RADARTUBAN- Lahir di pelosok desa dan dari keluarga sederhana tidak menciutkan tekad Waslik untuk membuktikan kemampuan dirinya. Di tengah persaingan ketat dengan ratusan delegasi dari pondok pesantren dan perguruan tinggi negeri ternama, dia sukses mendobrak batas dan berhasil menembus International Conference Santri Mendunia di tiga negara Asia.
Tangan Waslik bergetar pelan ketika baru saja menerima surat elektronik berisi pengumuman penting yang ditunggu-tunggu. Dalam surat berformat PDF itu, namanya tertera di antara barisan santri terpilih dari seluruh penjuru negeri untuk bertolak ke ajang bergengsi International Conference Santri Mendunia di tiga negara Asia.
Bagi dara cantik asal Desa Temayang, Kecamatan Kerek ini, pencapaian tersebut terasa seperti sebuah keajaiban yang menjadi kenyataan. Bagaimana tidak, dalam forum akbar internasional tersebut, Waslik harus berebut posisi dengan lebih 200 peserta.
Terlebih, banyak di antara pesaingnya yang merupakan delegasi dari pondok pesantren besar sekelas Gontor hingga deretan mahasiswa dari kampus mentereng seperti Universitas Brawijaya.
‘’Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan anak desa seperti saya bisa berdiri di panggung internasional. Saya hanya seorang santri yang setiap hari belajar, menghafal Alquran dan berusaha membanggakan kedua orang tua saya,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban melalui sambungan telepon, Senin (29/6).
Di balik syukurnya, terbersit kebanggaan dirinya mengikuti proses yang tidaklah mudah. Sebagai seorang mahasiswa program D-1 di Kampus Entrepeneur penghafal Al-Quran (KEPQI) Surabaya, rutinitasnya bak putaran roda yang tiada henti. Dia harus belajar sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai tahap penilaian yang dilewatinya.
Sejak fajar belum menyingsing, gadis 23 tahun ini sudah terjaga untuk melakukan qiyamul lail, dilanjutkan dengan murojaah dan juga setoran hafalan.
Sementara siang harinya, dia disibukkan dengan menjalani program magang sebagai persiapan kelulusannya bulan Juli ini. Juga mempersiapkan berbagai materi untuk mengikuti seleksi konferensi internasional tersebut.
Malam harinya, dia harus disibukkan dengan kelas bahasa Inggris intensif sebagai bekal untuk mengikuti kegiatan ini. Ditambah dengan kewajibannya sebagai mahasiswi untuk mengulang hafalan hingga larut malam.
‘’Saya benar-benar lelah membagi waktu kuliah dan persiapan seleksi konferensi. Berkali-kali saya belajar sambil menahan kantuk,” katanya sembari mengenang masa-masa menguras energi tersebut.
Puncaknya, alumni salah satu MAN di Tuban ini sempat jatuh sakit di tengah ketatnya seleksi yang meliputi pembuatan paper, video edukasi, hingga tahap wawancara. Pembagian perannya antara sebagai mahasiswi dan juga calon peserta konferensi membuat seluruh energi, waktu tidur, dan juga waktu berkumpul bersama rekannya terkuras habis.
Tubuhnya saat itu terkulai lemas dan tidak lagi mampu dipaksa tegak. Beruntung, pihak panitia memberikan keringanan karena kondisi kesehatannya benar-benar memburuk. ‘’Saat itu saya benar-benar di titik paling lelah dan ingin menyerah. Tugas menumpuk, hafalan harus dijaga, dan fisik saya sedang tidak sehat. Saya sempat bertanya-tanya apakah saya sanggup,” ungkapnya.
Di saat-saat paling lelah itu, Waslik kembali mengingat tanggung jawab dan konsistensi yang telah dilakukannya ketika memilih mendaftarkan diri dalam konferensi. Begitu juga dengan pesan sang ibu di kampung halaman yang mengingatkannya untuk tidak berhenti berjuang, meski sedang di tahap paling lelah dan ingin menyerah sekalipun.
Keberhasilan mahasiswa yang juga tenaga pengajar di Taman Kanak-Kanak Integral Hidayatullah ke kancah internasional ini sebagai sebuah pembuktian bahwa santri dari pelosok desa tidak hanya mahir mengaji di pojok surau, melainkan juga mampu berkarya, berprestasi, berbicara, dan juga menginspirasi peradaban global.
Kini, setelah namanya dipastikan lolos. Gadis yang juga aktif sebagai sekretaris V PC IPPNU Tuban ini enggan tinggi hati. Dia merasa tetap masih perlu lebih banyak belajar dan menggali berbagai pengalaman lainnya di sepanjang perjalanannya di masa depan.
‘’Kalau hari ini ada orang-orang yang memuji keberhasilan saya, itu merupakan hasil yang saya dapatkan dari doa dan kerja keras kedua orang tua dan guru-guru saya. Bukan semata-mata keberhasilan ini milik saya seorang,” katanya dengan begitu rendah hati.
Tidak merasa hebat, gadis ini menitipkan pesan mendalam bagi seluruh pelajar yang tengah berjuang di bangku pendidikan agar tidak merasa kecil hati hanya karena lahir dari keluarga sederhana dan berasal dari desa. Baginya, kesungguhan untuk berjuang lebih bernilai daripada mengandalkan tingginya jabatan atau kemewahan harta.
Kini, dia bersiap untuk bertolak ke Malaysia, Singapura, dan Thailand sebagai tiga negara tujuan program ini 6 hingga 11 Agustus mendatang. Selama dua belas hari, dia akan banyak belajar dari diskusi-diskusi berbobot dari berbagai lembaga pendidikan di Indonesia.
‘’Jangan pernah menyerah dan berhenti melangkah. Teruslah berjuang mengejar akhlah dan kebermanfaatan. Sebab, pencapaian tertinggi adalah saat orang tua menatap kita dengan bangga. Di situlah semua rasa lelah dan air mata akan benar-benar terbayar lunas,” ungkapnya penuh emosional. (*/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni