RADARTUBAN - Di tengah masifnya arus digitalisasi dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kemampuan literasi dinilai tetap menjadi fondasi paling penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Literasi di era modern tidak lagi sekadar aktivitas membaca teks tertulis, melainkan kemampuan berpikir kritis untuk membaca situasi, memahami batasan etika, serta menyaring arus informasi di ruang digital secara bijak.
Kepala MAN 1 Tuban Fatah Yasin mengungkapkan, pesatnya kemajuan teknologi adalah hal yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun.
‘’Mau tidak mau, masyarakat, khususnya para pelajar yang masih dalam proses perkembangan dan mencari jati diri harus siap beradaptasi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Baca Juga: Berlin Cahya, Siswi MAN 1 Tuban yang Jatuh Cinta pada Dunia Jurnalistik
Kendati demikian, kata Yasin, panggilan akrabanya, adaptasi bukan berarti menelan mentah-mentah seluruh tren digital tanpa kontrol diri yang kuat. Melainkan tetap menyaring informasi yang diterima.
‘’Jika konsumsi media digital tidak kita batasi dengan bentengi dengan literasi, kita akan larut dalam arus globalisasi yang tidak memberikan ruang aman bagi penggunanya," tuturnya.
Pria 50 tahun ini menjelaskan, literasi dalam arti luas merupakan cikal bakal pembentuk etika dan kontrol diri di dunia maya. Teknologi modern seperti AI, diakuinya, hadir sebagai pendorong kreativitas dalam memecahkan masalah.
Namun, Yasin mengingatkan agar teknologi ini tidak dijadikan satu-satunya rujukan dalam mengambil keputusan.
Menurut dia, AI itu hanya alat bantu. Dalam teknologi itu tidak ada etika, tidak ada adat, sifatnya bukan hitam-putih.
‘’Kalau kita gantungkan sepenuhnya pada teknologi tanpa dipadukan dengan narasumber ilmiah dan pendapat para ahli, hasilnya tidak akan maksimal. Jangan sampai ketergantungan pada AI malah membuat kita malas mencari literatur yang sahih," tegas mantan Kepala MIN 1 Tuban ini.
Lebih lanjut, dia menekankan, bahwa pemahaman literasi digital juga mencakup kesadaran hukum dan penghormatan terhadap privasi orang lain saat berinteraksi di media sosial.
"Di ruang digital itu kita tidak bisa seenaknya sendiri. Ada regulasi seperti UU ITE yang harus kita hormati. Banyak anak-anak terjebak karena menginginkan kebebasan murni di media sosial, padahal mereka belum paham ada berbagai kepentingan di luar sana yang bisa merugikan mereka. Di situlah pentingnya benteng literasi," tambah lulusan Pondok Pesantren Manbail Futuh Jenu ini.
Untuk membentengi para siswa, Yasin menekankan bahwa pembentukan karakter digital yang bijak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Diperlukan sinergi yang kuat dari tiga pilar pendidikan, yakni sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
‘’Anak-anak usia madrasah ini emosinya masih belum stabil. Di sekolah kami berikan rambu-rambunya, di rumah ada pengawasan orang tua. Sinergi ini penting agar saat berinteraksi di masyarakat maupun di dunia digital, mereka tahu batasan mana yang harus disampaikan dan mana yang tidak," pungkas lulusan Unisla Lamongan ini. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban