Sempat Minder Lawan Peserta Berprestasi, Sulton Justru Jadi Runner Up Duta Koperasi Jatim

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:30 WIB
Sulton tersenyum bangga dengan selempang, piala, dan piagam setelah menyabet gelar dalam ajang Duta Koperasi Jatim 2026 di Grand Citi Mall Kota Surabaya pada 12 Juli 2026. (MUHAMMAD ITSNAN SULTON FARIHUDDIN UNTUK RADAR TUBAN)
Sulton tersenyum bangga dengan selempang, piala, dan piagam setelah menyabet gelar dalam ajang Duta Koperasi Jatim 2026 di Grand Citi Mall Kota Surabaya pada 12 Juli 2026. (MUHAMMAD ITSNAN SULTON FARIHUDDIN UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN- Berawal dari unggahan lini masa media sosial, Muhammad Itsnan Sulton Farihuddin sukses menyabet gelar Runner Up 2 Duta Koperasi Jawa Timur 2026 dan siap menjalankan program advokasinya bertajuk Aksara Koperasi untuk generasi muda.

Sulton tidak pernah menyangka langkahnya bakal berjalan sedemikian jauh. Semua berawal dari sebuah unggahan yang tak sengaja muncul di lini masa media sosialnya yang menginformasikan ajang pemilihan Duta Koperasi Jawa Timur 2026. 

Bagi sebagian anak muda seusianya, kata koperasi mungkin terdengar tidak familier. Itu karena kata itu identik dengan urusan orang tua. Namun, hal itu tak berlaku baginya.

Sembari melayani pelanggan yang datang silih berganti di kedai kopi tempatnya bekerja, jemarinya sesekali mengusap layar gawai untuk mempelajari seluk-beluk perkoperasian Indonesia sebagai bentuk niat ikut dalam ajang tingkat provinsi tersebut. 

‘’Waktu itu, saya merasa ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi merupakan kesempatan untuk belajar lebih dalam tentang koperasi. Sekaligus untuk menyuarakan bahwa koperasi itu bisa dekat dengan anak muda,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban melalui sambungan telepon dengan intonasi yang begitu ramah beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Daftar Finalis Duta Wisata Cung Ndhuk Kabupaten Tuban 2026, Siapa Jagoanmu?

Sebagai persiapan dalam ajang nasional ini, Sulton mengungkapkan, dirinya memanfaatkan interaksi ringan dengan pelanggan di warung kopi tempatnya bekerja untuk berlatih keluwesannya berbicara. Bukan hanya itu. Perbincangan, kritik, dan saran dari dosen-dosennya di kampus juga dijadikannya sebagai bahan menempa mental dan memahami koperasi serta isu perekonomian.

Namun, pemuda asal Kecamatan Tambakboyo ini mengakui, bahwa perjalanannya tak selalu mulus. Bayang-bayang persaingan ketat di tingkat provinsi berkecamuk di dalam kepalanya. Menghadapi puluhan peserta dari seluruh daerah di Jawa Timur yang membawa segudang prestasi dan portofolio mentereng sempat membuatnya merasa rendah diri.

‘’Jujur, saat itu saya sempat minder ketika melihat peserta lain sudah memiliki banyak prestasi dan pengalaman. Tetapi saya meyakinkan diri dan mengubah rasa minder itu menjadi motivasi,” tuturnya.

Keyakinan bahwa setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing membuat pemuda 21 tahun ini optimistis dan berusaha fokus menunjukkan versi terbaik dirinya dalam ajang nasional ini. ‘’Saya tidak menganggap perserta lain sebagai lawan, melainkan sebagai teman belajar. Saya berusaha percaya diri bukan karena merasa lebih baik, tetapi karena saya berusaha semaksimal mungkin,” ujarnya.

Selama kurang lebih tiga bulan, babak demi babak seleksi dijalaninya dengan napas tersengal-sengal. Jadwal kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasan dan Sastra Indonesia Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban, tanggung jawabnya dalam organisasi, sif kerja di warung kopi, tumpukan tugas perkuliahan, dan ajang duta kerap bertabrakan dalam satu waktu.

Bahkan, di saat teman sebayanya memanfaatkan waktu luang untuk bersantai, Sulton harus mengejar dan belajar lebih banyak materi untuk mempersiapkan diri dalam babak seleksi yang dilewatinya. Jam tidur terpangkas hingga waktu bersantai bersama kawannya terpaksa dikorbankan.

