RADARTUBAN - Sinar matahari pagi belum terlalu terik ketika derap langkah dan napas yang terengah-engah memecah suasana Lapangan Mondokan, Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban.
Di jam-jam ketika lorong sekolah biasanya dipenuhi hilir mudik siswa yang menuju ruang kelas, para pemain dari SMAN 4 justru sudah berada di tengah lapangan, memeras keringat dengan seragam olahraganya.
Demi menyiasati mepetnya waktu persiapan turnamen Bahlil Mini Soccer, mereka memilih menukar sebagian jam pelajaran pagi dengan materi taktik dan olah fisik di bawah terik tipis matahari pagi setiap harinya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bertanding! 5 Tim Tuban Bidik Tiket Grand Final Bahlil Mini Soccer
Persiapan menuju turnamen bergengsi ini bukanlah jalan yang lapang tanpa hambatan. Pengumuman turnamen yang terbilang mendadak memaksa tim pelatih dan para pemain memutar otak.
Latihan reguler di sore hari yang biasa dilakukan menjadi hampir mustahil diwujudkan secara utuh.
Pasalnya, sebagian besar pilar utama tim merupakan siswa kelas 12 yang tengah dihadapkan pada krusialnya persiapan akademis dan jadwal bimbingan belajar yang padat.
Menembus Keterbatasan Waktu
Pelatih tim SMAN 4, Ricky Bayu Setyayuda mengungkapkan, bagaimana rumitnya menyelaraskan ritme antara kewajiban belajar dan gairah berolahraga.
Komunikasi menjadi tantangan terbesar ketika jadwal les sore anak-anak kelas 12 kerap berbenturan dengan waktu latihan tim.
"Kendalanya mungkin komunikasi ya, karena beberapa anak kan ada yang siswa kelas 12. Rata-rata anak kelas 12 itu masih ada yang les di sore hari, jadi kita tidak bisa kumpul secara keseluruhan," ungkap Ricky pada Jawa Pos Radar Tuban melalui sambungan telepon, Selasa (8/9).
Namun, keterbatasan tersebut tidak melunturkan semangat para siswa.
Demi menyiasati bentroknya jadwal sore, anak-anak berinisiatif mengajukan izin khusus untuk berlatih di pagi hari pada jam sekolah.
Dukungan penuh pun mengalir dari pihak sekolah dan para guru. Permohonan izin diberikan dengan pemahaman bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang olah fisik, melainkan penempaan mental dan karakter.
Semangat pantang menyerah ini kian berkobar berkat dukungan penuh dari pihak penyelenggara dan DPD Partai Golkar.
Merajut Kebersamaan di Lapangan Mondokan
Kerja sama erat juga terjalin dengan warga lokal. Tim SMAN 4 memanfaatkan Lapangan Mondokan sebagai markas latihan mereka.
Kehadiran para siswa di lapangan desa menciptakan kehangatan tersendiri, sebuah sinergi manis antara dunia pendidikan sekolah dan masyarakat sekitar yang mendukung tumbuh kembang bakat muda.
Membawa skuad berisi 17 pemain, terdiri dari 7 pemain utama dan 10 pemain cadangan dalam format mini soccer 7-lawan-7, Ricky tetap bersikap realistis.
Meskipun awalnya sempat mematok target hingga partai puncak, pembagian peta kekuatan setelah sesi drawing membuat target disesuaikan secara rasional menuju babak semifinal, di mana tantangan berat dari sekolah-sekolah rival telah menanti.
Lebih dari Sekadar Kemenangan
Bagi Ricky dan anak-anak asuhnya, Bahlil Mini Soccer bukan sekadar tentang mengangkat piala atau mencetak gol terbanyak. Lebih dalam dari itu, panggung mini soccer ini adalah wadah pembentukan jiwa sportivitas dan ruang bersosialisasi yang positif bagi generasi muda.
"Harapannya, kegiatan ini menjadi kegiatan positif anak-anak, untuk suporter juga tidak terjadi kerusuhan, menambah silaturahmi para pemain dengan sekolah-sekolah lain," tuturnya menutup pembicaraan.
Peluit pertandingan mungkin belum dibunyikan, tetapi bagi skuad SMAN 4, kemenangan sejati telah mereka raih saat mampu menyatukan langkah di tengah segala keterbatasan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Tuban