RADARTUBAN - Di balik mikrofon siaran yang menjadi pekerjaan sehari-harinya, Nur Hasanah atau yang akrab disapa Hasna telah terbiasa menyapa ribuan pendengar setiap hari.
Namun, perempuan 26 tahun ini menyadari sebuah kenyataan yang kerap luput dari perhatian, di luar studio siaran, ada begitu banyak orang yang sebenarnya memiliki gagasan luar biasa, tetapi gagasan itu terkunci rapat karena mereka takut bersuara.
Pengalaman selama lima tahun berkecimpung di dunia komunikasi dan menyambangi berbagai sekolah mengusik hatinya.
Hasna melihat secara langsung bagaimana rasa canggung, ketakutan dinilai orang lain, dan minimnya wadah berlatih menjadi tembok besar bagi masyarakat Tuban untuk mengekspresikan diri.
Gelisah dengan kondisi tersebut, Hasna merajut sebuah gagasan dengan mendirikan Komunitas Nala Wicara.
Dia memimpikan sebuah ruang yang hangat dan inklusif, bukan kelas pidato yang kaku atau menggurui, melainkan tempat aman bagi siapa saja untuk belajar merangkai kata dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Baca Juga: Awalnya Dicibir, Renita Ardiyanti Buktikan Jejak Lestari Rengel Jadi Gerakan Inspiratif Pemuda Desa
"Komunitas ini lahir sebagai wadah bertumbuh bersama bagi masyarakat Tuban yang ingin belajar public speaking maupun teknik menyampaikan pesan dengan baik," tutur Hasna.
Nama Nala Wicara sendiri membawa rasa dan harapan yang mendalam. Mengusung motto “Berproses dari Hati, Bertumbuh Lewat Komunikasi,”, wadah ini dirancang agar setiap proses belajar bertumpu pada empati dan kejujuran rasa, sehingga pesan yang disampaikan bukan sekadar lantang di bibir, tetapi juga menyentuh hati pendengarnya.
Mimpi Hasna itu mulai menemukan wujud nyatanya dalam momentum peluncuran komunitas bertajuk “Mari Bertumbuh Bersama.”
Berkolaborasi dengan Komunitas Baca Bareng Tuban, acara peluncuran yang digelar di Aula Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Tuban ini berhasil merangkul 33 peserta dari latar belakang yang sangat beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, pendidik, karyawan, hingga ibu rumah tangga.
Kehangatan wadah yang diciptakan Hasna langsung terasa saat sesi latihan berlangsung. Peserta diajak mengambil satu kata acak, lalu secara spontan mengubahnya menjadi cerita pendek di depan peserta lain. Tidak ada penghakiman, hanya tepuk tangan hangat dan saling dukung.
Bagi salah seorang peserta seperti Bella, seorang ibu rumah tangga, keberadaan Nala Wicara memberi ruang bernapas yang baru. Di tengah rutinitas harian, dia menemukan tempat di mana suaranya didengar dan dihargai, sekaligus memberinya kesempatan melatih diri dan menambah relasi.
Sementara itu, Tri Mei Apta Arjanti, seorang pendidik dari Griya Ahe Ronggomulyo menilai, inisiatif Hasna sebagai angin segar yang sangat dibutuhkan anak muda Tuban untuk mengasah potensi diri.
Langkah awal yang diinisiasi Hasna ini juga mendapat sambutan hangat dari pihak perpustakaan daerah, baik dari pustakawan yang hadir meresmikan sesi awal hingga Kepala Bidang Perpustakaan Kabupaten Tuban, Masykuri.
Kehadiran Nala Wicara dipandang sebagai penggerak ekosistem literasi yang menyatukan kebiasaan membaca dengan keberanian bertutur.
Peluncuran ini hanyalah langkah pertama. Hasna berkomitmen menjaga nyala komunitas ini dengan menyelenggarakan kegiatan edukatif rutin setiap bulan.
Dari mimpi seorang penyiar muda, Komunitas Nala Wicara kini telah resmi mengudara menjadi rumah bagi warga Tuban yang ingin saling merangkul, mengikis rasa gugup, dan bertumbuh bersama lewat kekuatan kata-kata. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban