RADARTUBAN - Bagi Lefhia Ayu Adinda, bekerja sejak remaja bukanlah pilihan gaya hidup, melainkan konsekuensi dari kondisi ekonomi keluarga.
Namun, keterbatasan itu justru membentuk kemandirian yang mengantarkannya meraih berbagai prestasi, sekaligus membuka kesempatan bagi anak-anak di desanya untuk belajar.
Sore itu, Dinda, panggilan akrab Lefhia Ayu Adinda baru tiba di rumahnya, Desa Jatimulyo, Kecamatan Plumpang setelah seharian mengikuti kegiatan sekolah dan organisasi. Tubuhnya tampak Lelah. Seragam sekolah masih melekat. Sementara kondisi badannya mulai terasa kurang sehat.
Meski demikian, dia tidak langsung beristirahat. Belasan anak sekolah dasar (SD) telah menunggunya di ruang belajar sederhana yang dia kelola di rumah. Buku-buku telah terbuka, menanti pelajaran dimulai seperti sore-sore sebelumnya.
Rutinitas itu menjadi bagian dari kehidupan perempuan berusia 19 tahun tersebut. Sejak masih duduk di bangku sekolah, anak petani dari keluarga sederhana itu terbiasa mencari penghasilan sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.
"Karena keadaan ekonomi keluarga, memaksa saya harus mendapatkan penghasilan sendiri," tuturnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, Rabu (29/7) malam.
Sebelum membuka bimbingan belajar, Dinda pernah mencoba berjualan jajanan di lingkungan sekolah. Dia membuat sendiri kerupuk pedas, risoles, hingga pisang cokelat, kemudian menitipkannya di kantin sekolah. Namun, usaha tersebut tidak bertahan lama karena minim pembeli.
"Selama masih mampu usaha sendiri, tidak ada alasan untuk menggantungkan hidup pada orang tua," ungkapnya.
Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Pada Agustus 2023, dia mendirikan bimbingan belajar sederhana bernama Tumbuh Bersama. Berbekal pengetahuan yang dimiliki dan keinginan memanfaatkan waktu luang, Dinda mulai mengajar anak-anak di lingkungan desanya.
Pada awal berdiri, jumlah murid-nya hanya dua hingga tiga orang. Biaya yang dipatok pun sangat terjangkau, yakni Rp 2 ribu untuk satu kali pertemuan selama satu setengah jam.
"Di desa, uang Rp 2 ribu itu tidak kecil. Mengeluarkan biaya tambahan untuk pendidikan bagi sebagian warga masih terasa cukup berat," kata sulung dari tiga bersaudara itu.
Seiring waktu, jumlah murid terus bertambah. Orang tua mulai melihat perkembangan kemampuan belajar anak-anak mereka. Atas kesepakatan bersama para wali murid, tarif les kemudian dinaikkan menjadi Rp 5 ribu per pertemuan. Sementara itu, anak-anak yatim piatu tetap mendapatkan layanan belajar tanpa dipungut biaya.
Bagi Dinda, nilai dari pekerjaannya tidak semata-mata diukur dari penghasilan yang diterima.
Jauh yang lebih bermakna adalah melihat anak-anak mendapatkan nilai seratus di buku mereka atau saat mereka bangga akhirnya bisa menghitung angka sederhana. ‘’Saya takut ilmu yang saya dapatkan akan sia-sia jika tidak memberikan manfaat bagi orang lain," ujarnya.
Baca Juga: Beasiswa Mahasiswa Tuban Rp 2 Miliar Terancam Tak Disalurkan Tahun Ini, Ini Penyebabnya
Kini, tiga tahun sejak didirikan, bimbingan belajar tersebut telah diikuti sekitar 30 murid, mulai tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga kelas VI SD. Seluruh mata pelajaran diajarkan sendiri oleh Dinda setiap sore.
Kesibukan itu harus dijalaninya bersamaan dengan pekerjaan lain sebagai tenaga kebersihan di sejumlah masjid di Babat, Lamongan. Dia bekerja pada sif siang. Kemudian kembali mengajar pada sore hingga malam hari.
Rutinitas yang padat sesekali membuatnya kelelahan. Dia mengaku pernah meliburkan kelas karena merasa membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun, keputusan itu justru membuatnya merasa ada yang kurang.
"Jujur, saat itu bukan rasa senang yang saya dapatkan, tapi malah rumah terasa sunyi. Seperti ada yang hilang. Waktu istirahat itu justru membuat saya sadar kalau keberadaan anak-anak itu berharga," kata lulusan SMA Muhammadiyah Babat, Lamongan itu.
Pilihan hidup yang berbeda dari kebanyakan remaja seusianya tidak pernah dianggap sebagai beban. Ketika teman-temannya menghabiskan waktu untuk bersantai, Dinda memilih bekerja dan terus belajar.
"Saya tidak pernah malu melakukan hal yang berbeda, asalkan itu benar. Di saat orang lain bersenang-senang, saya sangat bersyukur sudah bisa menggapai pencapaian yang dulu hanya bisa saya impikan," tegasnya.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Selain aktif mengajar, Dinda meraih berbagai prestasi di bidang akademik dan nonakademik, mulai dari olimpiade matematika, kompetisi radio announcer, hingga program beasiswa.
Dia juga berkesempatan mengikuti International Scholarship Workshop di Malaysia, yang menjadi pengalaman pertamanya bepergian ke luar negeri.
Perjalanan itu berlanjut ketika dia diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Universitas Brawijaya Malang. Bagi Dinda, setiap pencapaian menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk terus bermimpi dan berkembang.
"Saya begitu mengingat potongan dari sebuah podcast yang saya dengarkan. Mimpi tidak pernah mati, dia hanya tertidur dan akan bangun dalam bentuk penyesalan jika tidak diusahakan," pungkasnya.(*/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban