RADARTUBAN - Di tengah riuk rendah gawai yang makin menyita perhatian anak muda, Sulthon Fatihurrahman Al-Hakim justru memilih jalan berbeda. Dia memanfaatkan kecintaannya pada dunia visual untuk menyuarakan pesan budaya melalui medium sinema.
Langkah Fatihurrahman di dunia sinematografi bukan berawal dari studio megah, melainkan dari kegemarannya menonton film dan bereksperimen dengan penyuntingan visual.
Rasa penasaran itu secara konsisten dia asah hingga membawanya melangkah ke dunia profesional sebagai videografer freelance.
"Awalnya hanya suka menonton dan visual editing. Namun, saya merasa hobi ini harus memberikan dampak positif dan prestasi, bukan sekadar kepuasan pribadi atau honor pekerjaan," ungkap remaja 17 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Dorongan untuk terus berkembang membawa pemuda berzodiak Libra ini memberanikan diri tampil di berbagai ajang kompetisi, salah satunya FLS3N 2026 tingkat SMA/SMK/MA se-Kabupaten Tuban.
Bersama timnya, Fatihurrahman melahirkan sebuah karya film pendek bertajuk "SAKA".
Diangkat dari tema Menumbuhkan Karakter Bangsa melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya, film "SAKA" menyentuh realitas sosial yang dekat dengan kehidupan remaja saat ini.
Mengisahkan seorang anak yang perlahan melupakan warisan budaya wayang milik ayahnya akibat ketergantungan pada gawai, Fatihurrahman menyelipkan pesan mendalam sekaligus mengajak generasi muda agar tidak kehilangan akar identitas budaya lokal di tengah gempuran modernisasi.
Proses kreatif film "SAKA" tidak melewati jalan yang serba mudah dan menuntut proses produksi maraton, mulai dari penulisan naskah, pengambilan gambar, hingga tahap penyuntingan akhir selama satu bulan.
"Sejauh ini memang menguras energi, tapi saya tetap di tujuan awal untuk mengimprove skill saya," imbuhnya.
Duduk di kelas 12 Madrasah Aliyah Negeri 1 Tuban dengan sistem full day school serta aktif berorganisasi membuat manajemen waktu menjadi tantangan utama.
“Harus membagi waktu antara sekolah, pekerjaan, pra produksi video seperti menulis naskah, hingga proses pengambilan gambar,” ujar Fatihurrahman.
Untuk membagi waktu, pemuda ini mengungkapkan, tugas sekolahnya dia selesaikan langsung di sekolah saat jam kosong atau sela-sela kegiatan.
Sementara untuk pekerjaan lepasnya sebagai seorang videographer dan proses pra-produksi, seperti penulisan naskah dan penyuntingan, dia kerjakan pada malam hari atau akhir pekan tanpa mengganggu jam belajar.
Sedangkan untuk proses pengambilan gambar, pemuda ini memanfaatkan waktu luang atau menggunakan izin maupun dispensasi dari sekolah ketika jadwal produksi berlangsung.
Di balik kepiawaiannya mengambil video dan mengelola waktu, Fatihurrahman sempat menceritakan, bahwa kedua orang tuanya sempat berharap dia melanjutkan studi di bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk menjadi seorang guru alih-alih menjadi seorang videographer.
“Meski awalnya sempat bingung tentang arah masa depan saya, alhamdulillah orang tua saya tetap memberikan ruang dan dukungan penuh terhadap minat saya di bidang sinematografi,” ujarnya.
Bagi Fatihurrahman, hasil akhir lomba hanyalah satu bab kecil dari perjalanan panjangnya. Meski keputusan juri belum menempatkan karyanya di posisi puncak, dia memilih melihat proses tersebut sebagai pengalaman belajar yang berharga.
"Alhamdulillah masih berada di posisi tiga saat lomba FLS3N 2026 ini, saya sangat bersyukur,” ungkapnya.
Ke depan, remaja yang menggemari kegiatan memancing dan bermain gitar ini bertekad untuk tidak berhenti pada ajang kompetisi sekolah saja.
Dia bahkan berencana terjun langsung ke industri produksi film professional untuk semakin memperdalam pemahaman teknis dan mengasah kemampuannya di lapangan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban