RADARTUBAN- Keberanian Muhammad Miftakhussurur mengikuti ajang Duta Pustaka Jawa Timur 2026 tanpa pendamping pelatih berbuah manis. Pemuda asal Desa Sambongrejo, Kecamatan Semanding itu berhasil meraih gelar Runner Up 3 setelah menyisihkan lebih dari 50 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Prestasi tersebut diumumkan dalam Grand Final Duta Pustaka Jawa Timur 2026 di Favehotel Mex Tunjungan Surabaya, Minggu (26/7). Mifta mengaku tidak pernah membayangkan mampu menembus jajaran pemenang, mengingat sejak awal dia hanya mendaftar secara mandiri setelah melihat informasi ajang tersebut melalui media sosial.
"Sama sekali tidak menyangka. Target awal saya sejujurnya hanya sampai di Top 8. Ternyata begitu diumumkan, saya berhasil masuk ke Top 5 dan alhamdulillah sampai meraih runner up 3. Rasanya campur aduk antara kaget, haru, dan tidak percaya," tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban melalui sambungan telepon, Senin (27/7).
Keberhasilan itu diraih melalui proses yang tidak mudah. Mifta mengikuti seluruh tahapan seleksi tanpa pendampingan pelatih khusus. Di sisi lain, mahasiswa berusia 22 tahun tersebut juga harus membagi waktu dengan latihan intensif sebagai atlet karate yang tengah mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan di Pekalongan.
Baca Juga: Sempat Minder Lawan Peserta Berprestasi, Sulton Justru Jadi Runner Up Duta Koperasi Jatim
Pada awal mengikuti kompetisi, Mifta sempat diliputi rasa minder. Dia melihat sebagian peserta datang dengan pembina dan program pelatihan yang terstruktur, sedangkan dirinya hanya mengandalkan persiapan secara mandiri.
"Jujur ada rasa minder di awal karena peserta lain datang dengan tim pembina dan pelatihan yang tersusun rapi. Sedangkan saya benar-benar tanpa pelatih dan modal nekat saja, banyak bertanya ke senior soal catwalk, teknik speech, sampai memantapkan mental secara mandiri," ujarnya.
Tahapan seleksi diawali dengan tes daring yang diikuti lebih dari 50 peserta. Materi yang diujikan meliputi literasi, analisis studi kasus, serta penyusunan rencana advokasi. Setelah lolos, alumnus SMKN 1 Tuban itu kembali bersaing pada babak semifinal melalui serangkaian penilaian, antara lain, unjuk bakat, presentasi program kerja, wawancara mendalam, hingga pidato spontan.
Dari proses tersebut, Mifta berhasil masuk dalam jajaran 26 finalis terbaik sebelum akhirnya meraih gelar Runner Up 3.
"Memang yang paling berat ada di tahap semifinal hingga karantina karena benar-benar menguras tenaga. Terlebih, saya juga berada di fase puncak latihan intensif untuk ajang karate di Pekalongan," katanya.
Menurut Mifta, kedisiplinan yang dibangun selama menjadi atlet karate membantunya mengelola waktu dan menjaga fokus selama mengikuti kompetisi. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk menjalani seluruh rangkaian seleksi yang berlangsung padat.
Usai menyandang gelar Runner Up 3 Duta Pustaka Jawa Timur 2026, Mifta ingin menjadikan capaian tersebut sebagai awal untuk berkontribusi dalam penguatan budaya literasi di kalangan generasi muda.
Dia telah menyiapkan gagasan berupa kolaborasi antara sekolah dan perpustakaan daerah melalui workshop edukatif. Menurutnya, perpustakaan perlu dipandang bukan sekadar tempat membaca, namun juga ruang diskusi yang mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan evaluatif.
"Literasi itu bukan hanya soal datang dan membaca teks dari tumpukan buku, tetapi juga upaya membangun pola pikir sehat agar generasi muda tetap kritis dan analitis. Jika literasi anak muda runtuh, maka kualitas pola pikirnya juga ikut turun. Saya juga ingin membuktikan bahwa pemuda kabupaten juga mampu memberikan dampak nyata bagi provinsi," tuturnya.(*/ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni