RADARTUBAN - Komoditas vanili kini semakin dilirik sebagai salah satu peluang usaha pertanian bernilai ekonomi tinggi. Dijuluki sebagai "emas hijau", budidaya tanaman merambat ini tidak hanya menjanjikan keuntungan finansial, tetapi juga fleksibel karena dapat ditanam di pekarangan rumah tanpa memerlukan lahan yang luas.
Pengusaha sekaligus penggiat vanili asal Kebon Kliwon, Magelang, Mukhairus Saleh, mengungkapkan bahwa peluang ekspor vanili Indonesia ke pasar internasional masih terbuka sangat lebar.
Pasalnya, hingga saat ini pasokan vanili global belum mampu memenuhi total permintaan pasar dunia.
Kebutuhan vanili internasional saat ini hampir mencapai 10.000 ton per tahun, dengan Madagaskar menyumbang sekitar 3.000 hingga 4.000 ton, sementara Indonesia baru mengontribusi kurang dari 500 ton per tahun.
"Kebutuhan dunia itu belum tercukupi, masih ada kekurangan pasokan sekitar 50 sampai 60 persen. Vanili ini sangat menguntungkan karena tidak butuh lahan luas dan setelah dipanen tidak terburu-buru harus langsung dijual, jadi bisa disimpan untuk tabungan," ujar Mukhairus saat menjelaskan potensi komoditas tersebut.
Meskipun harga vanili kering dapat menembus angka jutaan rupiah per kilogram di tingkat petani, Mukhairus menekankan pentingnya menjaga kualitas secara konsisten.
Pasar ekspor Eropa maupun Amerika menetapkan kriteria kualitas yang sangat ketat untuk vanili kering. Secara fisik, buah vanili harus memiliki panjang polong minimal di atas 17 cm, kadar air dijaga pada rentang 25 persen hingga 35 persen, kadar vanilin di atas 2 persen, serta benar-benar bebas dari residu pestisida berbahaya.
Untuk mencapai standar tersebut, penanganan pascapanen memegang peranan hingga 70 persen dalam menentukan kualitas akhir.
Proses pengolahannya meliputi pemetikan buah tua pada umur 8 hingga 9 bulan, pencelupan air panas, fermentasi, pengeringan secara bertahap, hingga tahap pemeraman (conditioning) selama beberapa bulan.
Guna memenuhi kuota ekspor dalam jumlah besar dan berkelanjutan, Mukhairus memilih merangkul dan mengedukasi para petani pemula melalui pembentukan kelompok tani agar pola tanam hingga pascapanen dapat tersertifikasi sesuai standar pembeli ekspor.
"Kalau kita jalan sendiri-sendiri untuk kirim 1 ton per bulan itu susah sekali. Tapi kalau kita berkolaborasi dengan memanfaatkan pekarangan rumah ukuran 5x10 meter yang muat 10 sampai 20 tanaman, satu desa bergerak bersama bisa menjadi klaster ekonomi yang sangat kuat," tambahnya.
Melalui edukasi intensif dan skema penyerapan hasil panen ini, Mukhairus berharap kesejahteraan petani lokal dapat meningkat sekaligus mengembalikan kejayaan vanili Indonesia di kancah dunia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni