RADARTUBAN - Sulistiyanto sempat membayangkan kampung halamannya telah bergerak secepat Jakarta. Dunia digital, pikirnya, pasti sudah tumbuh dan menjangkau banyak anak muda di Tuban.
Namun, ketika pandemi Covid-19 memaksanya pulang ke Tuban pada 2020, kenyataan yang ditemuinya justru berbeda.
Jurang pemahaman teknologi di Tuban masih terbentang lebar. Praktisi perangkat lunak di Bumi Ronggolawe bisa dihitung dengan jari. Banyak lulusan teknologi informasi berakhir menjadi guru komputer. Sementara kemampuan pemrograman mendalam belum banyak berkembang.
Kenyataan itu terus mengusik pikiran Sulistiyanto. Hingga pada akhir 2025, kegelisahan tersebut menjelma menjadi sebuah gagasan bernama Nolbit Studio, sebuah platform pembelajaran koding sederhana bagi anak-anak.
Bagi Tian, sapaan akrab Sulistiyanto, langkah besar kerap berawal dari jalan sunyi.
Baca Juga: Dukungan Software Galaxy S21 Resmi Berakhir, Ini Dampaknya Bagi Pengguna
Pria 37 tahun asal Kecamatan Singgahan itu bukan lulusan kampus ternama di ibu kota. Dia tumbuh sebagai anak daerah yang sejak mahasiswa terbiasa memilih jalan berbeda.
Ketika sebagian besar teman-temannya mendalami pengembangan web, Tian justru tertarik pada dunia Android yang saat itu masih terdengar asing di kalangan mahasiswa daerah.
Pilihan itu membuatnya harus berjalan sendirian.
Tidak ada mentor. Tidak ada ruang kelas khusus. Hanya kuota internet dan grup-grup Facebook yang menjadi tempatnya bertanya ketika menemui jalan buntu.
“Belajar otodidak itu luar biasa sulit. Kalau ketemu error atau buntu, saya tidak bisa langsung bertanya ke teman samping bangku,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Senin (22/6).
Perjalanan panjangnya mulai menemukan arah pada 2016. Ketika itu, dia bergabung dengan platform Dicoding.
Kemampuannya terus berkembang hingga memberanikan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan salah satu perusahaan telekomunikasi besar. Tak disangka, lulusan Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban itu mampu menembus sepuluh besar.
Namun, pencapaian itu justru menjadi ujian mental tersendiri.
Berhadapan dengan investor-investor dari Jakarta membuatnya sadar bahwa dunia teknologi jauh lebih luas daripada yang dibayangkannya.
“Namanya orang kabupaten yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba ketemu orang yang jauh lebih jago. Saya mendadak merasa seperti anak ayam kehilangan induknya, bingung,” tuturnya sambil tersenyum.
Baca Juga: DPR Dorong Kurikulum AI dan Koding Masuk Pesantren Demi Cegah Kesenjangan Digital
Nasihat seorang investor mengubah arah hidupnya. Tian diminta terjun langsung ke industri engineering agar lebih matang. Dia pun memulai karier profesionalnya di Asia Wisata, melanjutkan perjalanan bersama Binar Academy, mendalami pengembangan iOS, hingga akhirnya menjadi software engineer di Mamikos.
Semua berjalan baik sampai pandemi datang pada awal 2020. Kebijakan bekerja dari rumah membawanya kembali ke Tuban. Di sanalah dia melihat kenyataan yang selama ini tak pernah disadarinya. Literasi digital di daerah masih tertinggal.
“Di Tuban, praktisi engineer murni itu sangat sedikit. Dari situ saya berpikir, saya harus berbuat sesuatu untuk memajukan ilmu koding di Tuban, khususnya untuk anak-anak muda,” katanya.
Kegelisahan itu ternyata tidak hanya lahir dari pengalamannya sebagai seorang profesional teknologi. Ada kegelisahan lain yang lebih dekat, yakni sebagai seorang ayah.
