Belajar Otodidak Tanpa Perangkat Mewah, Remaja Asal Tuban Raih 15 Sertifikat Keamanan Siber

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 16:17 WIB
M. Rafka Brian Syahputra, remaja berprestasi di bidang cyber security. (Rafka Brian Untuk Radar Tuban)
M. Rafka Brian Syahputra, remaja berprestasi di bidang cyber security. (Rafka Brian Untuk Radar Tuban)

RADARTUBAN - Di balik layar ponsel cerdas Android sederhana yang biasa digunakan anak-anak seusianya untuk bermain game, Muhammad Rafka Brian Syahputra melampaui keterbatasan hidupnya. 

Remaja 15 tahun ini berhasil membuktikan bahwa ketiadaan fasilitas mewah bukan alasan untuk berhenti mengejar mimpi. Bahkan di bidang cyber security (keamanan siber) yang tergolong rumit dan canggih.

Kisah perjuangannya bermula dari langkah kecil nan sunyi saat masih duduk di kelas 5 SD, Rafka jatuh cinta pada dunia pemrograman. Tanpa laptop pribadi, tanpa komputer meja (PC), dan tanpa bimbingan seorang mentor pun, dia melangkah sendirian. 

Bermodalkan rasa ingin tahu yang membuncah, remaja asal Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban ini menjadikan YouTube sebagai sekolahnya dan layar ponsel genggam sebagai kanvasnya.

Perjalanannya tidak instan. Dua tahun pertama dihabiskannya dalam kesunyian hanya untuk memahami konsep-konsep paling dasar dari dunia keamanan siber. 

Tanpa ada yang menuntun, dia terus meraba dan mengeja baris-baris kode teknis saban hari. Baru setelah pondasi dasarnya cukup kuat, dia memberanikan diri naik level untuk mencari kerentanan sistem yang nyata.

Baca Juga: Kisah Lefhia Ayu Adinda: Anak Petani Tuban yang Buka Les Rp 2 Ribu untuk Kuliah di Universitas Brawijaya

"Saya belajar otodidak. Awalnya tertarik dari game, terus kenal teman-teman komunitas online dan sering nonton tutorial di YouTube. Iseng-iseng coba, ternyata bisa," tutur Rafka kepada Jawa Pos Radar Tuban, Selasa (25/8).

Di tengah gempuran keterbatasan perangkat, siswi SMPN 2 Tuban ini tak menyerah. Lewat aplikasi terminal sederhana seperti Termux yang dipasang di ponsel Android-nya, jemarinya yang lincah menelusuri baris-baris kode (coding) yang rumit. 

Saat anak-anak lain menikmati kemudahan perangkat canggih, Rafka harus bergelut dengan keterbatasan layar kecil ponselnya untuk memahami algoritma dan celah kerentanan (vulnerability) sistem keamanan website.

Ketekunan yang ditempa secara mandiri itu akhirnya membuah hasil manis. Alih-alih tergiur menggunakan keahliannya untuk tindakan merugikan, nurani Rafka membimbingnya menjadi white hat hacker atau peretas beretika.

Dengan penuh kepedulian, dia melaporkan setiap celah bahaya yang ditemukannya di situs-situs pemerintah kepada lembaga resmi CSIRT (Computer Security Incident Response Team), untuk menyelamatkan banyak data publik dari ancaman peretasan jahat. 

Buah dari perjuangan panjang tanpa perangkat mumpuni itu kini terwujud dalam 15 sertifikat penghargaan resmi. 

Lembaga-lembaga besar seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pemkot Denpasar, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Pusat Siber TNI AD, hingga pemerintah Kabupaten Tuban memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi remaja ini.

Namun, di balik tumpukan sertifikat yang tersimpan rapi tersebut, ada keharuan tersendiri. 

Kedua orang tuanya bahkan belum tahu betapa hebat perjuangan sang anak di luar rumah. Lulusan SDN Kingking 1 Tuban ini memilih menyimpan cerita perjuangannya rapat-rapat, membiarkan prestasinya tumbuh diam-diam.

"Orang tua belum tahu, sengaja biar tidak tahu dulu. Kalau guru-guru dan teman-teman di sekolah sebagian besar sudah tahu karena sempat disebar," ungkapnya polos.

Saat ditanya tentang impiannya memiliki PC sendiri agar bisa belajar lebih maksimal, tatapan matanya tetap tegar meski menyirat kerinduan akan fasilitas yang lebih layak. 

"Inginnya punya PC, cuma dananya enggak ada," ucapnya lirih, tanpa sedikit pun nada menyesal.

Semangat Rafka menjadi inspirasi, bahwa keterbatasan alat tak pernah mampu memadamkan nyala tekad untuk belajar. 

Dari sebuah ponsel Android sederhana di sudut Tuban, seorang remaja SMP telah membuktikan bahwa ilmu, etika, dan kegigihan sanggup menembus batas-batas ketidakmungkinan. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
Sumber : Radar Tuban
cyber security sistem keamanan web vulnerability keamanan siber