Rangkaian seleksi yang begitu padat dilewatinya. Dimulai dari seleksi administrasi dan pembuatan video secara daring. Dilanjutkan dengan tes tulis tentang perkoperasian, wawancara, presentasi program advokasi, hingga tahap grand final yang dilakukan secara luring di Surabaya benar-benar menguras habis energinya kala itu.

Tidak hanya seleksi ringan. Dalam setiap tahap, Sulton juga harus menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan oleh dewan juri. Di setiap tahapnya, penugasan berbeda harus diselesaikannya dengan tepat waktu. Mulai dari menunjukkan kemampuan komunikasi, wawasan koperasi, public speaking, hingga kemampuan menyusun program yang realistis untuk diwujudkan.

Namun, baginya, rangkaian tahap seleksi dan berbagai penugasan tersebut bukan sekadar formalitas semata, melainkan sebagai bahan untuk menguji pengetahuan dan mentalitasnya dalam ajang akbar tahunan ini.

‘’Menurut saya, yang paling menantang dari seluruh rangkaian seleksi itu adalah saat wawancara dan presentasi advokasi di hadapan juri,’’ ungkapnya.

Sulton mengatakan, pada babak ini, setiap peserta diuji. Bukan hanya pengetahuan, namun i juga cara berpikir, ketenangan, dan kemampuan menjawab pertanyaan secara spontan.

Meski tampak tangguh menyelesaikan berbagai tahapan yang diwajibkan, pemuda berzodiak Cancer ini mengakui sempat berada di titik terendah. Saat tahap karantina, dia tak dapat berbohong bahwa tubuhnya terasa begitu lelah dan pikiran jenuh. Dalam kondisi drop, Sulton mengaku sempat ingin berhenti.

Namun, setiap kali godaan tersebut menyelinap, dia berusaha mengingat kembali alasannya melangkahkan kaki hingga berani beradu bakat dengan pemuda dan pemudi berprestasi dari seluruh perwakilan daerah di Jawa Timur.

‘’Saya selalu mengingat alasan awal mengikuti ajang ini, yaitu ingin membawa manfaat dan membuktikan bahwa anak muda juga bisa berkontribusi untuk Koperasi Indonesia. Itu yang membuat saya bertahan hingga akhir,” tutur lulusan MTs Sunan Drajat Paciran itu.

Perjuangan tiga bulan yang penuh lika-liku tersebut akhirnya bermuara pada malam puncak. Di atas panggung megah Grand Final Duta Koperasi Jawa Timur, namanya digaungkan sebagai Runner Up 2 Duta Koperasi Jawa Timur 2026.

‘’Sejujurnya sama sekali tidak menyangka. Saat penguman saya hanya berdoa dan menyerahkan semuanya pada Allah. Ketika nama saya dipanggil, saya benar-benar bersyukur. Semua perjuangan, rasa lelah, dan pengorbanan selama proses seleksi terasa terbayarkan,” tuturnya penuh haru saat mengingat kembali momen pada 12 Juli 2026 di Grand Citi Mall Surabaya itu.

Namun, bagi alumni SMAN 1 Tambakboyo ini, selempang duta yang kini melingkar di pundaknya bukanlah sekadar pajangan di daftar riwayat hidup atau pemanis porto folionya. Dia sadar bahwa tugas seorang duta yang sesungguhnya baru dimulai setelah panggung kompetisi usai.

Setelah menyandang gelar ini, Sulton bersiap menjalankan program advokasinya bertajuk Aksara Koperasi yang merupakan akronim dari Aktif dalam Aksi, Inovatif dalam Kreasi, Progresif untuk Negeri. Lewat programnya ini, dia bertekad mengajak lebih banyak anak muda mengenal koperasi melalui edukasi di sekolah dan kampus, konten digital, podcast, serta kolaborasi dengan dengan komunitas.

Pemuda yang gemar mengikuti berbagai kegiatan sosial ini juga ingin menunjukkan bahwa koperasi bisa menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkembang, berwirausaha, dan berkontribusi bagi masyarakat.

‘’Jangan menunggu merasa sempurna baru berani mencoba. Ikuti kompetisi yang sesuai dengan minat kalian untuk berkembang, persiapkan diri dengan baik, dan jangan takut gagal. Menang itu bonus, tapi pengalaman dan relasi adalah bekal yang jauh lebih berharga,” katanya.(*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
Duta Koperasi Jawa Timur 2026 Muhammad Itsnan Sulton Farihuddin koperasi generasi muda