Dia sering melihat anak semata wayangnya menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar telepon pintar untuk bermain game.
Alih-alih melarang, Tian justru memandang layar itu dari sudut berbeda. Baginya, perangkat yang sama bisa menjadi sarana belajar.
Mengapa tidak memperkenalkan teknologi di balik permainan itu kepada anak-anak?
Pertanyaan sederhana itu menjadi titik lahirnya Nolbit Studio.
Tian ingin menghadirkan pembelajaran koding yang tidak menakutkan. Sebab, bahasa pemrograman konvensional kerap dianggap rumit, bahkan oleh orang dewasa.
Karena itu, dia menyederhanakannya menjadi tiga tahap pembelajaran.
Pada tahap dasar, anak-anak diajak menyusun strategi di atas kertas, lalu menerjemahkannya menjadi blok kode virtual untuk menggerakkan robot digital menyelesaikan misi tertentu.
Konsep tersebut telah diujicobakan kepada murid sejumlah taman kanak-kanak (TK) melalui bantuan rekannya yang berprofesi sebagai guru.
Hasilnya di luar dugaan. Tidak hanya anak-anak yang memahami logika sederhana pemrograman, para guru pun mulai mengenal konsep dasar koding.
Tahap berikutnya akan membawa anak-anak merakit sirkuit fisik yang terhubung dengan aplikasi untuk mengendalikan lampu, suara, dan mikrokontroler. Pada tahap lanjutan, anak-anak diarahkan agar mampu membuat sistem yang dapat bekerja dan merespons secara mandiri.
“Untuk tahap dua dan tiga masih dalam proses pengembangan sebelum saya uji cobakan ke anak-anak. Setelah itu baru bisa saya rilis aplikasi dan website ini,” ujarnya.
Menariknya, dalam proses pengembangan Nolbit Studio, Tian tidak hanya menerima masukan dari guru dan murid TK. Dia juga berdiskusi dengan anaknya sendiri di rumah.
Bersama sang buah hati, dia menguji bagian demi bagian aplikasi, mencari apa yang kurang dan apa yang perlu ditambahkan.
Baginya, kesenjangan kemampuan teknologi antara anak-anak Indonesia dan negara lain masih terlalu lebar.
Di banyak negara, pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) telah menjadi bagian penting pendidikan. Sementara di Indonesia, sebagian masyarakat masih berada pada tahap mengenal apa itu koding.
Karena itulah, Nolbit Studio tidak pernah dia pandang sekadar sebagai proyek teknologi.
Bagi Tian, platform tersebut adalah bentuk tanggung jawab seorang ayah sekaligus panggilan seorang putra daerah.
Dia tidak ingin anak-anak di Bumi Ronggolawe tumbuh hanya sebagai penonton perkembangan teknologi.
“Saya ingin melihat anak-anak Tuban tidak hanya menjadi penonton atau konsumen teknologi, tetapi juga kreatornya. Melalui Nolbit, saya ingin anak-anak di pelosok kecamatan pun punya kesempatan belajar dan memahami koding seperti anak-anak di kota besar,” ungkap alumnus SMP Negeri 1 Singgahan itu.
Kini, di sela kesibukannya menyempurnakan tahap kedua dan ketiga Nolbit Studio, Tian mulai membuka ruang kolaborasi dengan sekolah-sekolah dan lembaga kursus di Tuban.
Dia ingin memperkenalkan literasi digital sejak dini, agar anak-anak di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk menyongsong dunia yang semakin dipenuhi teknologi.
Sebab, bagi Tian, masa depan tidak hanya ditentukan oleh mereka yang tinggal di kota besar.
Kadang, perubahan justru lahir dari sebuah rumah sederhana di pinggir kecamatan, dari seorang ayah yang gelisah melihat anaknya bermain gawai, lalu memilih mengubah kegelisahan itu menjadi harapan. (*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama