RADARTUBAN - Anggapan bahwa profesi peternak identik dengan pekerjaan kotor dan dipandang sebelah mata berhasil dipatahkan oleh Mila Arlinda.
Pemilik usaha peternakan "Kerabat Ternak" yang berlokasi di Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini sukses membuktikan bahwa sektor peternakan mampu mencetak omzet hingga Rp 700 juta.
Perjalanan Mila di dunia peternakan bermula dari kecintaannya pada hewan sejak di bangku sekolah.
Pada tahun 2014, saat masih duduk di kelas 2 SMA, ia nekat mengawali usaha dengan bermodalkan lima ekor domba hasil tabungannya.
Langkah tersebut dilanjutkan dengan menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta hingga lulus pada tahun 2020.
Baca Juga: Sektor Peternakan Dinilai Lemah Tanpa Payung Hukum dan Transparansi Menurut Jafrizal
Mila mengaku tantangan terbesar dalam hidupnya bukanlah saat memulai bisnis, melainkan ketika meyakinkan orang tua dan lingkungan sekitar saat memilih jurusan peternakan. Namun, keraguan tersebut dijadikan pemantik motivasi untuk terus membuktikan prospek cerah di industri ini.
Selama masa kuliah, Mila aktif mempraktikkan teori akademis di kandang miliknya, berkonsultasi dengan para dosen, serta bersilaturahmi melintasi berbagai daerah guna menyerap ilmu lapangan dari para peternak senior.
Setelah lulus pada tahun 2020, Mila berfokus penuh mengembangkan Kerabat Ternak. Kini, usahanya telah berkembang pesat hingga memiliki tiga cabang kandang dengan berbagai unit bisnis, meliputi penyediaan kambing kurban, akikah, pembibitan, produksi susu kambing perah, kambing kontes, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak) di platform marketplace.
Untuk menopang kebutuhan pakan, ia menyuplai pakan hijau dari lahan seluas 1,5 hektar serta memanfaatkan ampas tahu dan kangkung kering sebagai pakan penguat.
Dalam hal manajemen ternak, Mila mengedepankan tiga kunci utama kebersihan dan kenyamanan, pakan bernutrisi, lingkungan bersih, serta kenyamanan hewan.
Ia sengaja memilih material seperti kayu jati dan kayu waru untuk alas geladak dibandingkan besi. Alasan utamanya adalah kayu lebih ekonomis, estetik, dan tidak mudah berkarat akibat paparan urin kambing.
Selain itu, kebersihan kandang dijaga dengan rutin mengepel lantai kayu dan mengeringkannya menggunakan metode pemakaran khusus guna mencegah kelembapan yang memicu penyakit kulit seperti gudik atau jamur.
Mila juga menerapkan pola pemeliharaan ketat. Kambing kategori kontes dimandikan secara berkala setiap tiga hari sekali, sedangkan jenis perah dan pembibitan dimandikan sepekan sekali.
Proses pemandian wajib dilakukan di luar kandang dan pengeringan dibantu sinar matahari atau blower agar ternak benar-benar kering sebelum kembali ke kandang.
Meski kini sukses meraup omzet harian/bulanan puluhan juta rupiah dan mencapai puncak omzet Rp 500 juta hingga Rp 700 juta saat musim kurban, perjalanan Mila tak lepas dari kerugian.
Baca Juga: Investor Hendak Dirikan Peternakan Babi Rp 10 Triliun di Jepara, MUI Jateng Fatwakan Haram
Dari ratusan kasus kematian ternak yang pernah ia alami sejak 2014, Mila menjadikannya sarana evaluasi dengan melakukan bedah bangkai (nekropsi) guna mempelajari penyebab infeksi atau penyakit.
Sejak tahun 2023, Mila juga aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi bagi peternak pemula di seluruh Indonesia.
Melalui konten-kontennya, ia membagikan ilmu manajemen perawatan secara transparan untuk mengubah pola pikir masyarakat bahwa peternakan merupakan bisnis yang prospektif jika dikelola secara ahli dan profesional.
"Carilah passion dan jadilah ahlinya. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang ahli. Ketika kita menjadi ahli di bidangnya, mencari rezeki itu sangat mudah," ungkap Mila Arlinda dalam wawancara di kanal YouTube Susun Strategi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni