Berawal dari Limbah Siwalan, Siwa Board Karya Siswi SMAN 1 Tuban Sabet Juara 3 Tubernova 2026

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:20 WIB
Aurel, Namira, dan Regina siswi SMAN 1 Tuban Juara Terinovatif 3 Tubernova 2026 kategori Masyarakat Bidang Agribisnis dan Energi Baru Terbarukan. (Aureli Yumna Untuk Radar Tuban)
Aurel, Namira, dan Regina siswi SMAN 1 Tuban Juara Terinovatif 3 Tubernova 2026 kategori Masyarakat Bidang Agribisnis dan Energi Baru Terbarukan. (Aureli Yumna Untuk Radar Tuban)

RADARTUBAN - Kabupaten Tuban dikenal kaya akan hasil bumi dan lautnya. Sebagai daerah pesisir, hamparan pohon siwalan tumbuh subur dan tangkapan kerang hijau melimpah saban hari. 

Namun di balik kekayaan alam tersebut, tiga pelajar SMA Negeri 1 Tuban justru melihat persoalan yang tak kunjung usai, potensi lokal berupa sabut siwalan dan cangkang kerang hijau yang terbuang sia-sia tanpa dimanfaatkan dengan maksimal.

Gundukan sabut siwalan sisa dari pembelahan buah di lapak-lapak pedagang di Tasikmadu kerap menumpuk hingga dibakar begitu saja dan memicu polusi. Begitu pula dengan cangkang kerang hijau sisa olahan kuliner laut yang berakhir menjadi limbah keras yang mencemari lingkungan.

Baca Juga: Plaspori, Inovasi Paving Plastik Berpori Karya Siswi SMAN1 Tuban yang Juara Tubernova dan Dilirik Perusahaan Multinasional

Melihat melimpahnya bahan baku lokal yang tak tersentuh itu, Aureli Yumna Syahada, Namira Anindita Putri, dan Regina Sabela Alini Putri enggan tinggal diam. 

Mereka tergerak memanfaatkan potensi lokal tersebut menjadi karya yang memiliki nilai guna tinggi, yakni Siwa Board atau Siwalan Eco-Composite Board, sebuah inovasi plafon termoisolatif atau penahan panas. 

Inovasi berbasis kearifan lokal ini berhasil menghantarkan mereka meraih Juara Terinovatif 3 kategori Masyarakat bidang Agribisnis dan Energi Baru Terbarukan pada ajang Tubernoba Award 2026.

Langkah ketiga remaja ini menuju panggung juara sama sekali jauh dari kata mulus. Proses panjang pembuatan produk berbenturan langsung dengan padatnya aktivitas sekolah sebagai siswa kelas 12. 

Saat rekan-rekan sebayanya berfokus pada persiapan agenda studi kampus, fokus ketiganya harus terbelah antara tugas akademik dan jadwal eksperimen di laboratorium.

“Sebisa mungkin membagi waktu antara semuanya. Bahkan saat berangkat studi kampus, kami masih sempatkan untuk berdiskusi terkait inovasi kami ini,” ungkap Aurel mengawali percakapan dengan Jawa Pos Radar Tuban beberapa waktu lalu.

Tidak berhenti disitu, tantangan paling berat terasa tatkala mereka harus mengolah cangkang kerang hijau menjadi nano kalsium yang berfungsi sebagai bahan penguat struktur plafon.

Untuk mendapatkan partikel nano kalsium yang sempurna, cangkang keras tersebut harus melewati proses pembakaran pada suhu ekstrem hingga 700 derajat Celsius.

"Bukan sekadar ditumbuk, tapi harus dibakar. Pada waktu itu kami harus berhadapan dengan api yang panasnya sampai 700 derajat celsius. Karena emang untuk menghasilkan nano kalsium perlu proses yang harus dihaluskan dengan dibakar,” ujar Regina menjelaskan awal proses eksperimen itu.

Tanpa rasa gentar, mereka bertahan mengawasi proses pembakaran hingga kulit cangkang mengelupas dan memancarkan warna silver metallic sebagai tanda material nano kalsium siap dicampur dengan serat sabut siwalan.

Rangkaian uji coba yang memakan waktu satu bulan lebih itu kerap menguras energi dan emosi. Kegagalan demi kegagalan silih berganti menghampiri lantaran racikan komposisi yang belum pas. 

Setiap kali satu formula gagal, material yang digunakan langsung terbuang, memaksa mereka menyusuri kembali jalanan Tasikmadu untuk berburu limbah dari pedagang siwalan dan mengulang proses pengolahan dari awal.

"Pastinya kami butuh bahan-bahan yang banyak juga. Nah, dari situ kami harus beberapa kali mengambil limbahnya lagi, kemudian mengulangi prosesnya lagi. Jadi, semisal satu percobaan gagal, kami harus mengulang dari awal lagi," sambung Namira. 

Aturan ajang Tubernova yang mewajibkan pengumpulan full paper beserta bukti fisik pengujian produk membuat mereka harus bekerja ekstra keras. 

Demi menguji kekuatan mekanis dan kemampuan menahan panas, prototipe Siwa Board yang telah dibuat dengan susah payah bahkan harus dihancurkan dalam uji laboratorium.

"Kami juga melewati uji coba ketahanan yang menyebabkan prototip Siwa Board hancur. Jadi untuk produk kami sendiri itu kita fokuskan kepada uji ketahanan dan uji tahan panas," lanjut Regina menimpali.

Tantangan mereka tak berhenti di tahap pengolahan bahan untuk menjadi sebuah produk yang bernilai guna. Saat melangkah ke panggung presentasi pun rasa canggung sempat menyergap diantara ketiga dara muda ini.

Menjadi satu-satunya tim yang berseragam SMA di kategori masyarakat membuat mereka harus bersaing langsung dengan akademisi, peneliti senior, hingga peserta dari berbagai instansi yang memiliki pengalaman lebih banyak.

"Pasti ada rasa canggung dan minder, cuma ya tidak masalah. Kami tetap fokus dengan produk kami dan mempresentasikannya semaksimal mungkin," ujar Namira percaya diri.

Didampingi guru pembimbing, rasa minder itu berhasil dikesampingkan. Ketiganya berhasil tampil lugas dan membuktikan kelayakan ilmiah dari pemanfaatan potensi limbah lokal Tuban tersebut.

Ke depan, langkah trio inovator muda ini belum berhenti. Tiket menuju ajang yang lebih besar sudah berada di tangan. Namun bagi mereka, muara utama dari inovasi ini adalah memberi dampak nyata bagi daerah asal.

"Harapannya kami itu bisa diproduksi masal. Selain itu juga untuk pemberdayaan masyarakat juga. Mungkin bisa kerja sama sama perusahaan-perusahaan yang bekerja di bidang infrastruktur,” tutur Regina.

“Betul, sehingga nantinya produk kami yang memanfaatkan limbah lokal ini dapat diproduksi secara masal seperti plafon konvensional," pungkas Aurel menutup pembicaraan. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban
siwa board tubernova award 2026 siwalan SMAN 1 Tuban