Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lolos Kuliah di Dubai tapi Tidak Punya Biaya, Inilah Cerita Indah: Pelajar SMAN 4 Tuban yang Akhirnya Berlabuh di UB

Shafa Dina Hayuning Mentari • Kamis, 25 Juni 2026 | 16:25 WIB
Perjuangan panjang Indah April dari berbagai penolakan hingga berhasil menembus Universitas Brawijaya. (INDAH APRIL RAHAYUNINGTIAS UNTUK RADAR TUBAN)
Perjuangan panjang Indah April dari berbagai penolakan hingga berhasil menembus Universitas Brawijaya. (INDAH APRIL RAHAYUNINGTIAS UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Bertahun-tahun Indah April Rahayuningtias mengumpulkan prestasi, mengorbankan waktu bermain, bahkan rela tidur hanya tiga jam demi mengejar mimpi.

Namun, ketika dua kampus impian menolaknya dan kesempatan kuliah di luar negeri harus dilepas, gadis asal Desa Senori, Kecamatan Merakurak itu belajar bahwa jalan menuju tujuan tak selalu lurus. 

Namanya tak asing di berbagai ajang debat. Prestasi akademik dan non akademik seolah berjalan beriringan.

Namun, kenyataan berkata lain. Impian yang telah dirajut Iin, panggilan akrabnya sejak awal SMA justru beberapa kali terhenti di depan pintu seleksi. 

Baca Juga: Harus Pentingkan Keamanan Siswa, DPRD Tuban Desak Evaluasi Menyeluruh Sarana Pendidikan

Padahal, fondasi itu sudah dia bangun sejak awal duduk di bangku SMA. Remaja putri itu menjaga konsistensi nilai rapornya. Di luar sekolah, Dia mengasah kemampuan berbicara dan beradu argumentasi melalui berbagai kompetisi debat.

“Pesan guru saya saat SMP sederhana, masa emas pelajar tidak datang dua kali. Teman-teman juga bilang saya punya potensi di public speaking. Dari situ saya memantapkan langkah untuk berprestasi di luar sekolah,” ujar alumnus SMA Negeri 4 Tuban itu kepada Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (17/6).

Kerja keras itu membuahkan hasil. Dia meraih juara 3 Debat Format R tingkat kabupaten, juara Lomba Debat Bahasa Indonesia tingkat kabupaten, juara 3 Reformafest BEM FST Universitas Airlangga, hingga masuk delapan besar Adfest FIA Universitas Indonesia 2025.

Namun, menjadi pemburu trofi sekaligus mempertahankan prestasi akademik menuntut pengorbanan besar.

Ketika teman-teman sebayanya menikmati waktu luang, Iin justru akrab dengan buku pelajaran, materi debat, dan soal-soal latihan.

“Kalau ada waktu luang, saya gunakan untuk belajar. Saat persiapan lomba, saya hanya tidur sekitar tiga jam,” katanya.

Kesibukan mengikuti perlombaan membuatnya kerap meninggalkan pelajaran di kelas. Konsekuensinya, dia harus mengejar materi secara mandiri agar tidak tertinggal.

Semua itu dia jalani dengan keyakinan bahwa prestasi akan membuka jalan menuju kampus impian. Tetapi, kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan.

Dua kali berturut-turut, Iin harus menerima kenyataan pahit. Dia gagal lolos melalui jalur prestasi di dua perguruan tinggi yang menjadi incarannya. “Saya ditolak di jalur Golden Ticket Unesa dan Bibit Unggul Berprestasi Universitas Diponegoro,” ujarnya.

Penolakan itu menjadi pukulan yang cukup berat. Selama beberapa hari, dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Piala dan sertifikat yang dulu membanggakan, mendadak seperti kehilangan makna.

Baca Juga: Harus Pentingkan Keamanan Siswa, DPRD Tuban Desak Evaluasi Menyeluruh Sarana Pendidikan

“Saya sempat bertanya-tanya, apakah semua prestasi ini tidak ada artinya? Atau saya memang belum seberapa dibandingkan teman-teman yang lain?” ucapnya lirih.

Namun, keterpurukan itu tidak berlangsung lama. Dia kembali menyusun rencana baru. Kesempatan datang dari luar negeri. Iin diterima di dua kampus sekaligus, yakni De Montfort University Dubai jurusan Social Science dan Middlesex University Dubai jurusan Human Resource.

Mimpi menimba ilmu di luar negeri sempat berada di depan mata. Namun, lagi-lagi dia harus berbesar hati. Skor IELTS yang belum memenuhi target membuatnya gagal mendapatkan beasiswa penuh.

Biaya hidup yang tinggi serta berbagai dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah membuatnya mengambil keputusan yang tidak mudah. Dia melepaskan kesempatan tersebut dan kembali fokus menghadapi Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT). Pilihan itu akhirnya terbayar.

Pada Mei 2026 lalu, layar pengumuman SNBT yang dibukanya menghadirkan kabar yang selama ini ditunggu. Namanya dinyatakan lolos di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Brawijaya, Malang.

“Saya merasa lega. Alhamdulillah, ternyata perjuangan saya terbayar. Tapi perjalanan pendidikan saya belum selesai. Tidak boleh puas meski sudah masuk salah satu PTN bereputasi baik di Jawa Timur,” katanya.

Bagi Iin, kegagalan ternyata bukan akhir dari segalanya. Justru dari serangkaian penolakan itu, dia belajar bahwa mimpi besar membutuhkan kesabaran yang sama besarnya.

Kini, lembaran baru telah dimulai. Almamater Universitas Brawijaya yang dulu hanya menjadi angan, telah resmi menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Tetapi, dia percaya, tujuan sesungguhnya bukan sekadar diterima di kampus impian.

Yang lebih penting adalah terus bertumbuh, tanpa cepat menyerah ketika kalah dan tanpa cepat puas ketika menang.

“Jangan pernah menyerah karena satu kegagalan. Begitu pula jangan pernah merasa puas karena satu kemenangan. Mimpi besar kalian layak diperjuangkan,” ujarnya. (*/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#universitas brawijaya #SMAN 4 Tuban #dubai #kuliah