melaksanakan umrah sunah.
Keinginan lainnya pun terpenuhi. Menjelang puncak haji, Siti Rokayah meminta diantar ke Masjidilharam untuk melihat Kakbah secara langsung. “Katanya sudah puas karena bisa melihat Kakbah,” kata bapak dua anak itu.
Saat puncak haji berlangsung, Siti Rokayah masih mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah. Wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga tawaf ifadah berhasil dituntaskannya, meski sebagian harus menggunakan kursi roda yang didorong sang anak.
“Waktu lempar jumrah saya gantikan, namun seluruh rangkaian hajinya sudah selesai,” ujarnya.
Namun, setelah seluruh prosesi Armuzna berakhir, kondisi tubuhnya kembali menurun. Di tengah fisik yang semakin lemah, dia masih menyisakan tenaga untuk mencuci kain kafannya sendiri. Hingga sehari menjelang kepulangan, dia mengalami penurunan kesadaran dan harus kembali dirawat di rumah sakit. Saat Muhlisin berpamitan pada Sabtu (6/6), ibunya sudah tidak sadarkan diri.
Di tengah duka yang menyelimuti keluarga, cerita-cerita lain bermunculan. Beberapa kerabat dan sahabat dekat Siti Rokayah mengaku bermimpi perempuan itu pulang dalam keadaan sehat. “Ada yang mimpi ibu mau pulang dan minta rumah dibersihkan. Mereka cerita saat datang takziah,” kata Muhlisin.
Siti Rokayah memang tak pulang seperti yang dinanti keluarganya. Namun, berpulang di Tanah Suci sebagai tamu Allah.(*/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni