RADARTUBAN - Tidak semua kisah pengabdian lahir dari garis start yang mulus. Ada yang tumbuh dari jalanan, dari kerasnya hidup, dari kerja-kerja kecil yang tak selalu terlihat.
Begitulah perjalanan seorang perwira polisi yang kini menjabat Wakapolsek Semanding, Ipda Moch. Rudi. Salah satu perwira yang kini bertugas di Polres Tuban.
Dia menapaki kariernya dari bawah, ditempa oleh kesederhanaan, dan dibesarkan oleh semangat belajar serta kepedulian pada pendidikan.
Baca Juga: Polisi Periksa 87 Kontainer Fatty Matter di Tanjung Priok, Diduga Langgar Aturan Ekspor
Tumbuh dari Keluarga Sederhana
Lahir di Tuban pada 29 November 1983, Rudi tumbuh dalam keluarga yang jauh dari kata berkecukupan. Ayahnya, Triman, bekerja sebagai tukang parkir, sementara sang ibu, Sri Budi, menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Dari lingkungan itu, nilai kerja keras dan ketekunan menjadi pelajaran pertama yang dia dapatkan.
Sejak duduk di bangku SMPN 1 Tuban, Rudi membantu keluarganya bertahan hidup dengan berjualan koran. Aktivitas itu bukan sekadar mencari uang saku, tetapi menjadi bagian dari proses pendewasaan diri.
Kebiasaan itu terus berlanjut hingga menempuh bangku pendidikan selanjutnya di perantauan di Kota Santri. Kebiasaan bekerja keras itu membentuk mental tangguh yang akhirnya menjadi fondasi dalam perjalanan hidupnya.
Setelah menamatkan pendidikan di SMA Abdul Wahid Hasyim Tebuireng, Jombang pada 2003, Rudi melanjutkan studi S1 Tarbiyah di UIN Walisongo Semarang.
Kuliah Sambil Bertahan Hidup
Saat kuliah di tahun pertama, bapak dua anak itu nyambi bekerja sebagai tukang kebun di Semarang, Jawa Tengah, untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Pilihan itu memperlihatkan satu hal sederhana namun kuat—pendidikan tidak boleh tinggalkan, meski keadaan tidak selalu berpihak. Bagi dirinya, bertahan hidup dan belajar harus berjalan beriringan.
Terus-terusan hidup serba kekurangan, membuat Rudi merasa tidak yakin melanjutkan bangku kuliahnya hingga selesai. Hingga akhirnya perwira yang kini berpangkat balok satu itu mengetahui ada rekrutmen anggota Polri jalur santri pondok pesantren.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Rudi mengambil jalan lain: mendaftar jadi anggota Polri jalur santri. Berharap, itu bisa mengubah nasibnya.
Mengabdi Lewat Seragam dan Papan Tulis
Setelah melalui beragam tahap seleksi, Rudi dinyatakan lolos sebagai bintara Polri. Perjalanan pengabdiannya di kepolisian dimulai dari penugasan di Polda Jawa Tengah selama 12 tahun.
Pada 2016–2018, Rudi mendapatkan informasi dan tawaran dari MA Nurul Hikmah Banyuurip, Pati yang membutuhkan relawan tenaga pendidik. Tugasnya, mengajar akuntansi dan ekonomi tanpa bayaran.
Saat masih berpangkat brigadir, Rudi langsung mengiyakan tawaran tersebut. Kepeduliannya di pendidikan dimulai dengan mendidik tanpa bayaran, di sela tugas intelijen.
Di sela kesibukan bertugas, Rudi mulai menuruti nuraninya, yakni mengajar.
Baca Juga: Polisi Tangkap Buronan Kasus Penyekapan di Bandung, Taufik Hidayat Diamankan di Wilayah Bandung Raya
“Di waktu luang kerja, saya mengajar, karena ilmu harus tetap dibagikan,” kenang dia.
Kalimat itu menjadi pegangan yang dia jalani, bukan sekadar ucapan.
Kariernya kemudian berkembang melalui seleksi calon perwira hingga resmi menyandang pangkat Ipda pada 2021. Beberapa bulan menyandang gelar perwira, Rudi akhirnya dipercaya sebagai salah satu Kanit di SatIntelkam Polres Pati, Jawa Tengah.
Selama bertugas di intelijen, Rudi mendapati fakta banyak anak di sekitar lereng Gunung Muria putus sekolah karena terkendala biaya.
Membangun Pendidikan Jenjang SMP dari Nol
Dedikasinya pada dunia pendidikan semakin nyata saat dia ditawari bekerja di Yayasan As Salafiyah Bageng, Kecamatan Gembong, Pati. Dia mendapat tawaran mengajar karena yayasan tahu bahwa Rudi bersedia mengajar tanpa bayaran.
Setahun mengajar, Rudi merasa banyak anak di sekitar lingkungan sekolahnya yang pendidikannya diakhiri hanya SD.
Merasa terpanggil, Ketua Harian PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia) Tuban ini menginisiasi untuk membangun SMP Quran Terpadu (QT) pada 2019. Sekolah jenjang lanjutan yang gratis untuk yatim piatu dan anak-anak duafa di sekitar lingkungan yayasan.
Lembaga pendidikan di bawah yayasan itu itu awalnya hanya mendapat 19 siswa saja. Namun perlahan tumbuh, hingga kini satu kelas dengan 30–35 siswa per rombongan belajar selalu penuh terisi. Fokusnya bukan hanya akademik, tetapi juga keberpihakan pada anak yatim dan keluarga kurang mampu melalui sistem pendidikan gratis.
"Dari SMP QT, pengembangan ke jenjang SMA QT juga berhasil kami rintis hingga terus berlanjut sampai sekarang,'' kata dia.
Mulai Petualangan Baru di Tuban
Usai belasan tahun berkarir di Polda Jawa Tengah. Rudi mendapat mutasi di Polres Tuban. Jabatan pertama yang dia dapatkan yakni Kanit Pidum Satreskrim Polres Tuban. Selama hampir dua tahun memimpin tim Jatanras Satreskrim Polres Tuban, Rudi tetap rutin sambang ke lembaga pendidikan yang dia rintis.
Selanjutnya, Rudi mendapat promosi jabatan sebagai Wakapolsek Semanding. Selama menjabat sebagai orang nomor dua di Polsek Semanding, Rudi memulai usaha sampingan barunya.
Usaha kecil budidaya ayam petelur dan entok itu dia bangun di rumah. Aktivitas ini menjadi bentuk kemandirian ekonomi sekaligus ruang jeda dari padatnya tugas kepolisian.
Prinsip Pengabdian
Kini sebagai Wakapolsek Semanding, Rudi memegang satu prinsip yang terus dijaga dalam setiap langkah tugasnya.
“Polisi harus hadir di setiap lini dan harus bermanfaat ke masyarakat,” tegas dia.
Prinsip itu tidak hanya dia sampaikan, tetapi juga ia jalani melalui berbagai peran: aparat penegak hukum, pendidik, hingga penggerak sosial.
Meski kesibukan kian padat, dia tetap menyempatkan diri mengunjungi sekolah yang dia dirikan di Kabupaten Pati setiap bulan, memastikan proses pendidikan tetap berjalan untuk memberikan manfaat.
Dari jualan koran hingga seragam kepolisian, dari tukang kebun hingga pendiri sekolah, kisah ini menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari posisi tinggi—tetapi dari kemauan untuk terus memberi arti bagi orang lain. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama